Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Gus Nasrul Serukan Kampus Jadi Pelopor Birrul Walidain di Tengah Degradasi Akhlak Generasi Muda

METROJATENG.COM, SEMARANG- Suasana Salat Jumat di Masjid Abu Bakar As-Shiddiq Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang berlangsung berbeda. Pakar Maqashid Syariah Indonesia, DR KH Nasrulloh Afandi, Lc, MA atau akrab disapa Gus Nasrul, hadir sebagai khatib sekaligus imam dengan mengangkat tema “Kiat Tepat Birrul Walidain bagi Akademisi di Tengah Kemajuan Teknologi”, Jumat (3/7/2026).

Dalam khutbahnya, Gus Nasrul yang juga Direktur Institut Maqashid Syariah Indonesia menegaskan, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam melahirkan perubahan besar di tengah masyarakat. Ia mengutip pandangan ulama besar pakar Maqashid Syariah asal Tunisia, Syeikh Thahir bin Asyur, dalam kitab An-Nidham al-Ijtimai fil Islam yang menyebut kalangan akademisi sebagai kelompok penting untuk mendorong kemajuan di berbagai bidang.

“Lingkaran akademisi adalah pijakan strategis untuk diajak melakukan perubahan besar menuju kemajuan, dalam bidang apa pun,” tegas Gus Nasrul.

Menurutnya, kemajuan teknologi dan persaingan global harus diiringi dengan penguatan akhlak. Terlebih, derasnya arus media sosial saat ini dinilai berpotensi membuat generasi muda semakin jauh dari nilai-nilai akhlakul karimah.

“Dari Kampus Unissula ini mari kita gelorakan, sudah saatnya generasi muda dan kalangan akademisi menjadi pelopor birrul walidain, berbakti kepada orang tua, baik orang tua biologis maupun orang tua ideologis seperti guru, dosen, dan pembimbing,” ujarnya.

Ketua Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu berharap Unissula dapat menjadi contoh nasional bahkan internasional sebagai kampus yang melahirkan mahasiswa berkarakter dan menjunjung tinggi penghormatan kepada orang tua.

“Kita membayangkan, jika Unissula dikenal sebagai kampus dengan mahasiswa-mahasiswi yang menjadi pelopor generasi bangsa yang berbakti kepada kedua orang tua, tentu menjadi sesuatu yang sangat indah,” tutur Gus Nasrul.

Ia menilai, penghormatan kepada orang tua merupakan bagian penting dari karakter akademisi. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dituntut unggul dalam ilmu pengetahuan, inovasi, maupun penelitian, tetapi juga memiliki etika dan integritas.

“Contoh kecilnya, tidak ada lagi mahasiswa yang berbohong kepada orang tuanya maupun kepada dosennya, baik terkait kewajiban mata kuliah maupun pembayaran kuliah,” ucapnya.

Gus Nasrul menjelaskan, komunitas akademisi sering dikaitkan dengan inovasi keilmuan dan gerakan perubahan sosial. Namun, di balik peran tersebut, terdapat kewajiban mendasar yang harus dijalankan setiap individu, yakni berbakti kepada kedua orang tua.

“Menciptakan inovasi atau penelitian bukan kewajiban bagi setiap orang Islam, begitu pula berdemonstrasi menegakkan keadilan cukup diwakili sebagian orang. Tetapi birrul walidain adalah kewajiban setiap anak kepada kedua orang tuanya,” jelas Gus Nasrul yang juga alumnus Pesantren Lirboyo Kediri itu.

Ia mengajak mahasiswa untuk membiasakan meminta doa dan restu orang tua maupun dosen sebelum menjalani ujian, penelitian, atau aktivitas penting lainnya. Menurutnya, hal sederhana tersebut merupakan bentuk akhlak mulia yang mencerminkan penghormatan terhadap orang yang berjasa dalam kehidupan mereka.

“Mengindahkan nasihat orang tua dan dosen, fokus dalam kuliah, menjauhi hal-hal yang tidak produktif, serta menjaga pergaulan juga merupakan bagian dari berbakti,” katanya.

Dalam khutbahnya, Gus Nasrul juga mengutip firman Allah SWT dalam QS An-Nisa ayat 36 tentang perintah berbuat baik kepada kedua orang tua setelah perintah menyembah Allah. Ia menyebut posisi perintah tersebut menunjukkan betapa tingginya kedudukan birrul walidain dalam ajaran Islam.

Ia juga mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan At-Tirmidzi bahwa keridaan Allah bergantung pada keridaan orang tua, sedangkan murka Allah berada pada murka orang tua.

“Berjuta-juta ibadah dan doa akan sia-sia jika seseorang tidak berbakti kepada kedua orang tuanya. Naudzubillah min dzalik, semoga kita semua dilindungi Allah dari hal tersebut,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Gus Nasrul menegaskan bahwa konsep berbakti kepada orang tua tidak hanya terbatas kepada ayah dan ibu yang melahirkan, tetapi juga kepada guru, dosen, ustaz, dan siapa pun yang memberikan ilmu serta membimbing seseorang menjadi lebih baik.

“Bukan hanya orang tua kandung, tetapi juga guru, dosen, dan para pendidik kita yang telah membimbing dan mengarahkan kehidupan kita. Mereka semua wajib kita hormati,” terangnya.

Di akhir khutbah, Gus Nasrul mengajak jamaah mengambil pelajaran dari kisah Syeikh Abdul Qadir Jailani yang dikenal sebagai salah satu ulama besar dan pemimpin para wali. Menurutnya, salah satu kunci kemuliaan Syeikh Abdul Qadir Jailani adalah ketaatan dan baktinya kepada sang ibu.

“Syeikh Abdul Qadir Jailani sejak kecil dikenal taat kepada orang tua, tidak pernah berbohong, dan selalu mengikuti nasihat ibunya. Dari situlah salah satu sebab namanya harum hingga kini,” pungkas Gus Nasrul.(ris)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.