Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Tjok Oka Sukawati: Pariwisata Bali Bertahan karena Sinergi Pemerintah, Media, dan Masyarakat

METROJATENG,COM, GIANYAR – Bali tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata kelas dunia karena keindahan alamnya. Di balik keberhasilan tersebut, ada perjalanan panjang yang dibangun melalui sinergi pemerintah, media, pelaku usaha, hingga masyarakat adat.

Hal itu disampaikan mantan Wakil Gubernur Bali sekaligus tokoh pariwisata, Tjok Oka Sukawati, saat menerima rombongan studi tiru pengelolaan publikasi pariwisata berkelanjutan dan ekonomi hijau dari Jawa Tengah di Desa Ubud, Kabupaten Gianyar.

Menurutnya, sejak awal Bali merupakan daerah agraris dengan sumber daya alam yang terbatas. Karena itu, pengembangan pariwisata dilakukan sebagai strategi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa meninggalkan budaya sebagai identitas utama.

“Pariwisata Bali dibangun berbasis budaya dan masyarakat. Itu yang menjadi kekuatan kami hingga sekarang,” ujarnya.

Tjok Oka menjelaskan, media memiliki peran yang berbeda di setiap fase perkembangan pariwisata Bali. Pada masa awal, media bertugas memperkenalkan Bali kepada dunia. Ketika pariwisata mulai berkembang, media berperan mengajak wisatawan datang. Kini, di tengah tantangan pariwisata modern, media diharapkan ikut mengawal agar pembangunan tetap berada pada jalur yang berkelanjutan.

“Media bukan hanya mempromosikan, tetapi juga ikut mengendalikan agar pariwisata tetap sehat dan berkelanjutan,” katanya.

Ia mengingatkan, keberhasilan Bali tidak lepas dari kemampuan bangkit setelah menghadapi berbagai krisis, mulai dari tragedi Bom Bali tahun 2002 dan 2005 hingga pandemi COVID-19 yang membuat sektor pariwisata praktis berhenti selama hampir dua tahun.

Menurutnya, saat peristiwa Bom Bali terjadi, tantangan terbesar bukan sekadar mengembalikan jumlah wisatawan, melainkan menjaga persatuan masyarakat agar tidak saling curiga.

“Yang paling kami takutkan waktu itu bukan wisatawan turun, tetapi muncul rasa saling curiga di tengah masyarakat. Karena itu kami membangun komunikasi dengan seluruh elemen masyarakat dan media agar Bali tetap kondusif,” ujarnya.

Pemerintah saat itu juga membentuk forum komunikasi yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia yang tinggal di Bali. Langkah tersebut dinilai mampu meredam potensi konflik sosial sekaligus menjaga citra Bali di mata dunia.

Jangan Bertumpu pada Satu Kawasan

Tjok Oka juga mengakui Bali kini menghadapi tantangan baru berupa kepadatan wisata yang terkonsentrasi di wilayah tertentu. Dampaknya tidak hanya kemacetan, tetapi juga persoalan sampah, limbah, dan ketersediaan air.

Karena itu pemerintah mulai mengembangkan berbagai infrastruktur dan membuka destinasi baru agar persebaran wisatawan lebih merata.

“Kami tidak boleh membebani satu kawasan saja. Pariwisata harus tersebar sehingga manfaat ekonominya juga dirasakan lebih luas,” katanya.

Ia menambahkan, pemerintah Bali telah memiliki berbagai regulasi untuk menjaga lingkungan sekaligus memastikan pembangunan pariwisata tetap mengedepankan aspek sosial, budaya, dan kelestarian alam.

Di sisi lain, Tjok Oka menyoroti fenomena meningkatnya jumlah wisatawan yang tidak diikuti kenaikan tingkat hunian hotel resmi.

Menurutnya, kondisi tersebut mengindikasikan semakin banyak akomodasi yang beroperasi tanpa izin sehingga tidak tercatat sebagai objek pajak.

“Jumlah wisatawan naik, tetapi okupansi hotel justru tidak ikut meningkat. Artinya ada akomodasi yang tidak terdaftar. Ini merugikan daerah karena potensi pajaknya hilang,” ujarnya.

Ia juga menilai pemerintah perlu memperketat pengawasan terhadap investasi asing yang menggunakan nama warga lokal sebagai kedok kepemilikan usaha.

Selain itu, wisatawan asing juga diharapkan tidak memasuki sektor usaha mikro yang menjadi ruang ekonomi masyarakat lokal, seperti penyewaan sepeda motor, laundry, maupun usaha kecil lainnya.

“Pariwisata harus memberi manfaat bagi masyarakat lokal. Jangan sampai ruang usaha masyarakat justru diambil oleh pihak asing,” tegasnya pada acara Studi Tiru Pengelolaan Publikasi Pariwisata Berkelanjutan dan  Ekonomi Hijau Melalui Jejaring Media Strategis, Kamis (30/7/2026).

Budaya Harus Memberi Nilai Ekonomi

Bagi Tjok Oka, menjaga budaya tidak cukup hanya melalui pelestarian, tetapi juga harus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Di Ubud, misalnya, hampir setiap malam digelar pertunjukan seni yang melibatkan anak-anak dan remaja. Mereka rutin berlatih tari dan gamelan sehingga tradisi tetap hidup sekaligus menjadi sumber penghasilan.

“Kalau budaya memberi kesejahteraan, masyarakat akan menjaga budaya itu dengan sendirinya,” katanya.

Hal yang sama juga diterapkan pada sektor pertanian. Pemerintah berupaya menjaga agar lahan sawah tidak terus beralih fungsi menjadi hotel atau vila dengan memberikan berbagai insentif kepada petani.

Menurutnya, pertanian merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya Bali sehingga harus tetap dipertahankan.

“PR kami sekarang adalah bagaimana pertanian juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi sehingga masyarakat tidak tergoda menjual lahannya,” ujarnya.

Tjok Oka menegaskan, masa depan Bali bergantung pada kemampuan seluruh pemangku kepentingan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian budaya, dan keberlanjutan lingkungan.

“Kalau kita tidak siap mengelola pariwisata secara berkelanjutan, Bali bisa kehilangan daya tariknya. Karena itu pemerintah, pelaku usaha, media, dan masyarakat harus berjalan bersama menjaga warisan yang telah dititipkan oleh para pendahulu,” pungkasnya. (*)

Comments are closed.