Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Lonjakan Kasus Bunuh Diri di Pekalongan Jadi Alarm Kesehatan Mental, Pemkot Siapkan Langkah Pencegahan Terpadu

METROJATENG.COM, KOTA PEKALONGAN – Maraknya kasus bunuh diri yang terjadi di Kota Pekalongan sepanjang tahun 2025 memicu keprihatinan mendalam Pemerintah Kota Pekalongan. Fenomena tersebut dinilai bukan sekadar peristiwa individual, melainkan sinyal kuat adanya persoalan kesehatan mental yang perlu ditangani secara serius dan terstruktur.

Wali Kota Pekalongan H.A. Afzan Arslan Djunaid menegaskan, sepanjang 2025 tercatat sedikitnya tiga kasus bunuh diri yang terjadi dalam rentang waktu berdekatan. Kondisi ini, menurutnya, harus menjadi bahan evaluasi bersama seluruh elemen pemerintah hingga tingkat paling bawah.

“Dalam satu tahun sudah ada tiga kejadian dan waktunya berdekatan. Ini jelas menjadi alarm bagi kita semua,” ujar wali kota yang akrab disapa Aaf.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sejumlah faktor diduga melatarbelakangi peristiwa tersebut, mulai dari tekanan psikologis, persoalan sosial, hingga gangguan kejiwaan yang tidak tertangani secara optimal. Bahkan, dalam salah satu kasus di wilayah Sungai Lodji, korban diketahui memiliki riwayat gangguan kesehatan mental.

Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Kota Pekalongan berencana memperkuat sistem pendataan warga yang membutuhkan perhatian khusus. Pendataan akan dilakukan secara lebih komprehensif melalui kerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS), tidak hanya mencakup kondisi sosial ekonomi, tetapi juga riwayat kesehatan, termasuk kesehatan mental.

“Pendataan ini penting agar intervensi bisa dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran. Jangan sampai kita terlambat membantu,” tegas Aaf.

Selain itu, pemerintah juga mendorong masyarakat agar tidak ragu memanfaatkan layanan kesehatan jiwa yang tersedia. Fasilitas kesehatan di Kota Pekalongan, baik milik pemerintah maupun swasta, telah menyediakan layanan kesehatan mental yang dapat diakses melalui program Universal Health Coverage (UHC) dan BPJS Kesehatan.

“RSUD Bendan ada, dokter jiwa di rumah sakit swasta juga tersedia, termasuk di RS Junaid. Semua bisa difasilitasi, jadi masyarakat tidak perlu khawatir soal biaya,” jelasnya.

Aaf juga menekankan pentingnya menghapus stigma negatif terhadap gangguan kejiwaan. Menurutnya, kesehatan mental harus dipandang setara dengan kesehatan fisik dan memerlukan penanganan profesional, bukan disembunyikan atau diabaikan.

Sebagai bagian dari upaya pencegahan, Pemkot Pekalongan turut melibatkan tokoh agama untuk memperkuat dukungan sosial dan spiritual di tengah masyarakat. Pesan-pesan moral dan penguatan mental diharapkan dapat disampaikan melalui ceramah keagamaan, baik di lingkungan jamaah maupun santri.

“Tokoh agama punya peran strategis untuk menenangkan masyarakat, bukan hanya soal kesehatan mental, tapi juga persoalan sosial lainnya,” ujarnya.

Di sisi lain, Wali Kota Aaf memastikan pemerintah daerah terus menjaga stabilitas dan kondusivitas kota, khususnya menjelang perayaan Natal. Pemantauan kesiapan pelaksanaan ibadah akan dilakukan agar umat Kristiani dapat beribadah dengan aman dan nyaman.

“Menjelang tanggal 24, kita akan monitoring kesiapan saudara-saudara kita yang merayakan Natal,” pungkasnya.

Dengan berbagai langkah tersebut, Pemkot Pekalongan berharap upaya pencegahan dapat berjalan lebih efektif, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa kesehatan mental merupakan tanggung jawab bersama.

Comments are closed.