Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Kendalikan Inflasi BI Jateng Ajak Masyarakat Beralih ke Cabai Kering dan Pasta Bawang Untuk Masakan

METROJATENG.COM, SEMARANG – Kenaikan harga cabai dan bawang merah dapat mempengaruhi tingkat inflasi daerah, terutama jika jumlah pasokannya berkurang. Dampak kenaikan harga cabai sangat berpengaruh terhadap harga pangan lainnya.

Melihat kondisi ini Bank Indonesia Perwakilan Jawa Tengah dalam rangka menjaga stabilitas inflasi di sektor volatile food terutama cabai dan bawang merah, bersinergi dengan Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah menyelenggarakan kegiatan Aksi Peduli Inflasi dengan tema “Kampanye Pemanfaatan Cabai Kering dan Bawang Merah Pasta”. Minggu (17/11/2024) di halaman Gedung Gradhika Bhakti Praja.

Pada kampanye kali ini, BI Jateng mengajak petani champion cabai merah dan bawang merah untuk memperkenalkan cabai kering dan pasta bawang ke masyarakat. Selain itu para petani juga melakukan edukasi memasak menggunakan cabai kering dan pasta bawang

Hasilnya masyarakat dan Aparatur Sipil Negara (ASN) melakukan aksi borong cabai merah kering. Aksi borong cabai merah kering dilakukan setelah masyarakat melihat langsung demo masak yang menggunakan cabai merah.

“Ternyata rasa pedasnya sama dan penggunaannya lebih sedikit dibanding cabai Segar,” tutur Haryanti usai mencicipi nasi goreng.

Haryanti, selanjut membeli 10 bungkus cabai kering dengan harga 10.000, karena ada program tebus murah cabai kering sebungkus Rp 1.000. Ia sengaja membeli banyak untuk dibagikan ke tetangganya agar mencoba menggunakan cabai kering bila harga cabai mahal.

Hal yang saya juga dilakukan ASN Cahyani Utama dari Banyumas yang membeli cabai kering dalam jumlah banyak untuk stok.

Aksi Borong – masyarakat setelah tahu rasa cabai kering sama pedasnya dengan cabai segar langsung memborong cabai kering untuk stok mumpung ada program “Tebus Murah ” dari BI Jateng di halaman gedung Gradhika Bhakti Praja, Minggu (17/11/2024). (tya)

“Program “Tebus Murah” yang digelar BI mendapat sambutan luas masyarakat.

“Rasa pedesnya mantap, dan tidak beda dengan cabai segar, Ungkap Cahyani.

Sekda Provinsi Jateng Sumarno mengatakan, meskipun produksi bawang merah maupun cabai di Jateng surplus, namun inflasi yang terjadi seringkali karena kenaikkan harga komoditas tersebut. Hal itu terjadi karena kebutuhannya sepanjang tahun, sementara panennya hanya pada waktu tertentu.

“Harapan kami, melalui sosialisasi ini para Aparatur Sipil Negara (ASN) dapat memberi contoh kepada masyarakat agar terbiasa mengkonsumsi cabai kering dan pasta bawang. Kalau ini bisa kita jalankan, maka pengendalian inflasi bisa terjaga,” jelas Sumarno.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jateng, Rahmat Dwisaputra menjelaskan, pihaknya siap membantu Pemprov Jateng dari hulu maupun hilir dalam pengendalian inflasi.

Dari sisi hulu, pihaknya melakukan peningkatan kapasitas petani dan produksi pertanian. Sedangkan sisi hilirnya, ketika panen raya, pihaknya akan memberikan bantuan alat pengolahan cabai dan bawang merah agar tidak membusuk.

“Sehingga kebutuhan cabai dan bawang tersedia setiap bulan” kata dia.

Rahmat Dwisaputra menegaskan dua komoditas pangan yakni cabai merah dan bawang merah penyumbang inflasi yang cukup besar. Untuk itu kampanye penggunaan cabai kering dan pasta bawang ke masyarakat digaungkan terus menerus dalam upaya mengendalikan inflasi.

“Saya berharap makin banyaknya masyarakat menggunakan cabai kering dan pasta bawang, inflasi di Jateng akan terjaga stabilitasnya,” jelas Rahmat

Dalam acara tersebut juga  diselenggarakan kegiatan aksi peduli petani dengan cara tebus murah aneka sayur segar dan cabai kering, serta demo masak nasi goreng dengan memanfaatkan cabai kering, dan pasta bawang merah. Aksi tersebut guna menggencarkan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

Guna mendukung program tersebut, BI Perwakilan Jateng juga memberikan bantuan alat pengolahan cabai dan bawang merah kepada sejumlah 10 kelompok tani di Temanggung, Wonosobo, Kabupaten Semarang, dan daerah-daerah sentra cabai di Jateng.

Olahan Cabai Kering – Sutan , petani cabai menunjukan berbagai olahan cabai kering, termasuk cabai kering ebi yang bisa dimakan langsung. (tya)

Sementara itu Sutan, pengusaha cabai kering asal Boyolali, menyambut baik acara yang diselenggarakan Bi Jateng. Kegiatan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang penggunaan cabai kering disambut antusias para petani.

Disaat panen raya harga cabai segar akan anjlok, bahkan bisa Rp 10.000 per kg.  Anjloknya harga ini akibat panen berlimpah, sehingga para petani untuk menyiasati harga dengan  mengolah cabai segar menjadi cabai kering.

Pengeringan dilakukan petani bisa pengeringan alami  dengan dijemur atau menggunakan mesin. Untuk hasilnya memang berbeda, namun rasanya tetap sama yakni pedas.

“Kami sangat berterima kasih dengan bantuan alat pengolahan cabai kering dari BI Jateng. Dengan bantuan tersebut kami dapat membantu pemerintah untuk menstabilkan inflasi,” ungkap Sutan

Cabai kering menurut bisa dioleh menjadi sambal kering, seperti dilakukan kelompok tani di jateng. Bahkan cabai kering ditambah bahan tertentu seperti ebi bisa langsung dimakan.

“Produk olahan cabai kering ini sangat disukai masyarakat khususnya generasi Z, karena bisa dicampur dengan makanan seperti nasi atau mie,” tuturnya.  (*)

Comments are closed.