Ketep Summit Festival 2025 Hadirkan Harmoni di Puncak Merbabu
METROJATENG.COM, MAGELANG – Kabut malam dan suhu 16 derajat Celcius tak mampu menyurutkan antusiasme ribuan pengunjung yang memadati kawasan wisata Ketep Pass pada Jumat malam (18/7/2025). Meski udara dingin menusuk hingga ke tulang, suasana di panggung utama Ketep Summit Festival 2025 justru terasa hangat dan penuh semangat.
Dibuka dengan pertunjukan sendra tari Candramuka Kajarwa dari Sanggar Kinara Kinari Borobudur, festival yang digelar selama tiga hari ini menjadi simbol kebangkitan baru pariwisata Magelang. Penampilan band The Rain sebagai bintang utama malam itu menambah semarak pembukaan, memikat generasi muda yang larut dalam nostalgia dan semangat.
Namun, Ketep Summit Festival bukan sekadar pesta musik dan hiburan. Dalam sambutannya, Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, menegaskan bahwa festival ini adalah bagian dari strategi besar pembangunan daerah.
“Tema ‘Harmoni Semesta’ bukan hanya slogan. Ini adalah ajakan untuk membangun keselarasan antara manusia, alam, budaya, dan kreativitas,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa festival ini akan menjadi agenda tahunan yang memberi ruang kolaborasi antara pelaku pariwisata, musisi, UMKM, hingga komunitas seni.
Merangkul Semua Generasi
Menariknya, penyelenggara secara sadar menyusun program lintas generasi. Jika malam pertama ditujukan untuk kaum muda melalui penampilan The Rain dan pada Sabtu malam (19/7/2025) giliran orkes Melayu legendaris asal Muntilan, Janema, yang akan menghibur kalangan orang tua dengan jargon khas mereka: Wayahe wong lawas tampil.
Sebelum Janema naik panggung, pengunjung akan dihibur oleh Duta Wisata Magelang, musik reggae dari Lapiezt Legiet, serta orkes Melayu Kejora dari Yogyakarta.
Direktur Ketep Pass, Miftahudin, menjelaskan bahwa festival ini dirancang untuk menyatukan selera lintas usia. “Anak muda malam ini, orang tua besok malam. Inilah yang kami sebut festival lintas generasi,” ujarnya.
Selain hiburan, momen paling ditunggu pengunjung adalah saat matahari muncul di antara Gunung Merapi dan Merbabu, fenomena alam yang hanya terjadi beberapa kali dalam setahun. Pemandangan ini hanya bisa dinikmati sempurna dari puncak Ketep Pass.
“Waktu ini adalah periode emas ketika matahari terbit tepat di sela Merapi dan Merbabu. Panorama ini eksotis dan tak boleh dilewatkan,” jelas Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Magelang, Mulyanto.
Bahkan vokalis The Rain, Indra Prasta, mengaku menunda kepulangan mereka ke Yogyakarta demi menyaksikan matahari terbit dari Ketep Pass.
Ketep Summit Festival tak hanya menampilkan musik dan panorama. Di baliknya, ada semangat kolaborasi yang kuat. Para pelaku UMKM diberi ruang dalam bazar, seniman lokal tampil dalam panggung seni, dan masyarakat desa terlibat dalam kirab budaya serta grebeg gunungan, tradisi yang selalu menjadi penutup meriah festival ini.
Bupati Grengseng menegaskan, “Ini bukan hanya festival hiburan. Ini adalah pernyataan bahwa pariwisata adalah gerakan kolektif. Kolaborasi ini harus terus tumbuh demi kemajuan Magelang.”
Diselenggarakan pada 18–20 Juli 2025, Ketep Summit Festival menjadi simbol kebangkitan pariwisata Magelang pasca pandemi. Dengan menjual perpaduan antara keindahan alam, kekayaan budaya, dan inovasi kreatif, festival ini diharapkan menjadi ajang tahunan yang mampu menarik wisatawan dari berbagai penjuru.
Comments are closed.