Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Menjaga Kedaulatan Selular di Era Transhumanisme: Membaca Hakikat Penciptaan Manusia

​Oleh: DR. dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQua (Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Kedokteran Digital Terintegrasi Indonesia - PREDIGTI)

METROJATENG.COM, SEMARANG- ​Secara biologis maupun spiritual, manusia tidak pernah dirancang sebagai entitas yang tertutup, steril, dan kaku. Tubuh kita adalah sebuah ruang terbuka—sebuah mahakarya ciptaan yang dinamis, adaptif, dan secara konstan berinteraksi dengan jagat raya. Sepanjang sejarah peradaban, dari pemasangan susuk emas, mahkota gigi logam mulia, hingga pemasangan sekrup dan pelat titanium pada rekonstruksi ortopedi modern, tubuh kita menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa.

​Fenomena medis ini dikenal sebagai biokompatibilitas (biocompatibility). Ketika sebuah materi asing masuk, tubuh kita tidak selalu melakukan penolakan destruktif, melainkan meresponsnya dengan peradangan sementara (transient inflammatory response) yang kemudian disusul oleh proses enkapsulasi fibrosa—sebuah mekanisme pembatasan damai oleh sel-sel makrofag—atau bahkan menyatu secara struktural melalui osseointegrasi. Keterbukaan biologis ini sesungguhnya merupakan pembuktian ilmiah atas firman Allah SWT dalam Surah Al-Mu’minun ayat 12, bahwa manusia diciptakan dari sulalatin min thin—saripati tanah. Tanah bukan sekadar hamparan bumi yang pasif, melainkan representasi tabel periodik alami yang mengandung segala unsur mineral, logam, gas, dan air yang kini menjadi penyusun utama sel-sel tubuh kita. Hal inilah yang membuat tubuh kita “mengenali” dan bersahabat dengan elemen mineral dan logam eksternal.

​Namun, lompatan teknologi hari ini telah membawa kita jauh melampaui sekadar implan logam pasif. Di episentrum riset global—mulai dari Amerika Serikat dengan proyek Neuralink, hingga laboratorium di Jepang, China, Eropa, dan Rusia—kita sedang menyaksikan fajar baru era transhumanisme melalui penanaman cip otak atau Brain-Computer Interface (BCI). Elektroda mikro yang ditanamkan langsung pada korteks serebral manusia kini mampu menerjemahkan potensial aksi—sinyal listrik murni yang dihasilkan oleh lompatan ion antarsaraf—menjadi instruksi digital untuk menggerakkan perangkat eksternal atau memulihkan fungsi sensorik yang hilang.

​Secara teologis, ini membuktikan bahwa manusia bukan sekadar gumpalan materi fisik. Kita adalah perpaduan sinergis antara materi tanah, energi kelistrikan (cahaya/sinyal bio-elektrik), dan dimensi ruh yang ditiupkan langsung oleh Sang Pencipta sebagaimana diisyaratkan dalam Surah Al-Hijr ayat 29. Potensi kelistrikan saraf inilah yang melahirkan sifat elektromagnetik pada tubuh, menjadikannya sirkuit biologis yang siap diintegrasikan dengan teknologi masa depan, termasuk implan bionik dan organ artifisial hibrida yang meniru persis fungsi organ asli kita.

​Sayangnya, di balik keagungan sains biomokuler ini, terdapat sisi gelap yang patut kita kritisi bersama. Ketika tubuh manusia diakui sebagai entitas yang sangat adaptif, industri bioteknologi global mulai melirik celah ini sebagai peluang komodifikasi biologis yang masif. Salah satu contoh paling nyata saat ini adalah maraknya komersialisasi sekretom dan eksosom—vesikel ekstraseluler berukuran nano yang membawa kargo protein, lipid, dan asam nukleat untuk komunikasi antar-sel.

​Bahan-bahan proteomik ini sejatinya diproduksi secara sangat spesifik oleh tubuh individu tertentu untuk kebutuhan regulasi dirinya sendiri. Namun, demi target finansial kapitalistik, industri mem-framing sekretom dan eksosom alogenik—yang diproduksi massal dari donor asing atau kultur sel di laboratorium raksasa—sebagai “obat ajaib satu untuk semua” (one size fits all). Di titik inilah manusia kembali direduksi menjadi sekadar ajang industri dan komoditas pabrikan, mengaburkan keunikan biologis (biological individuality) yang telah dianugerahkan Allah kepada tiap-tiap insan.

​Menghadapi arus komodifikasi seluler global yang eksploitatif ini, kita harus menyuarakan pentingnya kedaulatan selular yang menjunjung tinggi hak asasi sel (the rights of cells). Di sinilah terapi autologus hadir sebagai benteng etika sekaligus solusi medis yang paling selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan dan hukum Islam (Maqasid al-Shariah). Terapi autologus—seperti pemrosesan Platelet-Rich Plasma (PRP) atau Stromal Vascular Fraction (SVF) yang diambil dari tubuh pasien sendiri, diproses secara minimal di titik perawatan (point-of-care), dan dimasukkan kembali ke tubuh yang sama—adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap cetak biru (blueprint) biologis manusia.

​Secara fiqih, terapi autologus sangat didukung karena menjaga kemurnian tubuh tanpa risiko pencampuran materi genetik asing (ikhtilat al-ansab tingkat seluler) serta menghindari risiko penolakan imunologis maupun transmisi patogen yang sering membayangi terapi alogenik massal. Sebaliknya, eksploitasi seluler alogenik yang tidak terkontrol demi motif komersial industri mendekati wilayah taghyir khalqillah (mengubah ciptaan Allah) sebagaimana diperingatkan dalam Surah An-Nisa ayat 119.

​Melalui kacamata studi Islam dan biomolekuler terintegrasi, kita harus menyadari bahwa obat terbaik bagi manusia sesungguhnya telah ditanamkan oleh Allah di dalam sistem pertahanan dan regenerasi tubuhnya sendiri. Kemajuan teknologi kedokteran digital dan bionik masa depan harus kita sambut dengan optimisme, namun dengan syarat mutlak: kita harus tetap berdiri tegak menjaga kedaulatan biologis dan spiritual manusia, bukan menyerahkannya ke dalam cengkeraman industrialisasi sel yang tidak berjiwa. Dari tubuh, oleh tubuh, dan untuk tubuh—itulah harmoni sejati dari fitrah penciptaan manusia.(**)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.