Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Di Balik Meningkatnya Pasien Cuci Darah, JKN Menjaga Harapan Safaatun

Gotong Royong yang Menjaga Kehidupan

METROJATENG.COM, SEMARANG  – Setiap Senin dan Kamis pagi, Safaatun (72) berangkat menuju RS Panti Wilasa Citarum Semarang. Di ruang hemodialisa, perempuan lanjut usia itu harus berbaring selama hampir empat jam, sementara darahnya mengalir melalui selang menuju mesin yang mengambil alih fungsi kedua ginjalnya.

Rutinitas itu telah menjadi bagian dari hidupnya. Dua kali dalam sepekan. Tanpa boleh terlewat. Sebab bagi penyandang gagal ginjal kronis seperti dirinya, cuci darah bukan lagi sekadar pengobatan, melainkan cara untuk mempertahankan hidup.

Tak pernah terbayang sebelumnya, penyakit diabetes yang bertahun-tahun dideritanya akan berujung pada gagal ginjal. Dulu, Safaatun masih tinggal sendiri di rumah sederhana tipe 21 di Perumahan Plamongan Indah, Kota Semarang. Meski usianya tidak lagi muda, ia tetap produktif dengan menerima pesanan catering, mulai dari nadi kotak dan jajanan lainnya.

Namun semuanya berubah ketika hasil pemeriksaan laboratorium yang rutin dilakukan menunjukkan kadar kreatin dalam darahnya terus meningkat. Setelah menjalani berbagai pemeriksaan, dokter akhirnya menyatakan ginjalnya tidak lagi mampu bekerja secara optimal. Ia harus menjalani hemodialisa dua kali setiap minggu.

Vonis itu tidak hanya mengubah kondisi fisiknya, tetapi juga kehidupannya. Tubuhnya semakin lemah sehingga ia tak lagi mampu tinggal sendiri. Kini ia tinggal bersama putri semata wayangnya, Mastut ,  yang setiap hari mendampinginya menjalani pengobatan.

Yang paling membuatnya cemas saat itu bukan hanya penyakit yang dihadapi, tetapi juga biaya pengobatan yang harus dijalani seumur hidup.

Sebagai istri pensiunan guru, iuran BPJS Kesehatan selama ini dipotong langsung dari uang pensiun suaminya. Namun ketika pertama kali akan menjalani pengobatan, ia sempat kebingungan karena masih tercatat sebagai peserta Askes dan belum memahami proses peralihan ke Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Beruntung, petugas BPJS Kesehatan membantunya mengurus seluruh administrasi hingga akhirnya ia dapat menjalani pengobatan tanpa hambatan.

“Saya bersyukur menjadi peserta JKN. Di usia seperti sekarang saya tidak membebani putri saya, Mastut Wahyu Nugroho. Semua biaya cuci darah sudah ditanggung BPJS Kesehatan sehingga saya hanya perlu fokus menjalani pengobatan,” ujarnya.

Meski biaya pengobatan telah dijamin, perjuangan fisik tetap harus dijalani. Setiap selesai menjalani hemodialisa selama sekitar empat jam, tubuhnya terasa sangat lemas. Kepala pusing, disertai rasa mual hingga ingin muntah.

“Sakit itu tidak enak, apalagi harus cuci darah. Setelah selesai biasanya kepala pusing dan mual. Tapi besoknya badan sudah lebih segar lagi. Mau tidak mau saya harus menjalaninya supaya tetap hidup,” katanya.

Selama menjalani terapi, Safaatun melihat pemandangan yang membuatnya prihatin. Ruang hemodialisa tidak lagi didominasi pasien lanjut usia. Semakin banyak anak muda yang harus menjalani terapi yang sama.

“Saya sedih melihat banyak anak muda yang sudah cuci darah. Orang tua harus mengajarkan anak-anak menjaga pola makan dan hidup sehat sejak kecil. Jangan sampai mengalami seperti saya,” pesannya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar selalu menjaga kepesertaan JKN tetap aktif.

“Kita tidak pernah tahu kapan sakit datang. Selama masih mampu, bayarlah iuran tepat waktu. Saya merasakan sendiri manfaat BPJS Kesehatan. Kalau tidak ada JKN, mungkin saya tidak sanggup membayar biaya cuci darah,” tuturnya.

Kisah Safaatun hanyalah satu dari ribuan peserta JKN yang kini bergantung pada layanan hemodialisa. Di Kota Semarang dan Kabupaten Demak, jumlah pasien gagal ginjal kronis yang menjalani terapi terus meningkat.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Semarang,  Sari Quratul Ainy, menyampaikan   hingga pertengahan 2026 terdapat 286 mesin hemodialisa yang tersedia di berbagai fasilitas kesehatan mitra BPJS Kesehatan.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Semarang,  Sari Quratul Ainy,

 

Berdasarkan data BPJS Kesehatan Cabang Semarang, jumlah peserta JKN yang menjalani hemodialisa mencapai 12.342 kasus, meningkat 5,86 persen dibandingkan tahun 2025.

“Kami terus memastikan pelayanan berjalan sesuai standar dan kebutuhan pasien. Setiap pasien ditangani oleh Dokter Penanggung Jawab Pelayanan yang melakukan evaluasi kondisi klinis, memantau komplikasi, hingga menyesuaikan terapi sesuai indikasi medis,” kata Sari.

Namun, menurutnya, solusi tidak cukup hanya dengan menambah kapasitas layanan. Pencegahan harus menjadi perhatian utama. Karena itu BPJS Kesehatan terus mengembangkan skrining riwayat kesehatan melalui Aplikasi Mobile JKN untuk mendeteksi risiko diabetes, hipertensi, hingga penyakit ginjal kronis sejak dini.

Peserta yang teridentifikasi memiliki risiko tinggi akan diarahkan memeriksakan diri ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Jika diperlukan, pasien akan dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lanjutan, termasuk layanan hemodialisa yang seluruhnya dijamin Program JKN sesuai indikasi medis.

Komitmen yang sama juga dilakukan RS Panti Wilasa Citarum Semarang sebagai salah satu rumah sakit mitra BPJS Kesehatan.

Humas RS Panti Wilasa Citarum Semarang, Suko Dwi Nugroho, mengatakan rumah sakit berkomitmen memberikan pelayanan yang setara kepada seluruh pasien tanpa membedakan status pembiayaan.

“Prinsip kami tidak pernah membeda-bedakan pasien. Baik peserta JKN maupun pasien umum memperoleh pelayanan yang sama sesuai kebutuhan medis,” ujarnya.

Setiap hari, RS Panti Wilasa Citarum melayani sekitar 700 hingga 1.000 pasien. Untuk menjaga kualitas pelayanan di tengah tingginya kunjungan, rumah sakit terus melakukan berbagai inovasi berbasis digital.

Pasien baru memang perlu datang ke rumah sakit untuk proses identifikasi dan pembuatan rekam medis. Namun setelah terdaftar, proses pendaftaran berikutnya dapat dilakukan melalui Aplikasi Mobile JKN yang telah terintegrasi dengan sistem rumah sakit.

“Pendaftaran melalui Mobile JKN langsung terhubung dengan sistem kami. Bahkan informasi ketersediaan tempat tidur juga dapat dilihat melalui aplikasi sehingga pasien memperoleh kepastian sebelum datang ke rumah sakit,” jelasnya.

Rumah sakit juga menyediakan Anjungan Pendaftaran Mandiri (APM) sehingga pasien dapat mencetak Surat Tanda Pendaftaran secara mandiri tanpa harus mengantre di loket.

Sementara pada layanan farmasi, pasien diberikan beberapa pilihan, mulai dari menunggu obat selesai disiapkan, mengambil obat keesokan hari, hingga memanfaatkan layanan pengantaran obat ke rumah.

“Jumlah pasien kami cukup tinggi sehingga pada jam-jam tertentu antrean tidak dapat dihindari. Karena itu kami memberikan beberapa pilihan layanan agar pasien tetap nyaman,” kata Suko.

Menurutnya, koordinasi antara rumah sakit dengan BPJS Kesehatan juga berjalan sangat baik, termasuk dalam penyelesaian administrasi klaim.

“Komunikasi dengan BPJS Kesehatan berlangsung setiap hari. Bahkan sebelum batas waktu pengajuan klaim, seluruh berkas biasanya sudah kami kirim sehingga pelayanan kepada peserta tidak terganggu,” ujarnya.

Suko juga mengajak masyarakat memanfaatkan berbagai layanan digital yang telah disediakan BPJS Kesehatan melalui Mobile JKN sekaligus memastikan kepesertaan tetap aktif.

“Sekarang hampir semua layanan sudah mengarah ke digital. Manfaatkan Mobile JKN dan pastikan kepesertaan tetap aktif. Jangan menunggu sakit baru mengurus administrasi,” pesannya.

Sementara itu, Ketua Tim Kendali Mutu dan Kendali Biaya BPJS Kesehatan Cabang Semarang, Sigid Kirana Lintang Bhima, menilai meningkatnya jumlah pasien hemodialisa menjadi alarm bagi masyarakat.

Menurutnya, penyakit kronis kini mulai bergeser ke usia produktif sehingga upaya promotif dan preventif harus diperkuat.

“Ke depan kami berharap Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) juga semakin menyasar usia muda. Pencegahan jauh lebih baik daripada harus menjalani terapi cuci darah seumur hidup,” katanya.

Sigid mengaku memahami beratnya perjuangan pasien gagal ginjal kronis. Ibunya sendiri pernah menjalani hemodialisa selama tujuh tahun dengan pembiayaan melalui Program JKN.

Pengalaman itu membuatnya menyadari bahwa JKN bukan sekadar menjamin biaya pelayanan kesehatan, tetapi juga menghadirkan ketenangan bagi pasien dan keluarganya.

Bagi Safaatun, setiap kali mesin hemodialisa mulai bekerja, ia sadar hidupnya memang telah berubah. Namun di balik suara mesin yang tak pernah berhenti itu, ia menemukan harapan. Harapan untuk tetap hidup, berkumpul bersama keluarga, dan menikmati masa tua tanpa dibayangi biaya pengobatan yang sangat besar.

Di tengah meningkatnya jumlah pasien gagal ginjal kronis, kisah Safaatun menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan sejak dini adalah investasi terbaik. Sebab ketika penyakit datang, bukan hanya tubuh yang diuji, tetapi juga ketahanan ekonomi keluarga. Dan bagi ribuan peserta JKN, gotong royong dalam Program JKN menjadi penopang agar harapan itu tetap hidup. (*)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.