Salat Duha Jadi Instrumen Penguatan Psikologis Penyandang Tunadaksa
*Ini Temuan Disertasi Dirut RSI Sultan Agung Semarang
METROJATENG.COM, PURWOKERTO- Penyandang tunadaksa kerap menghadapi kerentanan psikologis akibat keterbatasan fisik dan stigma sosial yang berdampak pada rendahnya penerimaan diri. Pendekatan spiritual melalui pelaksanaan salat Duha secara rutin dinilai mampu menjadi instrumen penguatan psikologis dan meningkatkan self-compassion bagi penyandang tunadaksa.
Temuan tersebut disampaikan Direktur Utama Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung Semarang, dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQua, saat mempertahankan disertasinya dalam Ujian Terbuka Promosi Program Doktor Program Studi Islam Pascasarjana UIN Prof. KH. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Kamis (2/7/2026). Pada kesempatan itu, Agus resmi menyandang gelar doktor ke-91 yang diluluskan Program Studi Islam Pascasarjana UIN Saizu.
Disertasi yang diangkat berjudul “Pelaksanaan Salat Duha dalam Penguatan Self-Compassion pada Penyandang Tunadaksa (Studi Kasus di Komunitas The Plegia Banjarnegara).” Penelitian tersebut mengkaji bagaimana internalisasi nilai-nilai spiritual dalam salat Duha mampu membantu penyandang tunadaksa menerima kondisi dirinya, mengelola emosi, serta membangun kehidupan yang lebih optimistis dan produktif.
Sidang promosi dipimpin Prof. Dr. H. Moh. Roqib, M.Ag selaku Ketua Sidang sekaligus penguji, didampingi Dr. Novan Ardy Wiyani, M.Pd.I. sebagai Sekretaris Sidang. Agus dibimbing Prof. Dr. H. Giyoto, M.Hum sebagai Promotor dan Dr. H. A. Luthfi Hamidi, M.Ag sebagai Co-Promotor.
Dewan penguji lainnya terdiri atas Prof. Dr. H. Suwito, M.Ag selaku Penguji I, Dr. H. Alatik, M.Ag sebagai Penguji II, serta Prof. Dr. H. Sunhaji, M.Ag sebagai Penguji III. Seluruh tim penguji memberikan pendalaman terhadap substansi penelitian, metodologi, hingga kontribusi ilmiah disertasi terhadap pengembangan kajian Islam dan psikologi.
Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif di Komunitas The Plegia Banjarnegara dengan melibatkan penyandang tunadaksa yang aktif melaksanakan salat Duha. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman.
Hasil penelitian menunjukkan, sebelum rutin melaksanakan salat Duha, sebagian besar subjek penelitian memiliki tingkat self-compassion yang rendah. Kondisi tersebut ditandai dengan dominannya sikap menyalahkan diri sendiri (self-judgment), merasa terasing (isolation), dan larut dalam persoalan yang dihadapi (over-identification).
Namun setelah membiasakan salat Duha secara konsisten, terjadi perubahan signifikan berupa meningkatnya sikap menyayangi diri sendiri (self-kindness), kesadaran bahwa setiap manusia memiliki keterbatasan (common humanity), serta kemampuan mengelola pikiran dan emosi secara lebih bijaksana (mindfulness). Perubahan tersebut juga diikuti meningkatnya rasa syukur, kepercayaan diri, optimisme, kemampuan mengendalikan emosi, hingga keberanian menjalani kehidupan yang lebih produktif sesuai kemampuan masing-masing.
Penelitian juga menemukan bahwa internalisasi nilai-nilai salat Duha berlangsung melalui tahapan pengenalan, pemahaman, penghayatan, dan integrasi dalam kehidupan sehari-hari. Proses tersebut menghasilkan transformasi pada aspek kognitif, afektif, spiritual, dan perilaku penyandang tunadaksa.
Dalam disertasinya, Agus menjelaskan salat Duha tidak hanya menjadi ritual ibadah sunnah, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen penguatan psikospiritual melalui kerangka Spiritual Agency Integration (SAI). Kerangka tersebut mengintegrasikan kesadaran spiritual, refleksi diri, regulasi emosi, serta pembentukan makna hidup sehingga mampu memperkuat self-compassion dan meningkatkan kesejahteraan psikologis penyandang tunadaksa.
Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pengembangan model pendampingan psikospiritual bagi penyandang disabilitas di Indonesia. Selain memperkaya khazanah keilmuan Islam, hasil penelitian tersebut juga membuka peluang penerapan pendekatan spiritual sebagai bagian dari upaya pemberdayaan dan peningkatan kualitas hidup penyandang tunadaksa.(ris)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.