Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Jejak Perjuangan Diponegoro di Magelang: Padepokan yang Menyimpan Pedang Berdarah dan Kisah Strategi Perang

METROJATENG.COM, MAGELANG – Di perbukitan Menoreh, Desa Bumiharjo, Borobudur, berdiri sebuah rumah tua yang menyimpan rahasia besar perjuangan bangsa. Padepokan Diponegaran, milik keturunan keenam Pangeran Diponegoro, Gus Farid Diponegaran, menjadi saksi bisu perang Jawa (1825–1830) yang menggetarkan nusantara.

Di tempat inilah sang pahlawan menghabiskan sekitar lima tahun hidupnya, menyusun strategi melawan kolonial Belanda, mengajar santri ilmu agama, kanugaran (beladiri), dan taktik perang. Padepokan ini juga menjadi titik perpisahan terakhir Pangeran Diponegoro dengan keluarga dan pengikut setianya, sebelum ditangkap Jenderal De Kock pada 28 Maret 1830.

Jejak sejarah masih tersisa nyata. Di halaman, terdapat lesung besar tempat air minum kuda putih kesayangan sang pangeran, serta batu persegi berukuran 50×50 cm yang konon menjadi “singgasana” beliau. Di dalam padepokan, tersimpan pusaka berharga: tombak Kyai Purbonagarito, tongkat komando Kyai Sapu Jagad, keris Kyai Ilang Upit dan Kyai Singkir, hingga sebilah pedang berangka tahun XI yang gagangnya masih berlumur bekas darah musuh.

“Ini pedang asli beliau, digunakan untuk melawan musuh-musuhnya,” ujar Gus Farid, Rabu (6/8).

Keturunan Pangeran Diponegoro, kata Gus Farid, kini tersebar di berbagai penjuru nusantara, termasuk ratusan keluarga di Magelang yang beberapa di antaranya menjabat kepala desa sekitar Candi Borobudur. Meski terpencar, tali silaturahmi tetap terjaga. Mereka rutin berkumpul setiap “selapanan” (40 hari sekali), bahkan berhubungan dengan anggota padepokan di Belanda dan pecahan Uni Soviet untuk mempelajari kembali spiritualitas Jawa ala sang pahlawan.

“Kita tetap melestarikan ajaran beliau, sekaligus menjaga pusaka dan nilai-nilai perjuangan yang diwariskan,” tegasnya.

Comments are closed.