Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Kasus Campak di Jateng Melonjak, Setya Ari Tekankan Pentingnya Deteksi Dini dan Edukasi,

METROJATENG.COM, SEMARANG — Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah (Jateng), Setya Arinugroho menyoroti pentingnya deteksi dini dan edukasi imunisasi menyusul lonjakan 2.188 kasus suspek campak di Jateng. Penyebaran yang kian masif bahkan telah mendorong tiga kabupaten menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB), sehingga diperlukan langkah cepat dan terintegrasi untuk menekan penularan.

Penyebaran campak di Jawa Tengah kian mengkhawatirkan. Hingga awal Mei 2026, tercatat ada sebanyak 2.188 kasus suspek. Kondisi ini menandakan penularan virus berlangsung cepat dan perlu penanganan ekstra.

Campak yang disebabkan virus Paramyxovirus dikenal memiliki tingkat penularan tinggi. Dalam lingkungan tanpa kekebalan, satu penderita bisa menularkan ke 12 hingga 18 orang. Angka ini menjadikan campak sebagai salah satu penyakit menular paling agresif, terutama pada anak-anak.

Setya Arinugroho, menilai lonjakan ini bukan sekadar fenomena musiman, melainkan sinyal adanya celah dalam sistem perlindungan kesehatan dasar.

“Ini peringatan serius. Artinya masih ada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap,” ungkapnya.

Caption Foto : Wakil Ketua DPRD Jateng, Setya Arinugroho dan Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi saat menghadiri acara Musrenbangwil di Kabupaten Banyumas beberapa waktu lalu. (Foto : Dok.Tim Setya Ari).

 

Pencegahan dari Hulu 

Menurutnya, penanganan wabah tidak boleh hanya fokus pada pengobatan pasien, tetapi harus menyasar pencegahan dari hulu. Salah satunya dengan memastikan cakupan imunisasi merata di seluruh wilayah.

Untuk mencapai kekebalan kelompok (herd immunity), setidaknya 95 persen populasi anak harus sudah diimunisasi. Namun, ketimpangan antarwilayah dinilai masih menjadi persoalan yang membuka celah penyebaran virus.

Sebagai langkah cepat, pemerintah daerah kini menggencarkan program Outbreak Response Immunization (ORI) di wilayah terdampak KLB. Program ini difokuskan untuk memutus rantai penularan sekaligus melindungi kelompok rentan dari risiko infeksi.

Setya Ari juga menekankan pentingnya peran fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas dan posyandu dalam mendeteksi kasus sejak dini. Dengan pelacakan yang cepat, penyebaran bisa dikendalikan sebelum meluas.

Selain itu, ia mengingatkan agar distribusi vaksin dilakukan secara merata hingga ke pelosok, dengan dukungan sistem rantai dingin (cold chain) yang terjaga agar kualitas vaksin tetap efektif.

Di sisi lain, edukasi publik dinilai masih menjadi pekerjaan besar. Minimnya pemahaman masyarakat terkait pentingnya imunisasi berpotensi memperburuk situasi.

“Campak bukan penyakit ringan. Komplikasinya bisa serius, mulai dari radang paru, infeksi otak, hingga diare berat yang membahayakan nyawa anak,” tegasnya.

Setya Ari memastikan akan terus memantau penanganan wabah ini, termasuk memastikan kesiapan tenaga kesehatan dan kecukupan logistik medis di lapangan.

“Upaya ini harus menyeluruh. Edukasi, imunisasi, dan deteksi dini harus berjalan beriringan agar wabah ini tidak semakin meluas,” pungkas Setya.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.