DPR RI Desak Kasus Kematian Aktivis NTT Diusut Tuntas
METROJATENG.COM, JAKARTA – Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo Pareira, angkat suara terkait meninggalnya aktivis muda Nusa Tenggara Timur (NTT), Vian Ruma, yang dikenal vokal menolak proyek geotermal di Pulau Flores. Andreas menyampaikan duka cita mendalam sekaligus menegaskan bahwa kasus ini tidak boleh dipandang remeh.
“Ini bukan sekadar kabar duka tentang hilangnya nyawa seorang anak bangsa. Ada isu serius soal perlindungan hak asasi manusia dan kebebasan berekspresi yang harus dijawab negara,” tegas Andreas dalam keterangan resmi, Rabu (10/9/2025).
Legislator asal Dapil NTT I itu mendesak aparat penegak hukum bekerja transparan dan independen. Menurutnya, kasus Vian harus diungkap berdasarkan fakta agar tidak menimbulkan spekulasi liar di masyarakat.
Sebagaimana diketahui, Vian Ruma (30) ditemukan meninggal di sebuah pondok di Desa Tonggo, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Jumat (5/9/2025). Saat itu, motor dan telepon genggamnya berada tak jauh dari lokasi. Namun, bercak darah di sekitar tempat kejadian memunculkan dugaan adanya tindak kekerasan.
Keluarga juga menilai banyak kejanggalan. Tali yang melilit leher Vian disebut hanya tali sepatu, sementara posisi kaki korban masih menempel di lantai. Kondisi ini membuat mereka yakin ada faktor lain yang menyebabkan kematian sang aktivis.
Vian dimakamkan sehari setelah ditemukan, Sabtu (6/9), di kampung halamannya di Desa Ngera, Kecamatan Keo Tengah. Namun, keluarga tetap menuntut penyelidikan serius agar kebenaran bisa terungkap.
Desakan Penguatan Perlindungan HAM
Andreas menilai tragedi ini seharusnya menjadi momentum memperkuat regulasi perlindungan terhadap aktivis dan pembela HAM di Indonesia. Negara, ujarnya, wajib memastikan setiap warga bisa menyampaikan pendapat tanpa takut mengalami intimidasi, kriminalisasi, apalagi kekerasan.
“Reformasi regulasi di bidang HAM harus berjalan nyata. Kritik masyarakat terhadap pembangunan, termasuk sektor energi, jangan sampai dibungkam dengan cara-cara represif,” katanya.
Ia juga mengingatkan, pembangunan sejati hanya bisa berjalan jika selaras dengan penghormatan hak asasi manusia. “Tragedi ini adalah pengingat bahwa negara tidak boleh abai. Setiap warga, terutama aktivis lingkungan, harus dilindungi,” pungkas Andreas.
Comments are closed.