Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Irwan Hidayat Terima Prasasta Windu Bhakti, Ungkap Filosofi Sederhana Bangun Usaha

Produk Harus Baik dan Maju Itu Kunci Suksesnya

METROJATENG.COM, SEMARANG – membangun usaha hingga bertahan selama puluhan tahun , tidak selalu dibutuhkan teori bisnis yang rumit. Bagi Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Dr (HC) Irwan Hidayat, perjalanan panjang membangun usaha justru banyak ditempa dari pengalaman, keberanian belajar, dan satu kebiasaan sederhana:, yakni meniru hal-hal yang dinilai baik.

Pengalaman tersebut ia ceritakan saat menerima Prasasta Gala Award kategori Lifetime Achievement Prasasta Sapta Windu Bhakti, yang diselenggarakan Universitas Semarang (USM) dalam rangka Dies Natalis ke-39 di Semarang, Kamis (24/9) malam.

Irwan mengaku, pada sekitar 15 tahun pertama perjalanan kariernya, ia masih mencari cara untuk mengembangkan usaha.

“Selama 15 tahun pertama saya tidak tahu bagaimana mesti melakukan. Lalu saya meniru cara kerja perusahaan farmasi. Saya pikir yang saya tiru itu baik, saya lakukan, ternyata berhasil. Jadi meniru memang bagus,” ujarnya.

Bagi Irwan, belajar tidak selalu harus datang dari ruang pendidikan formal. Pengalaman sehari-hari dan apa yang dilihat dari orang lain juga dapat menjadi sumber pengetahuan.

Ia bahkan bercerita bahwa dirinya bukan orang yang gemar membaca buku-buku bisnis.

“Pendidikan formal saya mungkin tidak mencukupi. Saya juga tidak pernah membaca buku. Saya bacanya komik, seperti Mahabharata, Petruk, Gareng. Tapi di situ banyak pelajaran,” tuturnya.

Dari pengalaman puluhan tahun tersebut, Irwan kemudian menemukan prinsip yang terus ia pegang dalam menjalankan usaha: produk harus harus baik, maju, manjur dan menjadi perhatian utama.

Menurut dia, usaha akan memiliki kesempatan berkembang apabila produk yang dihasilkan terus diperbaiki, aman dan memberikan manfaat bagi konsumen.

“Kalau sebuah usaha mau maju, produknya harus maju dan baik. Itu saja kuncinya. Produk harus lebih baik, manjur, harus aman,” katanya.

Ia juga memiliki cara sederhana untuk menentukan standar produk. Irwan mencoba menempatkan dirinya sebagai konsumen.

“Bagaimana supaya orang percaya? Saya ingin minum obat, ya saya kepengin obat yang baik. Saya ingin di hotel, bagaimana hotel yang baik, yang bersih dan harganya tidak mahal-mahal,” ujarnya.

Dari sana, ia menerapkan prinsip memperlakukan konsumen sebagaimana dirinya ingin diperlakukan.

“Pokoknya saya ingin memperlakukan orang seperti saya ingin diperlakukan,” katanya.

Penghargaan sebagai Penyemangat

Irwan menyebut penghargaan yang diterimanya memiliki arti penting karena dapat menjadi pemacu seseorang untuk terus berkarya.

“Setiap pemberian penghargaan itu sangat baik. Penghargaan yang baik mendorong orang untuk bekerja lebih baik lagi dan lebih berprestasi,” katanya.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada USM yang memberikan penghargaan tersebut.

Menurutnya, penghargaan sekaligus menjadi momentum untuk memberikan semangat kepada institusi pendidikan yang terus berkembang.

“Saya sangat berterima kasih kepada Universitas Semarang yang telah memberikan penghargaan. Saya doakan universitas yang hari ini merayakan Dies Natalis ke-39 tambah maju, tambah bermanfaat, dan semakin banyak mahasiswa yang mendaftar,” tuturnya.

USM Perkuat Kolaborasi

Rektor USM Prof Dr Supari mengatakan, Prasasta Gala Award dirancang bukan sekadar sebagai seremoni penghargaan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan pengalaman para tokoh dengan gagasan dan semangat generasi masa depan.

“Ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah pertemuan antara masa lalu yang telah membangun pondasi dan masa depan yang tengah kita rajut bersama,” kata Supari.

Menurut dia, penghargaan diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap tokoh-tokoh yang telah memberikan kontribusi di berbagai bidang.

Supari menegaskan, kerja keras, integritas dan inovasi merupakan nilai yang penting untuk terus ditumbuhkan dan diapresiasi.

“Kita menegaskan bahwa kerja keras, integritas dan inovasi layak mendapat panggung dan rekognisi. Kami percaya, bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu cara menghargai putra-putri terbaiknya,” ujarnya.

Memasuki usia ke-39, USM juga ingin memperluas peran kampus agar semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat dan dunia nyata.

“Perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada ruang-ruang kelas. Kampus harus menjadi ruang tamu antara ilmu dan praktik, antara gagasan dan kebijakan, antara akademisi dan dunia nyata,” tegasnya.

Supari berharap momentum Dies Natalis ke-39 dan Prasasta Gala Award menjadi titik awal untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, media dan masyarakat.

“Semoga malam ini menjadi starting point kita semua untuk semakin banyak dan erat dalam berkolaborasi. Semakin banyak inovasi dan semakin banyak inspirasi yang lahir dari Jawa Tengah untuk akselerasi kemajuan Indonesia,” pungkasnya. (*)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.