MoU yang Mengubah Desa: BI Purwokerto dan Revolusi Cabai di Banyumas
METROJATENG.COM, BANYUMAS – Desa Banjarsari Kulon, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, kini menjelma menjadi salah satu sentra cabai paling produktif di wilayah tersebut. Keberhasilan ini tidak lepas dari peran serta Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Purwokerto yang mendampingi petani sejak tahap awal penanaman hingga pengolahan pascapanen.
Dulu, potensi hortikultura di kawasan ini belum tergarap maksimal. Padahal, Kecamatan Sumbang telah lama dikenal sebagai penghasil cabai. Namun berbagai kendala seperti hama dan cuaca ekstrem membuat hasil panen kerap gagal.
Bermula dari pertemuan petani muda asal Desa Banjarsari Kulon, Rangga Setiawan dengan BI Purwokerto, kini para petani di desa tersebut kembali bersemangat menanam cabai. Rangga bukanlah sarjana pertanian, ia merupakan sarjana di bidang IT. Namun, keluarga besarnya yang merupakan petani, tampaknya menurun dan membuatnya melepas computer, mengganti dengan cangkul.
“Setelah menikah, saya memutuskan untuk mulai terjun ke sawah. Melihat potensi cabai yang bagus, dengan harga yang relatif stabil, saya memutuskan untuk menanam cabai,” tuturnya mengawali perbincangan dengan Metrojateng.com, Jumat (1/8/2025).
Rangga mulai menggarap lahan cabai seluas 700 meter persegi milik keluarganya. Hanya dengan berbekal pembelajaran melalui media sosial, Rangga terus berproses. Hingga pada suatu waktu, ia menemukan mentor di Temanggung dan memutuskan untuk belajar serius tentang tanaman cabai.

Pertemuan yang Melahirkan MoU
Meski sudah menguasai cukup banyak pengetahuan tentang tanaman cabai, setiap kali ada pelatihan, petani milenial ini selalu tak pernah melewatkan. Sampai pada suatu saat terbuka kesempatan untuk mengikuti pelatihan yang digelar oleh BI Purwokerto.
Cerita tentang lahan cabai yang disampaikan Rangga selama pelatihan, membuat BI Purwokerto tertarik dan ingin melihat langsung lahan cabai Rangga. Pelatihan yang berlanjut pada kunjungan ke kebun cabai ini, pada akhirnya melahirkan MoU yang berjalan sampai sekarang.
Lewat MoU tersebut, BI Purwokerto memberikan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), serta mendirikan demplot klaster cabai seluas 2.000 meter persegi di desa tersebut. Tak hanya itu, BI juga memberikan pendampingan menyeluruh, mulai dari teknik budidaya, pengendalian hama, panen, pengolahan hasil, hingga strategi pemasaran.
“Dengan pendampingan ini, kami bisa menjaga umur tanaman hingga 30–40 kali petik. Padahal sebelumnya, tanaman cabai sering kali hanya bertahan 3–4 kali petik atau bahkan mati sebelum berbuah,” terangnya.
Rangga dan kelompok tani yang tergabung dalam Gapoktan Lestari memilih menanam cabai rawit merah karena harganya lebih tinggi dan stabil. Melihat hasil panen yang menggiurkan, banyak para petani yang kemudian bergabung dan semangat menanam cabai kembali. Untuk mengakomodir banyaknya petani yang ingin bergabung, Rangga bersama tim menyiasati dengan mengalokasikan sebagian hasil panen, untuk membuka demplot baru.
Hasilnya, kini tanaman cabai menghijau seluas 120 ubin, di luar domplot milik BI. Desa Banjarsari Kulon, Kecamatan Sumbang kembali menjelma menjadi sentra cabai, dengan lebih konsisten.
“Kami ingin ini menjadi sebuah aksi yang berkelanjutan, sehingga setiap kali ada petani ingin bergabung, kita sangat terbuka,” ujarn Rangga penuh semangat.
Tidak berhenti di produksi, BI Purwokerto juga memfasilitasi pelatihan pengolahan hasil panen dan digital marketing. Cabai yang dihasilkan diolah menjadi berbagai produk seperti sambal cumi, sambal bawang, cabai bubuk, hingga saus cabai. Ini menjadi bagian dari strategi hilirisasi agar nilai tambah bisa dinikmati langsung oleh petani.
“Kami didampingi sejak awal hingga proses pengolahan. Ini benar-benar komitmen dari hulu ke hilir,” kata koordinator demplot cabai binaan BI Purwokerto ini.
Peran Strategis BI dalam Ketahanan Pangan
Sementara itu, Mantan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dinpertan KP) Banyumas, Jaka Budi Santosa, menyatakan bahwa kolaborasi dengan BI Purwokerto sangat strategis. Menurutnya, BI tidak hanya berperan dalam pengendalian inflasi, tetapi juga aktif mendorong ketersediaan dan keterjangkauan harga pangan melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM).
“BI Purwokerto sangat cepat tanggap, baik dalam program maupun pendanaan. Dukungan mereka sangat signifikan dalam menjaga inflasi dari sisi produksi, termasuk juga dalam upaya mengajak anak-anak muda supaya gemar bertani, melalui berbagai pelatihan,”jelasnya.
Kepala KPwBI Purwokerto, Christoveny berharap, support yang diberikan BI dapat mendorong generasi muda untuk terlibat dalam pengembangan pertanian, serta memanfaatkan inovasi budidaya periode off-season untuk mendukung ketahanan pangan daerah.
“Dengan perencanaan yang lebih terstruktur pada tahun 2025, diharapkan para petani dapat lebih siap menghadapi fluktuasi harga dan perubahan cuaca yang berpotensi memengaruhi hasil panen,” harapnya.
Dengan semangat kolaboratif dan inovasi, Desa Banjarsari Kulon kini bukan hanya bangkit, tetapi berkembang menjadi role model sentra cabai modern berbasis petani milenial dan hilirisasi produk hortikultura.
Comments are closed.