Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Ekonomi Jateng Masih Solid, Industri dan Perdagangan Jadi Mesin Pertumbuhan

 

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah M. Noor Nugroho. (tya/redmetrojateng)

METROJATENG.COM, SEMARANG – Roda perekonomian Jawa Tengah masih berputar kuat pada triwulan II 2026. Industri pengolahan terus menguat, perdagangan melaju lebih cepat, sementara konsumsi masyarakat dan investasi tetap menjadi penyangga utama di tengah dinamika perekonomian global.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah M. Noor Nugroho mengatakan, struktur pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan II menunjukkan fondasi yang relatif kuat.

“Perekonomian Jawa Tengah pada triwulan II 2026 tetap tumbuh kuat. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan terutama ditopang konsumsi rumah tangga dan investasi. Sementara dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan dan perdagangan menjadi sumber pertumbuhan utama,” kata Noor.

Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan masih menjadi tulang punggung perekonomian Jawa Tengah. Sektor ini memiliki pangsa terbesar terhadap PDRB, yakni 33,18 persen.

Menariknya, kinerja industri justru mengalami penguatan. Pada triwulan II 2026, industri pengolahan tumbuh 5,03 persen (yoy), naik dari 4,04 persen pada triwulan I 2026.

Penguatan tersebut terutama berasal dari meningkatnya ekspor barang industri yang tumbuh hingga 41,26 persen (yoy).

Komoditas tekstil dan produk tekstil, kayu dan furnitur, alas kaki, serta bahan makanan menjadi sejumlah produk yang mendorong kinerja ekspor Jawa Tengah.

Perbaikan industri juga tercermin dari meningkatnya Saldo Bersih Tertimbang (SBT) Industri Pengolahan berdasarkan Survei Kegiatan Dunia Usaha pada triwulan II 2026.

Perdagangan Melesat

Selain industri, sektor perdagangan menjadi mesin pertumbuhan berikutnya. Pada triwulan II 2026, perdagangan tumbuh 7,52 persen (yoy), jauh lebih tinggi dibandingkan triwulan I yang tumbuh 5,22 persen.

Kinerja tersebut sejalan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat. Momentum Idul Adha dan libur panjang mendorong aktivitas perjalanan sekaligus konsumsi masyarakat.

Mobilitas masyarakat Jawa Tengah tercatat meningkat 5,09 persen (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya.

Bahkan, demam Piala Dunia 2026 turut memberikan efek tambahan bagi sektor perdagangan. Permintaan terhadap jersey, aksesori, dan berbagai produk yang berkaitan dengan pesta sepak bola dunia ikut mendorong transaksi.

“Peningkatan mobilitas masyarakat memberikan dampak yang cukup luas terhadap aktivitas ekonomi. Ketika mobilitas meningkat, sektor perdagangan, transportasi, akomodasi, serta makanan dan minuman ikut mendapatkan manfaat,” ujar Noor.

Konsumsi Tetap Jadi Penyangga

Di tengah berbagai dinamika tersebut, konsumsi rumah tangga masih menjadi fondasi utama perekonomian Jawa Tengah.

Pangsa konsumsi rumah tangga mencapai 59,73 persen dari PDRB. Pada triwulan II 2026, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,31 persen (yoy).

Pertumbuhan itu memang melambat dibandingkan triwulan I yang mencapai 5,08 persen. Namun, konsumsi masih mampu tumbuh positif dan ditopang oleh meningkatnya mobilitas masyarakat pada momentum Idul Adha serta libur panjang.

Optimisme masyarakat juga masih terjaga. Hal tersebut tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) triwulan II 2026 yang berada pada level optimis.

Sementara itu, investasi masih menjadi sumber pertumbuhan penting bagi Jawa Tengah. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 8,84 persen (yoy) pada triwulan II 2026. Meski melambat dari 9,61 persen pada triwulan sebelumnya, nilai realisasi investasi justru meningkat.

Realisasi investasi naik dari Rp23,73 triliun pada triwulan II 2025 menjadi Rp25,53 triliun pada triwulan II 2026. Pembangunan kawasan industri dan keberlanjutan sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN) menjadi faktor yang menjaga kinerja investasi.

Menurut Noor, investasi yang tetap tumbuh menunjukkan aktivitas ekonomi produktif di Jawa Tengah masih berjalan.

“Investasi perlu terus dijaga karena memiliki peran penting dalam memperkuat kapasitas produksi dan menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru,” ujarnya.

Ada sektor lain yang mencuri perhatian, yakni penyediaan akomodasi dan makan-minum (Akmamin).

Sektor ini mencatat pertumbuhan tertinggi pada triwulan II 2026, yakni mencapai 12,80 persen (yoy).

Walaupun melambat dibandingkan triwulan I yang tumbuh 14,14 persen, pertumbuhan dua digit tersebut menunjukkan aktivitas masyarakat di sektor pariwisata dan jasa konsumsi masih sangat kuat.

Momentum Idul Adha dan libur panjang menjadi salah satu pendorong. Meningkatnya mobilitas masyarakat ikut menggerakkan hotel, restoran, rumah makan, hingga berbagai usaha pendukung pariwisata.

Program prioritas nasional yang terus berjalan juga memberikan tambahan aktivitas ekonomi bagi sektor tersebut.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga dan investasi masih menjadi sumber pertumbuhan. Sementara dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan dan perdagangan menjadi motor utama.

Kondisi tersebut menunjukkan ekonomi Jawa Tengah memiliki sumber pertumbuhan yang cukup beragam.

Tantangannya kini adalah menjaga momentum tersebut agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya didorong faktor musiman, tetapi semakin bertumpu pada penguatan industri, peningkatan investasi produktif, ekspor, serta sektor jasa yang memiliki nilai tambah.

“Sinergi dan kolaborasi seluruh pihak menjadi penting untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi Jawa Tengah,” kata Noor.

Dengan industri yang semakin kuat, perdagangan yang melaju, investasi yang tetap tumbuh, dan konsumsi masyarakat yang terjaga, Jawa Tengah memiliki modal cukup kuat untuk melanjutkan pertumbuhan pada paruh kedua 2026. (*)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.