Kemarau Basah Tak Ganggu Produksi Pisang Banyumas, Distribusi Menguat hingga Pasar Nasional
BERITA ADVETORIAL
METROJATENG.COM, PURWOKERTO – Fenomena kemarau basah yang terjadi pada tahun 2025 membawa dampak beragam bagi sektor pertanian di Banyumas. Kondisi cuaca yang tidak menentu, ditandai dengan hari-hari kering namun diselingi curah hujan tinggi, membuat sebagian komoditas hortikultura mengalami penurunan kualitas dan kuantitas produksi. Namun, di tengah tantangan tersebut, pisang muncul sebagai komoditas yang tetap stabil bahkan mencatatkan kenaikan produksi.
Menurut Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinpertan KP Banyumas, Iin Dwi Sulistyatik, cuaca ekstrem menyebabkan banyak tanaman buah kehilangan hasil akibat kerontokan. Alpukat dan durian menjadi dua komoditas yang paling terdampak.
“Banyak produksi hortikultura menurun tahun ini seperti alpukat dan durian. Padahal biasanya produksi durian kita sangat bagus. Tetapi karena cuaca ekstrem, tahun ini durian mengalami penurunan sekitar 0,2 persen,” jelasnya.
Data Dinpertan KP Banyumas menunjukkan pola penurunan yang cukup signifikan pada alpukat sejak triwulan pertama.
-
Pada triwulan pertama 2025, produksi alpukat tercatat 2.427 kwintal.
-
Triwulan kedua turun menjadi 528 kwintal.
-
Triwulan ketiga naik kembali ke 3.589 kwintal.
Secara keseluruhan, hingga triwulan ketiga 2025, total produksi alpukat hanya mencapai 3.536 kwintal. Angka ini jauh di bawah realisasi tahun 2024 yang mencapai 9.562 kwintal.
Sementara itu, durian yang biasanya menjadi komoditas unggulan Banyumas juga mengalami tekanan produksi.
-
Triwulan pertama 2025 mencatat 23.131 kwintal.
-
Triwulan kedua 3.075 kwintal.
-
Triwulan ketiga mencapai 9.753 kwintal
Sehingga totalnya 35.958 kwintal. Meski tidak turun terlalu tajam, capaian ini masih lebih rendah dibanding 38.665 kwintal pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Iin menjelaskan bahwa curah hujan yang mengguyur selama masa pembungaan dan pembesaran buah menjadi penyebab utama penurunan tersebut. Banyak bunga dan buah muda yang rontok sebelum panen sehingga kuantitas produksi terdampak langsung.

Pisang Menjadi Penopang Sektor Hortikultura
Berbeda dengan alpukat dan durian, tanaman pisang menunjukkan ketahanan yang lebih baik terhadap anomali cuaca. Bahkan, produksinya mengalami pertumbuhan selama 2025.
-
Triwulan pertama produksi pisang mencapai 98.357 kwintal.
-
Triwulan kedua 82.075 kwintal.
-
Triwulan ketiga 93.302 kwintal.
Sehingga total sementara mencapai 273.733 kwintal. Capaian ini naik cukup signifikan dibanding total produksi tahun 2024 yang sebesar 250.384 kwintal.
“Selain produksinya yang stabil, kemampuan pisang beradaptasi dengan berbagai kondisi cuaca membuatnya menjadi komoditas yang tetap dapat diandalkan. Ini menjadi kabar baik bagi petani di Banyumas,” ujar Iin.
Iin menambahkan, keberhasilan produksi pisang di Banyumas juga didukung oleh jaringan distribusi yang semakin kuat. Pasar Pisang Ajibarang menjadi pusat perdagangan penting, tidak hanya bagi petani lokal tetapi juga bagi pemasok dari daerah lain di sekitar Banyumas.
“Pasar Pisang Ajibarang menampung pisang dari Banyumas dan berbagai daerah lain. Dari pasar ini, pengiriman keluar kota juga sangat aktif, mulai dari Jakarta, Bandung, hingga beberapa kota besar lainnya,” ungkapnya.
Dengan jalur distribusi yang semakin luas, pisang Banyumas semakin dikenal sebagai komoditas berkualitas yang mampu memenuhi permintaan pasar dalam jumlah besar secara konsisten.
Keunggulan Banyumas tidak hanya terletak pada volume produksi, tetapi juga pada keragaman varietas. Beberapa jenis pisang yang banyak dibudidayakan antara lain Pisang Kepok, Raja Bulu, Ambon, hingga varietas lokal yang memiliki cita rasa khas dan diminati pasar. Keanekaragaman ini memberi nilai tambah bagi pelaku usaha, karena mereka dapat menyuplai berbagai kebutuhan konsumen, mulai dari konsumsi rumah tangga, industri makanan, hingga perdagangan grosir.
Meski beberapa komoditas hortikultura masih menghadapi tantangan, pemerintah daerah melalui Dinpertan KP terus melakukan pendampingan kepada petani agar dapat beradaptasi dengan kondisi cuaca yang berubah-ubah. Edukasi terkait perawatan tanaman, manajemen air, hingga strategi panen terus digencarkan agar produksi di tahun-tahun mendatang lebih stabil. Dengan produksi pisang yang meningkat dan pasar yang terus berkembang, Banyumas diharapkan dapat mempertahankan posisinya sebagai salah satu sentra hortikultura penting di Jawa Tengah.
Comments are closed.