Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Masyarakat Desa Wisata Penglipuran Bali  Kembalikan Hasilnya Penjualan Tiket untuk Lestarikan Desa Adat

Dengan Pendampingan BI, Tahun Ini Targetkan Pendapatan Rp 26 Miliar

 

METROJATENG.COM, Bangli – Ramainya kunjungan wisatawan ke Desa Wisata Penglipuran tidak hanya mendatangkan pendapatan miliaran rupiah setiap tahun. Bagi masyarakat Desa Adat Penglipuran, dana yang diperoleh dari sektor pariwisata justru menjadi modal untuk menjaga keberlangsungan adat, budaya, dan lingkungan yang telah diwariskan leluhur.

Kepala Pengelola Desa Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, mengatakan target pendapatan dari sektor wisata pada 2026 mencapai sekitar Rp26 miliar. Angka tersebut berasal dari penjualan tiket masuk wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Wisatawan nusantara dikenakan tarif masuk  Rp25.000 untuk dewasa dan Rp15.000 bagi anak-anak. Sementara wisatawan mancanegara dikenai tarif Rp50.000 untuk dewasa dan Rp30.000 untuk anak-anak.

Seluruh pendapatan tiket , lanjut Sumiarsa terlebih dahulu disetorkan 100 persen kepada pemerintah daerah. Selanjutnya, pengelola desa menerima bagi hasil  60 persen yang kemudian dikelola untuk operasional sekaligus dikembalikan kepada masyarakat.

“Kami tidak melihat pendapatan ini sebagai keuntungan semata. Apa yang kami peroleh kami investasikan kembali untuk desa dan masyarakat,” ujar Sumiarsa.

Dana tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari biaya operasional pengelolaan kawasan wisata, menjaga kebersihan desa, merawat fasilitas umum, hingga memberikan subsidi kepada warga yang memperbaiki bangunan rumah adat yang dikonservasi, dan UMKM.

Selain itu, sejak 2024 masyarakat juga menyepakati sebagian laba dialokasikan untuk dana pendidikan, dana kebencanaan, bantuan sosial bagi warga, serta mendukung kegiatan adat desa.

Menurut Sumiarsa, model pengelolaan tersebut membuat manfaat ekonomi pariwisata benar-benar dirasakan masyarakat. Wisatawan yang datang secara tidak langsung ikut membiayai pelestarian budaya dan lingkungan Penglipuran.

“Jadi sebenarnya setiap wisatawan yang datang sudah ikut berkontribusi menjaga adat istiadat dan lingkungan kami. Uang yang mereka bayarkan kembali lagi kepada masyarakat,” katanya.

Dampak ekonomi juga terlihat dari terbukanya lapangan pekerjaan. Hingga kini sedikitnya 131 warga Penglipuran terlibat langsung dalam pengelolaan desa wisata, mulai dari operasional, pemandu wisata, pengelolaan atraksi, hingga usaha kuliner dan kerajinan.

Meski demikian, masyarakat Penglipuran tetap menegaskan bahwa tujuan utama mereka bukan mengejar pendapatan. Mereka justru membatasi jumlah kunjungan agar tidak melampaui daya dukung lingkungan. Saat ini kapasitas ideal kunjungan ditetapkan sekitar 2.000–2.500 wisatawan per hari, sementara pada musim liburan dapat mencapai sekitar 3.000 orang.

Bagi warga Penglipuran, menjaga kualitas lingkungan jauh lebih penting dibandingkan mengejar jumlah wisatawan.

Ditambahkan usai Covid, desa wisata Penglipuran pernah mencapai puncak pendapatan penjualan tiket tahun 2024 hingga Rp 28 miliar. Hal ini dikarenakan karena masyarakat desa penglipuran sangat menjaga budaya dan adat Bali, karena ini adalah warisan leluhur kami.

“Pariwisata adalah bonus. Yang paling utama adalah menjaga desa ini tetap lestari karena ini rumah kami,” tutup Sumiarsa.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jateng Andi Reina Sari, mendorong wisata di Jateng, untuk terus berkwmbang seperti di Bali. Ini penting karena peluang pariwisata di Jateng masih terbuka luas.

Menurutnya Jateng memiliki potensi wisata seperti Borobudur, Prambanan, dan beberapa destinasi wisata lainnya seperti desa Kandri di Gunungpati, Lawang Sewu , kota lama dj Semarang , Dieng  dan lainnya. Bila daerah wisata tersebut digarap dengan baik, rentunya akan membuka peluang baru untuk i dustri lain.

“Industri wisata bila tumbuh dengan baik , akan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi Jateng,” katanya dalam studi Tiru Pengelolaan Publikasi  Pariwisata Berkelanjutan dan Ekonomi Melalui Jejaring  Media Strategis, Kamis (30/7/2026).(*))

 

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.