Olahraga Panas Masih Dianggap Efektif Bakar Lemak, Benarkah? Ini Penjelasan Ahlinya
METROJATENG.COM, SEMARANG – Banyak orang sengaja berolahraga di bawah terik matahari atau memilih kelas olahraga bersuhu tinggi seperti hot workout dan Bikram yoga demi satu tujuan: lebih banyak berkeringat. Selama ini, keringat sering dianggap sebagai tanda tubuh sedang membakar lemak lebih banyak. Namun, para ahli menegaskan bahwa anggapan tersebut keliru.
Secara medis, keringat adalah mekanisme alami tubuh untuk mendinginkan suhu saat aktivitas fisik meningkat. Artinya, banyaknya keringat tidak selalu menunjukkan Anda berolahraga lebih keras atau membakar lebih banyak kalori.
Produksi keringat dipengaruhi banyak faktor, bukan hanya intensitas aktivitas. Beberapa faktor tersebut antara lain:
-
Jenis kelamin: Wanita memiliki lebih banyak kelenjar keringat, tetapi kelenjar pria bekerja lebih aktif sehingga pria umumnya berkeringat lebih banyak.
-
Kondisi tubuh: Orang yang bugar justru berkeringat lebih cepat karena tubuh mereka lebih efisien dalam mengatur suhu.
-
Berat badan: Individu dengan obesitas berkeringat lebih banyak karena lemak bertindak sebagai insulator panas.
-
Usia: Orang muda cenderung menghasilkan keringat lebih banyak dibanding orang tua.
-
Lingkungan dan pakaian: Ruangan panas, pakaian sintetis, hingga angin dapat memengaruhi cepat atau lambatnya keringat keluar.
“Banyak berkeringat bukan berarti banyak membakar lemak. Itu hanya respons tubuh terhadap panas,” jelas para peneliti.
Popularitas olahraga panas seperti Bikram yoga turut memicu anggapan keliru bahwa latihan bersuhu tinggi membantu percepatan pembakaran lemak. Namun, sebuah studi dari Journal of Strength and Conditioning Research menunjukkan hasil berbeda.
Dalam kelas Bikram yoga 90 menit,
-
pria membakar sekitar 410 kalori,
-
wanita sekitar 330 kalori.
Jumlah ini hampir sama dengan jalan cepat, dan jauh di bawah latihan kardio seperti berlari pada kecepatan 5 mph yang mampu membakar 600 kalori dalam 60 menit.
Penurunan Berat Badan Sementara
Berat tubuh memang bisa turun setelah olahraga panas, tetapi hal itu terjadi karena cairan tubuh hilang lewat keringat. Setelah minum dan tubuh kembali terhidrasi, berat badan biasanya kembali seperti semula.
Sebaliknya, sedikitnya keringat bukan berarti olahraga Anda tidak efektif. Kondisi lingkungan sangat berpengaruh — misalnya berlatih di ruangan ber-AC atau di luar ruangan yang sejuk, di mana keringat menguap lebih cepat sehingga tidak terlihat menetes.
Keringat bukan indikator utama pembakaran kalori atau penurunan lemak. Yang menentukan efektivitas olahraga adalah intensitas gerakan, durasi latihan, dan konsistensi berolahraga, bukan seberapa basah pakaian.
Comments are closed.