Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Tak Hanya Tentang Gizi, Mahasiswa UNDIP Gunakan Pendekatan Psikologi untuk Cegah Stunting di Desa Lumbung Kerep

METROJATENG.COM, KLATEN – Mencegah stunting perlu dilakukan sejak dini, bahkan sebelum anak lahir. Selain memastikan kebutuhan gizi terpenuhi, calon orang tua juga perlu memahami pola asuh, pembentukan kebiasaan, serta pentingnya dukungan keluarga dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Pesan tersebut disampaikan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro (UNDIP), Humam Dzaki Abhipraya, saat memberikan psikoedukasi kepada ibu hamil di Desa Lumbung Kerep, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten.

Kegiatan bertajuk “Psikoedukasi: Menciptakan Anak Sehat dan Bebas Stunting” itu digelar di PKD Lumbung Kerep, belum lama ini  bertepatan dengan kegiatan Kelas Ibu Hamil. Kegiatan ini juga mendapat dukungan Bidan Desa Lumbung Kerep, Gumrining Titi Utami.

Humam mengajak peserta memahami, pencegahan stunting tidak dapat dilepaskan dari perilaku dan lingkungan tempat anak tumbuh.

“Kami ingin memberikan pemahaman, bahwa pencegahan stunting tidak berhenti pada persoalan gizi. Bagaimana orang tua membentuk kebiasaan anak dan bagaimana keluarga memberikan dukungan juga sangat penting,” kata Humam.

Pada  kegiatan tersebut, peserta terlebih dahulu mendapatkan pemahaman mengenai stunting, mulai dari pengertian, penyebab, hingga dampaknya terhadap perkembangan anak, termasuk aspek psikologis. Usai memberikan pemahanan apa itu stunting, Humam selanjutnya  memperkenalkan sejumlah konsep psikologi yang dapat diterapkan dalam kehidupan keluarga.

Salah satunya adalah Social Learning Theory, yang menjelaskan bahwa anak belajar melalui pengamatan dan peniruan. Karena itu, kebiasaan orang tua menjadi contoh yang dapat memengaruhi perilaku anak.

“Anak akan banyak belajar dari apa yang mereka lihat. Karena itu, orang tua perlu menjadi role model dalam menerapkan kebiasaan makan dan pola hidup yang sehat,” ujarnya.

Peserta juga dikenalkan dengan Operant Conditioning, sebuah konsep yang dapat digunakan untuk membantu membentuk perilaku positif anak. Orang tua dapat memberikan penguatan ketika anak menunjukkan kebiasaan baik, sehingga perilaku tersebut dapat berkembang secara bertahap.

Selain membangun kebiasaan, faktor keluarga juga menjadi perhatian. Melalui konsep Family Resilience, Humam menjelaskan pentingnya kemampuan keluarga untuk saling mendukung ketika menghadapi berbagai tantangan dalam pengasuhan.

“Ibu hamil maupun ibu yang sudah memiliki anak membutuhkan support system. Ketika keluarga saling mendukung, proses pengasuhan menjadi lebih kuat dan ibu tidak merasa menghadapi semuanya sendirian,” tuturnya.

CEGAH STUNTING – Bidan Desa Lumbung Kerep, Gumrining Titi Utami, tengah memberikan pengetahuan dan pemahaman Kepada ibu hamil di desa Lumbung Kerep, bagaimana mencegah stunting sejak dini. (ist/redmetrojateng)

 

Bidan Desa Lumbung Kerep, Gumrining Titi Utami, menilai edukasi bagi ibu hamil penting dilakukan secara berkelanjutan. Menurutnya, masa kehamilan merupakan momentum untuk mempersiapkan ibu dan keluarga sebelum memasuki tahap pengasuhan anak.

“Edukasi seperti ini membantu ibu hamil mendapatkan tambahan pengetahuan. Tidak hanya mengenai kehamilan, tetapi juga persiapan menghadapi tumbuh kembang anak setelah lahir,” kata Gumrining.

Ia menambahkan, keterlibatan keluarga menjadi salah satu hal yang tidak kalah penting.

“Kesehatan ibu dan anak merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, dukungan suami dan keluarga sangat diperlukan agar ibu dapat menjalani kehamilan dan pengasuhan dengan lebih baik,” ujarnya.

Kegiatan berlangsung sederhana namun interaktif. Setelah mengikuti Kelas Ibu Hamil sekitar 30 menit, peserta mengikuti sesi psikoedukasi yang diawali dengan pembagian modul, dan pemberian materi sekitar 10 menit. Para ibu hamil mengikuti penjelasan materi  sambil membaca modul yang telah dibagikan.

Meski singkat, kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan perspektif baru kepada calon ibu mengenai pentingnya pencegahan stunting dari sisi psikologi.

Humam berharap pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam membangun kebiasaan makan sehat dan menciptakan lingkungan keluarga yang mendukung tumbuh kembang anak.

“Harapannya, para calon ibu tidak hanya mengetahui apa itu stunting, tetapi juga memahami langkah sederhana yang bisa dilakukan di rumah untuk mencegahnya. Mulai dari memberikan contoh, membangun kebiasaan positif, sampai memastikan anak mendapatkan dukungan dari keluarga,” pungkas Humam.

Upaya tersebut menunjukkan bahwa pencegahan stunting membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Pemenuhan gizi tetap penting, tetapi ketika dipadukan dengan pola asuh yang tepat, kesehatan mental ibu, dan dukungan keluarga, upaya menciptakan generasi sehat dapat dimulai lebih kuat sejak dari rumah. (*)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.