Terapi Mioma Tanpa Operasi, RSI Sultan Agung Tawarkan Metode Regeneratif
Oleh : - dr. Agus Ujianto, M.Si.Med, Sp.B - Direktur Utama RSI Sultan Agung Semarang
METROJATENG.COM, SEMARANG – Terapi mioma uteri kini memasuki babak baru tanpa harus melalui tindakan operasi. Pendekatan kedokteran regeneratif mulai dikembangkan dengan memanfaatkan sel tubuh sendiri untuk penyembuhan.
Direktur Utama RSI Sultan Agung dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUa yang juga Ketua Umum PREDIGTI dan kandidat doktoral Studi Islam UIN Saizu Purwokerto mengatakan terapi ini mengandalkan kemampuan tubuh memperbaiki jaringan secara alami. Pendekatan tersebut menjadi alternatif dari metode konvensional yang selama ini identik dengan pembedahan.
“Terapi ini memberi mandat pada tubuh untuk menyembuhkan dirinya sendiri tanpa harus memotong organ,” katanya.
Ia menjelaskan mioma bukan sekadar benjolan biasa. Kondisi ini merupakan pertumbuhan otot polos rahim yang disertai penumpukan kolagen atau fibrosis.
Pendekatan terapi yang dikembangkan tidak lagi fokus pada pengangkatan jaringan. Namun lebih pada proses remodeling atau perbaikan jaringan melalui mekanisme biologis.
Menurutnya, salah satu inovasi utama adalah penggunaan akses endovaskular. Teknik ini dilakukan melalui kateterisasi pembuluh darah menuju arteri uterina.
Metode tersebut memungkinkan sel terapi dihantarkan langsung ke pusat mioma. Dengan cara ini distribusi sel lebih merata dan pemulihan pasien menjadi lebih cepat.
“Distribusi sel langsung ke pusat vaskularisasi membuat terapi lebih presisi dan minim risiko perlengketan,” ujarnya.
Selain itu, diterapkan strategi “sandwich” dengan kombinasi terapi lokal dan sistemik. Terapi melibatkan secretome, sel mononuklear darah, serta platelet-rich plasma (PRP).
Pemberian dilakukan melalui tiga jalur, yakni endovaskular untuk target lokal, intravena untuk dukungan sistemik, dan intramuskular sebagai terapi pemeliharaan. Pendekatan ini bertujuan memastikan hasil jangka panjang lebih optimal.
Ia menambahkan mekanisme kerja terapi melibatkan komunikasi antar sel melalui sinyal biologis. Proses ini memicu migrasi sel penyembuh menuju lokasi mioma untuk memperbaiki jaringan.
“Sel-sel tubuh akan bergerak menuju area sakit dan melakukan perbaikan secara alami melalui proses homing,” jelasnya.
Agus menegaskan terapi ini juga telah sejalan dengan tren global di berbagai negara. Sejumlah penelitian menunjukkan terapi regeneratif mampu mengurangi fibrosis dan mempertahankan organ rahim.
Ia juga meluruskan anggapan bahwa terapi sel dapat memperbesar tumor. Menurutnya, justru mekanisme terapi bekerja menghambat pertumbuhan dan memicu kematian sel abnormal.
“Terapi ini bukan memperbesar tumor, tetapi memperbaiki jaringan dan memicu apoptosis sel mioma,” tegasnya.
RSI Sultan Agung menggunakan pendekatan BiSQuAT untuk memantau keberhasilan terapi. Penilaian meliputi aspek biologis, imunologis, gejala klinis, kualitas hidup, anatomi, dan teknologi.
Ke depan, terapi regeneratif diharapkan menjadi solusi baru bagi pasien mioma. Pendekatan ini menawarkan penyembuhan yang lebih minim risiko dan tetap menjaga keutuhan organ.(ris)
Comments are closed.