Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Menjaga Kampung Leluhur, Menikmati Bonus Pariwisata

Kisah Masyarakat Penglipuran Merawat Tradisi dan Kebersihan

METROJATENG.COM, BANGLI – Di tengah derasnya arus modernisasi dan geliat industri pariwisata Bali, masyarakat Desa Adat Penglipuran memilih tetap berpijak pada akar tradisi. Bagi mereka, menjaga adat, budaya, dan lingkungan bukanlah strategi untuk menarik wisatawan, melainkan kewajiban untuk merawat kampung halaman yang diwariskan leluhur.

Komitmen itulah yang hingga kini membuat Desa Penglipuran dikenal sebagai salah satu desa terbersih dan destinasi wisata terbaik di dunia. Namun di balik popularitas tersebut, masyarakat Penglipuran meyakini bahwa pariwisata hanyalah bonus dari konsistensi mereka menjaga warisan budaya.

Kepala Pengelola Desa Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, mengatakan sejak awal desa ini tidak pernah dibangun dengan konsep destinasi wisata. Penglipuran adalah tempat tinggal masyarakat yang sejak dahulu mempertahankan tata ruang, tradisi, dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan turun-temurun.

“Pariwisata yang kami dapatkan sekarang ini adalah bonus. Dari dulu kami menjaga adat, budaya, dan kebersihan bukan karena ingin menjadi desa wisata, tetapi karena ini tempat kelahiran kami. Kami ingin tempat tinggal kami bersih, indah, dan nyaman untuk dihuni,” ujarnya.

Desa Penglipuran mulai ditetapkan sebagai objek wisata pada 1993 melalui kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Bangli. Saat itu, wisatawan yang datang didominasi turis mancanegara yang tertarik melihat tradisi, budaya, serta kehidupan masyarakat Bali yang masih terjaga.

Menurut Sumiarsa, masyarakat sempat tidak menyangka kampung yang mereka rawat dengan sederhana justru menarik perhatian dunia. Namun dorongan pemerintah untuk terus mengikuti berbagai lomba kebersihan dan pengembangan desa membuat warga semakin percaya diri bahwa budaya yang mereka jaga memiliki nilai besar.

“Dari situ masyarakat semakin yakin bahwa menjaga budaya dan lingkungan ternyata juga bisa meningkatkan kesejahteraan,” katanya.

Meski demikian, pola pikir masyarakat Penglipuran tidak berubah. Mereka tetap meyakini bahwa desa harus dijaga, baik ada maupun tanpa pariwisata.

Kebersihan yang menjadi ciri khas Penglipuran pun lahir dari budaya, bukan semata aturan. Setiap pagi warga terbiasa membersihkan halaman rumah tanpa harus diperintah. Kesadaran menjaga lingkungan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kepala Pengelola Desa Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa. (tya/redmetrojateng)

 

“Kami bersih bukan karena pariwisata. Kami bersih karena ingin melihat tempat tinggal kami nyaman dan indah. Itu yang menjadi dasar,” tegasnya.

Saat ini terdapat sekitar 285 kepala keluarga dengan lebih dari 1.200 jiwa yang tinggal di Desa Adat Penglipuran. Namun kawasan inti desa yang mempertahankan bentuk tradisional hanya terdiri dari sekitar 76 pekarangan yang tetap dijaga keasliannya.

Di balik deretan rumah yang seragam itu tersimpan filosofi kebersamaan. Dalam satu pekarangan bisa dihuni beberapa keluarga sekaligus. Nilai gotong royong dan solidaritas menjadi bagian penting yang membuat masyarakat tetap kuat menjaga tradisi.

Kehidupan masyarakat Penglipuran juga berlandaskan filosofi Tri Mandala yang mengatur hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, serta manusia dengan alam. Filosofi inilah yang tercermin dalam tata ruang desa, kehidupan sosial, hingga cara masyarakat memperlakukan lingkungan.

Selain mempertahankan kawasan desa, warga juga menjaga hutan bambu seluas sekitar 45 hektare yang berada di belakang permukiman. Hutan tersebut tidak hanya menjadi kawasan konservasi, tetapi juga dimanfaatkan secara bijak untuk menciptakan nilai ekonomi tanpa merusak kelestariannya.

Pengembangan pariwisata di Penglipuran pun dilakukan dengan prinsip berbasis masyarakat. Seluruh proses perencanaan hingga pelaksanaan melibatkan warga desa. Pendapatan yang diperoleh dari pariwisata sebagian besar kembali diinvestasikan untuk kepentingan masyarakat, mulai dari konservasi bangunan tradisional, pendidikan, bantuan sosial, hingga pelestarian adat.

Berkat konsistensi tersebut, pariwisata kini membuka lapangan pekerjaan bagi lebih dari seratus warga desa. Namun bagi masyarakat Penglipuran, kesejahteraan bukanlah alasan utama untuk menjaga tradisi.

“Kalau suatu saat desa kami tidak lagi menjadi destinasi wisata, kami tetap akan tinggal di sini dan tetap menjaga semuanya. Karena ini rumah kami,” kata Sumiarsa.

Bagi masyarakat Penglipuran, keberhasilan sesungguhnya bukanlah jumlah wisatawan atau besarnya pendapatan. Keberhasilan terbesar adalah ketika generasi berikutnya masih bisa mewarisi desa yang bersih, lestari, dan tetap berpegang pada nilai-nilai leluhur.

Dan mungkin itulah yang membuat Penglipuran berbeda. Wisatawan datang karena keindahannya, tetapi yang membuat mereka kembali adalah ketulusan masyarakatnya dalam menjaga rumah mereka sendiri.

Santi, salah satu daei puluhan mahasiswa Universitas Lampung, yang datang ke Bali untuk KKN merasa takjub dengan budaya Bali. Desa Panglipuran tertata rapi dan bersih.

“Di sini tradisi masih dipegang teguh oleh masyarakat. Lingkungan juga bersih, sehingga pantas ditetapkan sebagai desa wisata terbersih di dunia”, ujarnya kagum.

Selain melihat desa wisatanya yang asri, barang kerajinan yang dijual UMKM juga bagus-bagus dan unik. Sedangkan untuk harga masih terjangkau.

” Barang kerajinan UMKM yang dijual juga unik-unik, tidak heran banyak turis asing menyukainya,” katanya. (*)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.