Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Transformasi Kartika Widjaya Melawan Kanker, Berujung Pengabdian Tanpa Henti

0

METROJATENG.COM, PURWOKERTO- Dukungan dan support dari lingkungan sekitar sangatlah penting bagi penderita kanker yang sampai saat ini belum ada obatnya. Meskipun sudah mencapai stadium zero (0), namun tetap harus melakukan pengecekan kesehatan secara rutin seumur hidup, para survivor ini pun tetap harus mengkonsumsi obat yang juga seumur hidup.

Keberadaan Himpunan Masyarakat Peduli Leukemia (Elgeka) menjadi angin segar bagi para survivor Chronic myelogenous leukemia (CML). Saling support, saling bertukar informasi menjadi momentum yang memberikan kekuatan bagi mereka. Hal ini pula yang dialami, Kartika Widjaya, perempuan hebat asal Purwokerto yang dalam usia 65 tahun, masih aktif diberbagai kegiatan sosial maupun bisnis.

“Saya divonis kanker pada tahun 2004, saat itu usia saya 46 tahun. Kaget, shock itu pasti, namun keluarga selalu mendampingi dan memberikan support”, tuturnya mengawali perbincangan dengan Metrojateng.com, Senin (30/10/2023).

Ibu dua anak yang hobi berolahraga ini, tiba-tiba kerap sakit kepala, ditambah batuk yang tak kunjung sembuh. Setelah memeriksakan diri ke dokter, ternyata hati Kartika sudah membengkak dan saat dilakukan pengecekan darah, kadar leukositnya mencapai 125.000, jauh dari kondisi normal yang seharusnya pada kisaran 4.000 – 10.000. Ia divonis terkena kanker jenis chronic myeloid leukemia dan dokter menyarankan untuk melanjutkan pengobatan ke Jakarta.

“Dua minggu saya menjalani pengobatan, setiap hari dikemo, tetapi leukositnya masih tetap tinggi. Hingga ada dokter yang memeriksa sum-sum saya menyarankan untuk  meneruskan pengobatan ke Hongkong. Ternyata sum-sum saya juga dikirim ke rumah sakit di Hongkong, sehingga data saya sudah masuk di sana dan dokter tinggal memberikan rekomendasi”, terangnya.

Ada kegamangan saat hendak menjalani pengobatan di negeri orang, salah satunya karena faktor biaya, setidaknya dibutuhkan hingga Rp 1 miliar untuk pengobatan, belum lagi ditambah biaya perjalanan dan biaya hidup selama di Hongkong. Kartika menolak untuk menghabiskan uang bisnis keluarganya demi berobat. Hingga akhirnya diperoleh kesepakatan untuk menggadaikan rumahnya.

“Pada saat itu saya salah pilih asuransi dan sakit saya tidak tercover asuransi tersebut. Jika menurut saran keluarga  untuk mengambil uang perusahaan, maka keberlangsungan perusahaan menjadi taruhan, padahal pada saat itu ada 160 orang yang menggantungkan hidup di perusahaan saya. Akhirnya saya gadaikan rumah dan dengan bekal uang Rp 1,5 miliar saya berangkat ke Hongkong”, ucapnya.

Kartika Widjawa aktif berkegiatan sosial. (Foto : Hermiana)

 

 

Masuk Program Riset

Setelah menjalani kemo oral di Hongkong, dalam 3 minggu kadar leukosit Kartika menurun cukup signifikan, yaitu menjadi 65.000. Dokter menyebut, tubuh Kartika merespon positif terhadap kemo tersebut. Akhirnya ia diperbolehkan melanjutkan pengobatan di Singapura yang lebih dekat dengan Indonesia.

Saat dokter menyatakan kondisi Kartika sudah zero dan diperbolehkan lepas dari konsumsi obat, ia mendapat tawaran untuk mengikuti program riset yang sedang dilakukan para dokter di Asia tersebut. Riset tentang pasien CML dan Kartika setiap bulan harus ke Singapura untuk dilakukan observasi.

“Dunia medis butuh pasien zero untuk penelitian. Tanpa berfikir panjang saya langsung menyetujui, meskipun saya harus keluar ongkos untuk pulang-pergi Indonesia-Singapura setiap bulan, namun demi perkembangan pengobatan, saya bertekad untuk menjalaninya”, kata istri dari Widjaya ini.

 

Keluarga Baru

Pertemuan Kartika dengan komunitas Elgeka terjadi saat ia masih harus mengkonsumsi obat. Setiap hari minimal Kartika minum obat 400 ml dan dalam satu bulan ia harus mengeluarkan Rp 25 juta untuk membeli obat. Dalam kondisi depresi, ia mencoba menulis surat kepada perusahaan yang memproduksi obat tersebut, isinya ia meminta keringanan pembelian obat dengan diskon 50%. Tak membutuhkan waktu lama, Kartika mendapat balasan yang menyatakan diskon melalui jalur industri komersil hanya bisa diberikan maksimal 15-20% saja.

Namun, Kartika justru mendapatkan saran untuk menemui salah satu dokter onkologi di RSCM. Dari sinilah jalan Kartika mulai terbuka untuk mendapatkan obat gratis sekaligus juga bertemu dengan keluarga Elgeka.

“Prof Arie membentuk komunitas Elgeka sebagai patner dokter-dokter dalam menghadapi pasien CML. Di Elgeka ini saya menemukan keluarga baru yang saling memberikan semangat, saling menguatkan serta berbagi informasi”, tuturnya.

Kartika Widjaya bersama komunitas Elgeka terus aktif melakukan pendampingan serta edukasi tehadap survivor. (Foto : Hermiana)

 

 

Setiap kali ada pasien baru, dokter akan menginformasikan kepada Elgeka yang kemudian langsung turun mendampingi pasien. Pendampingan dari Elgela tak hanya kepada pasien, tetapi juga kepada pihak keluarga, mencoba menyatukan visi supaya proses pengobatan bisa berjalan dengan baik. Tak dipungkiri, terkadang ada keluarga yang memilih untuk menghentikan pengobatan, karena tidak tega melihat kondisi pasien yang mual dan muntah, berat badan yang turun dan lainnya. Di sinilah pentingnya pendampingan dari Elgeka.

Kartika bertutur, pernah dijumpai kasus ada pensiunan perawat dari Bau-Bau, Sulawesi Tenggara yang gaji pensiunnya hanya Rp 2,3 juta. Sedangkan untuk mengambil obat ke RSCM setiap bulan dibutuhkan biaya transportasi hingga Rp 5 juta. Hal ini membuat kondisi keuangan yang bersangkutan menjadi tidak sehat. Temuan dari Elgeka ini kemudian disampaikan kepada para dokter yang langsung ditindaklanjuti dengan pengambilan kebijakan obat tidak lagi tersentralisasi. Hingga akhirnya pelayanan didekatkan kepada pasien di beberapa wilayah seperti Surabaya, Bandung, Semarang, Makasar, Manado dan lainnya. Kartika pun bisa kembali ke Banyumas untuk menjalankan aktivitas dari kota asalnya.

Berjuang untuk bisa tetap hidup hingga bisa zero dari kanker, kemudian menjadi relawan untuk program riset dokter demi kemajuan ilmu kedokteran, kini Kartika aktif di Elgeka, mendampingi para survivor. Proses transformasi Kartika Widjaya ini, menorehkan sejarah tersendiri bagi dunia medis, sekaligus juga membawa manfaat bagi para survivor.

“Tuhan sudah memberi saya bonus, ketika saya bisa kembali pulih setelah divonis kanker. Dan bonus hidup saya ini, harus bisa membawa manfaat bagi sesama”, ucap Sekretaris Yayasan Puhua Purwokerto ini.

Leave A Reply

Your email address will not be published.