“Pelita dari Luka”: Kisah Kartika Widjaja yang Menyalakan Harapan dari Setiap Cobaan
METROJATENG.COM, PURWOKERTO – “Kesembuhan sejati bukan sekedar berhenti minum obat, tapi saat hidup kita mulai menjadi berkat bagi orang lain”. Salah satu quote orisinal dari Kartika Widjaja ini banyak memantik sisi kemanusiaan dan masih banyak lagi quote-quote lain yang juga sangat menginspirasi dalam buku ‘Pelita dari Luka’ yang baru dilounching, Sabtu (6/12/2025) malam di White House de Noyas, Cilongok, Kabupaten Banyumas.
Buku yang terdiri dari 495 halalam, 74 cerita pendek, 2 epilog dan juga dilengkapi dengan 5 resep turun-temurun keluarga Kartika Widjaja yang sudah teruji ini, sangat menarik untuk dibaca hingga akhir.
Di sela-sela louncing buku, Kartika bercerita, terlepas dari berbagai macam perjalanan hidup yang banyak cobaan dan anugerah, hidup itu indah dan Tuhan selalu hadir sebagai pelita. Karena itu lah, dari berbagai cobaan hidup dan luka yang pernah ada, Kartika ingin memberikan pelita, agar membawa manfaat bagi banyak orang.
“Spirit menjalani kehidupan, belajar siap dan siap belajar, karena sebenarnya kita tidak pernah siap menghadapi berbagai hal, sebab selalu ada tantangan baru sesudahnya,” tuturnya.
Buku ini, lanjut Kartika, bercerita tentang kisah perjalanan hidupnya dari kecil, bagaimana ia digembleng menjadi atlet tenis, guru piano, hingga karakter yang penuh keberanian terbentuk dan menjadi problem solver di berbagai organisasi yang diikutinya. Termasuk juga perjalanannya saat divonis kanker, perjuangannya untuk sembuh hingga sekarang menjadi aktivis di Himpunan Masyarakat Peduli Leukemia (Elgeka).
“Pendidikan dari orang tua, sangat membentuk karakter saya sekarang ini. Setelah menyelesaikan buku ini, saya melihat ada benang merah, cerita dalam kehidupan berubah-ubah, namun spirit yang dipegang harus sama, yaitu orang hidup harus amanah,” ucapnya.
Kartika mengaku, perjalanan 8 bulan pembuatan buku ini cukup melelahkan dan ia pernah hampir menyerah. Hingga akhirnya ada salah satu koleganya, Shanti K. Nugroho yang membantu penulisan buku ini sampai selesai.

Ketabahan, Pengabdian dan Pertumbuhan
Sementara itu, dalam sesi dialog, Konsep dan Editor buku Pelita dari Luka, Shanti K. Nugroho memaparkan tentang banyaknya peran Kartika Widjaja, sebagai ibu, istri, oma, pemimpin, pejuang kanker, dan mentor keuangan. Shanti memilih fokus pada nilai-nilai yang membentuk Kartika, yaitu tentang ketabahan, pengabdian, dan pertumbuhan.
“Tiga kunci ini menjadi magnet sendiri, yang membuat pembaca tidak hanya mengenal tokohnya, tapi juga merasa ikut tumbuh bersamanya,” jelasnya.
Proses kreatif buku ini cukup panjang, Shanti bahkan sampai mempelajari sejarah sosial Purwokerto bahkan Indonesia, terutama dinamika pendidikan Tionghoa sebelum 1966 dan perkembangan keluarga Kho. Ia juga banyak membaca buku sejarah Tionghoa, THHK, Ongkokham, Novi basuki, hingga Peter Kasenda dan lainnya.
Shanti memaparkan, buku ini lahir bukan hanya dari kisah hidup seseorang, tetapi dari sebuah perjalanan panjang seorang manusia yang punya resonansi universal mengenai perjuangan perempuan, keluarga, kesehatan, keteguhan iman, hingga bangkit setelah kehilangan. Dimana Kartika Widjaja bukan sekadar tokoh, tetapi simbol dari perempuan Indonesia yang multitasking dan multitough.
“Saya berharap buku ini hidup lebih panjang daripada sesi launching-nya, dimana buku ini bisa menjadi teman untuk perempuan yang sedang lelah, untuk orang tua yang sedang berjuang dan untuk keluarga yang ingin menemukan arah. Saya juga berharap buku ini membuka jalan bagi tumbuhnya gerakan Empowering Life Community, sehingga kisah ini bukan hanya dibaca, tapi dilanjutkan oleh banyak orang,” ungkapnya.
Energi Positif
Salah satu yang membuat buku ini istimewa adalah kata pengantar dari Andi F Noya, sekaligus juga dilounching di rumah kediaman presenter senior tersebut. Di sela lounching, Andi F Noya sempat bercerita, bahwa energi positif yang dimiliki oleh seorang Kartika Widjaja sangat luar biasa.
“Bagi sebagian orang, ketika mengalami cobaan hidup, misalnya terkena penyakit berisiko tinggi, seperti kanker, akan merasa hidupnya berakhir. Tetapi Bu Kartika ini luar biasa, dan semangatnya untuk bangkit harus ditularkan kepada banyak orang. Energi positifnya luar biasa, bahkan melebihi orang yang sehat,” ucapnya.
“Pelita dari Luka” bukan hanya buku untuk dibaca, melainkan pengalaman yang dirasakan. Melalui kisah-kisahnya, Kartika Widjaja mengingatkan bahwa luka bukan akhir perjalanan, melainkan tempat cahaya pertama kali menembus masuk. Dalam setiap tantangan, selalu ada ruang untuk tumbuh, berbagi, dan memaknai hidup dengan cara yang lebih dalam.
Pada akhirnya, buku ini mengajak pembaca melihat bahwa pelita itu tidak datang dari kesempurnaan, melainkan dari keberanian untuk bangkit, mengampuni, dan terus melangkah. Kartika telah menyalakan pelitanya dan kini, ia mengundang kita semua untuk membawa cahaya itu lebih jauh.
Comments are closed.