Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Pasar Tradisional Bogor Kembali Bergairah Usai Mentan Bongkar Kasus Beras Oplosan

METROJATENG.COM, BOGOR – Suasana Pasar Leuwiliang, Kabupaten Bogor, dalam sepekan terakhir terasa berbeda. Hiruk pikuk pembeli kembali terdengar riuh, terutama di deretan kios beras. Fenomena ini terjadi setelah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bersama Satgas Pangan Mabes Polri mengungkap praktik pengoplosan beras di wilayah Jabodetabek.

Kasus yang menyeruak ke publik ini sontak memicu gelombang pergeseran perilaku belanja masyarakat. Banyak konsumen yang sebelumnya membeli beras di ritel modern kini beralih ke pasar tradisional. Alasannya sederhana: rasa percaya.

Kepala Pasar Leuwiliang, Mulyadi, mengatakan peningkatan jumlah pembeli beras di pasar tradisional cukup signifikan. “Memang ada lonjakan setelah kasus beras oplosan ramai diberitakan. Warga lebih nyaman belanja di sini karena sudah kenal pedagangnya,” ujar Mulyadi.

Menurutnya, di pasar tradisional, interaksi antara pedagang dan pembeli terjalin secara langsung. Hubungan personal ini menjadi modal kepercayaan yang sulit tergantikan oleh suasana formal ritel modern. “Kalau ada yang tidak sesuai, pembeli bisa langsung komplain. Pedagang juga menjaga nama baiknya,” imbuhnya.

Salah satu pedagang beras, Haji Pepen (45), merasakan betul dampak positif pengungkapan kasus tersebut. “Sejak berita itu keluar, pembeli makin banyak. Mereka tanya, ini beras asli atau oplosan, begitu dijawab asli, mereka langsung beli. Pasar kembali hidup,” tuturnya.

Pepen mengaku sebelum kasus ini mencuat, penjualannya sempat stagnan karena persaingan harga dengan ritel modern. Kini, dengan kembalinya kepercayaan pembeli, omzetnya mulai merangkak naik.

Langkah Tegas Pemerintah

Operasi pengungkapan beras oplosan dilakukan di beberapa titik distribusi. Beras kualitas rendah dicampur dengan beras kualitas lebih baik, lalu dikemas ulang dan dijual dengan harga tinggi. Praktik ini merugikan konsumen sekaligus merusak persaingan usaha yang sehat.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah tidak akan memberi ruang bagi pelaku kecurangan pangan. “Ini soal keadilan untuk petani dan perlindungan bagi masyarakat. Kita akan tindak tegas agar pelaku jera,” katanya.

Pasar tradisional seperti Pasar Leuwiliang kini menjadi simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Selain menggerakkan perdagangan lokal, pasar juga menjadi pusat interaksi sosial yang tak tergantikan. Dengan meningkatnya arus pembeli, para pedagang berharap langkah tegas pemerintah tidak berhenti pada satu kasus saja, melainkan menjadi program berkelanjutan.

“Kami pedagang kecil ingin usaha kami dilindungi, dan pembeli tetap percaya,” tutup Haji Pepen.

Comments are closed.