Algoritma Media Sosial Dinilai Semakin Mengendalikan Pilihan Pengguna, Kesadaran Digital Jadi Kunci
*Oleh : Yohana Alexandra Christa - Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Hukum dan Komunikasi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang
METROJATENG.COM, SEMARANG- Kehadiran algoritma di media sosial semakin memengaruhi cara masyarakat mengakses informasi, hiburan, hingga menentukan pilihan konsumsi. Di balik kemudahan menemukan konten yang sesuai minat, algoritma juga dinilai berpotensi membatasi sudut pandang pengguna jika tidak disikapi secara kritis.
Laporan Digital Indonesia 2026 mencatat sebanyak 180 juta masyarakat Indonesia aktif menggunakan media sosial. Namun, sebagian besar konten yang muncul di beranda atau For You Page (FYP) bukan sepenuhnya dipilih oleh pengguna, melainkan telah diseleksi lebih dahulu oleh sistem algoritma berdasarkan rekam jejak aktivitas digital.
Algoritma rekomendasi bekerja dengan menganalisis berbagai aktivitas pengguna, seperti tanda suka (like), durasi menonton (completion rate), komentar, hingga konten yang dibagikan. Data tersebut kemudian digunakan untuk menyajikan konten yang dianggap paling relevan dengan preferensi masing-masing pengguna.
Fenomena ini sejalan dengan konsep filter bubble yang diperkenalkan oleh Eli Pariser dalam bukunya The Filter Bubble: What The Internet Is Hiding From You pada 2011. Melalui konsep tersebut dijelaskan bahwa dua orang dengan latar belakang serupa sekalipun dapat memperoleh hasil pencarian internet yang berbeda karena dipersonalisasi oleh algoritma.
Akibatnya, pengguna cenderung terus menerima informasi yang serupa dengan apa yang pernah mereka sukai sebelumnya. Kondisi ini memunculkan fenomena echo chamber, yaitu ruang informasi yang membuat seseorang hanya terpapar pada pandangan yang sejalan dengan keyakinannya sehingga perspektif terhadap suatu isu menjadi semakin sempit.
Dalam kajian komunikasi, kondisi tersebut juga dinilai menggeser peran teori Agenda Setting yang diperkenalkan oleh Maxwell McCombs dan Donald Shaw. Jika sebelumnya media menentukan isu penting bagi publik, kini algoritma lebih mengutamakan konten yang mampu membuat pengguna bertahan lebih lama di dalam aplikasi.
Contoh sederhana dapat terlihat ketika seseorang berulang kali menonton, menyukai, atau membagikan konten mengenai suatu produk, seperti pengering rambut. Dalam waktu singkat, algoritma akan terus menampilkan konten serupa hingga memunculkan kesan bahwa produk tersebut menjadi kebutuhan, meskipun sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
Meski demikian, algoritma tidak sepenuhnya dipandang negatif. Sistem tersebut tetap memberikan manfaat berupa kemudahan menemukan informasi dan konten yang sesuai kebutuhan pengguna.
Yang menjadi perhatian adalah pentingnya kesadaran digital agar masyarakat memahami bahwa konten yang mereka lihat telah dipersonalisasi. Dengan memahami cara kerja algoritma, pengguna diharapkan lebih kritis, berani mencari sudut pandang berbeda, serta mendorong platform digital untuk lebih transparan dalam menyajikan informasi.
Kesadaran tersebut dinilai menjadi langkah penting agar masyarakat tidak sekadar merasa sedang memilih informasi, tetapi juga memahami bahwa dalam banyak situasi, pilihan tersebut telah lebih dahulu dipengaruhi oleh algoritma.(**)
Comments are closed.