Terapi Mental Perlu Sentuhan Sains dan Spiritual untuk Hadapi Tekanan Hidup Modern
Oleh : Paloma Paramita, S.Psi., M.M., M.Psi., Psikolog Klinik Psikologi SAHABAT RS Islam Sultan Agung Semarang.
METROJATENG.COM, SEMARANG – Meningkatnya kasus gangguan kesehatan mental di berbagai kalangan, terutama usia muda dan produktif, menunjukkan bahwa penanganan stres dan tekanan hidup tidak cukup hanya mengandalkan ketahanan individu. Pendekatan yang memadukan ilmu psikologi modern dan nilai-nilai spiritual dinilai menjadi solusi yang lebih komprehensif dalam menjaga kesehatan mental.
Psikolog Klinik Psikologi SAHABAT RS Islam Sultan Agung Semarang, Paloma Paramita, S.Psi., M.M., M.Psi., Psikolog, mengatakan berbagai laporan global menunjukkan tren peningkatan gangguan mental yang cukup signifikan. Kecemasan dan depresi menjadi dua masalah yang paling banyak dialami masyarakat akibat tekanan ekonomi, persaingan karier, hingga menurunnya kualitas interaksi sosial.
Menurutnya, kondisi tersebut menuntut adanya intervensi preventif yang terstruktur melalui program peningkatan kesejahteraan psikologis dan perencanaan kualitas hidup yang lebih positif.
“Dalam perspektif Islam, manusia membutuhkan pendekatan biopsikososio-spiritual yang memadukan ilmu psikologi dengan nilai-nilai keagamaan sehingga mampu melihat manusia secara utuh,” ujarnya.
Paloma menjelaskan, sejumlah teori psikologi modern memiliki titik temu dengan konsep dalam Islam. Salah satunya adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT) yang berfokus pada perbaikan pola pikir negatif. Konsep ini sejalan dengan tafakkur atau perenungan kritis dan husnuzan yang mengajarkan seseorang untuk berpikir lebih objektif dan positif.
Selain itu, teori Logoterapi yang dikembangkan Viktor Frankl juga memiliki kesamaan dengan konsep Islam mengenai makna hidup. Dalam Islam, makna hidup ditemukan melalui ibadah kepada Allah dan peran manusia sebagai khalifah di bumi, sehingga seseorang memiliki tujuan yang jelas dan lebih tangguh menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Sementara itu, pembahasan mengenai struktur kepribadian juga dapat ditemukan dalam konsep nafs dalam Islam, mulai dari Nafs Ammarah yang dipengaruhi dorongan negatif hingga Nafs Mutma’innah yang menggambarkan jiwa yang tenang dan damai. Proses menuju ketenangan tersebut dapat didukung melalui konsultasi dan konseling bersama psikolog.
Paloma menambahkan, masih banyak masyarakat yang menganggap konsultasi dengan psikolog atau psikiater sebagai tanda kurangnya keimanan. Padahal dalam Islam, menjaga akal dan kesehatan mental merupakan bagian penting dari tujuan syariat.
“Meminta bantuan profesional merupakan bentuk ikhtiar yang harus dilakukan sebelum bertawakal. Tawakal bukan berarti menyerah tanpa usaha,” tegasnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap kesehatan mental masyarakat, RS Islam Sultan Agung Semarang menghadirkan Klinik Psikologi Sultan Agung Mental Health & Behavioral Assessment Center (SAHABAT). Klinik ini tidak hanya membantu menyelesaikan persoalan psikologis, tetapi juga mendorong peningkatan self compassion dan qanaah sesuai nilai-nilai Islam.
Direktur Utama RS Islam Sultan Agung Semarang, dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQua, menyampaikan bahwa Klinik SAHABAT hadir untuk membantu masyarakat menjalani berbagai fase kehidupan dengan lebih sehat secara mental dan spiritual.
Salah satu metode yang diperkenalkan adalah Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT), yakni teknik yang mengombinasikan doa dan afirmasi positif untuk membantu seseorang mencapai ketenangan batin. Metode ini telah disosialisasikan kepada pasien hemodialisa dan jantung sebagai bagian dari upaya mendukung proses penyembuhan fisik sekaligus memperkuat kondisi psikologis pasien.
Melalui pendekatan yang menggabungkan sains dan spiritualitas, Klinik SAHABAT diharapkan dapat menjadi ruang ikhtiar bagi masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan hidup sekaligus membangun kesehatan mental yang lebih baik.(**)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.