Dejarumi, Menjahit Mimpi dari Kamar Kos hingga Menembus Panggung Nasional
METROJATENG.COM, PURWOKERTO – ‘Mimpi adalah jawaban hari atas pertanyaan-pertanyaan esok’. Kalimat dari ahli diagnosis psikis, Edgar Cayce tersebut, seolah menjadi kenyataan bagi Ari Nugroho, pemuda asal Purwokerto yang kini sukses membawa brand busana lokalnya, Dejarumi, menembus pasar nasional.
Semua berawal dari sebuah kamar kos sempit berukuran 3 x 2,5 meter. Di sanalah Ari menumpahkan hobinya menggambar desain baju di sela-sela kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto. Meski ia mengambil jurusan Administrasi Publik, hasratnya terhadap dunia mode tak pernah padam.
Ketika pandemi Covid-19 melanda, banyak orang terpuruk. Tapi tidak dengan Ari. Ia justru melihat peluang. Di tengah rutinitas sebagai penyiar televisi lokal, Ari mulai serius menekuni hobinya. Ia ikut kursus menjahit dan pelatihan desain fesyen, baik secara online maupun offline.
“Sebagai penyiar, penampilan itu penting. Awalnya saya hanya membuat baju untuk saya pakai sendiri saat siaran. Ternyata, banyak yang tertarik dan mulai memesan,” ujarnya kepada Metrojateng.com, Selasa (15/7/2025).
Respons positif itu menjadi titik awal lahirnya Dejarumi. Dari hanya menjahit untuk dirinya sendiri, Ari mulai menerima pesanan. Karyanya, yang unik dengan sentuhan batik dan kombinasi kain khas Indonesia, langsung memikat hati para peminat mode.

Memberdayakan Difabel, Menyulam Harapan Bersama
Kesibukannya sebagai penyiar membuat Ari harus merekrut bantuan. Namun, yang membuat langkahnya istimewa adalah pilihannya menggandeng kaum difabel sebagai mitra kerja. Salah satunya adalah Bambang (69), warga Karangpucung, Purwokerto Selatan.
“Kesempatan kerja bagi difabel itu sangat terbatas. Saya ingin mereka punya ruang dan peluang. Mereka sudah punya skill menjahit, saya tinggal buat desain dan pola, lalu mereka yang mengeksekusi,” terang Ari.
Saat ini, tiga penjahit difabel dari kalangan tuna rungu dan tuna wicara menjadi bagian tim Dejarumi. Untuk mendukung komunikasi, ia bahkan memasang poster berisi gambar bahasa isyarat di ruang kerja mereka.
Tak hanya itu, Ari juga menyisihkan sebagian hasil penjualan untuk mendukung komunitas difabel. Sebuah langkah sosial yang mempertegas bahwa bisnis bukan semata soal keuntungan, tetapi juga memberi dampak.
Langkah Ari makin mantap setelah lolos kurasi tingkat Provinsi Jawa Tengah dan terpilih mengikuti pameran di Banjarmasin tahun 2023. Puluhan baju batik karyanya ludes terjual dalam waktu singkat. Nama Dejarumi pun mulai dikenal luas.
“Dejarumi itu dari bahasa Banyumasan, artinya ‘dijarumi’ atau dijahit. Nama itu sudah saya daftarkan dan saya juga sudah punya NIB (Nomor Induk Berusaha),” katanya.
Kreasi Dejarumi punya ciri khas, selalu menggabungkan batik tulis atau cap dengan kain lurik dan polos, menghasilkan tampilan etnik yang modern dan elegan. Ari juga menggandeng perajin batik lokal dari Papringan, Susukan, dan Sumbang untuk memastikan kualitas kain tetap terjaga.
Kini, Dejarumi resmi membuka butik di kawasan Saphire Regency, Rejasari, Purwokerto Barat. Sebuah pencapaian dari mimpi yang dulu hanya bertumbuh di kamar kos sederhana.

Siap Ekspor, Didukung CIMB Niaga
Setelah sukses di berbagai pameran, dari Solo, Jakarta, Batam hingga Kalimantan, Ari kembali menantang dirinya untuk naik kelas. Ia terpilih sebagai salah satu dari 26 UMKM terbaik nasional yang mengikuti Sekolah Ekspor setelah melewati proses seleksi dari 1.700 UMKM di Banyumas dan kemudian masuk seleksi tingkat nasional.
“Pembelajarannya lengkap, dari manajemen usaha, kurasi produk, sampai pembukuan. Meskipun ekspor masih jauh, saya sudah mulai mempersiapkan diri sejak sekarang,” ucapnya.
Salah satu persiapannya adalah membuka tabungan di Bank CIMB Niaga, karena fitur OCTO Mobile-nya dirasa sangat membantu. Aplikasi ini memudahkan transaksi harian seperti pembayaran non-tunai, transfer, dan pengaturan keuangan usaha secara praktis dan aman melalui sidik jari.
“Menuju pasar ekspor itu proses panjang, tapi aplikasi OCTO Mobile membuat transaksi bisnis saya jadi lebih efisien dan aman,” tambahnya.
Sementara itu, Head of Region Jawa Barat dan Jawa Tengah CIMB Niaga, Andiko Manik, menyampaikan bahwa CIMB Niaga terus mendukung perkembangan UMKM melalui inovasi layanan digital yang tetap menghadirkan sentuhan personal.
“Purwokerto punya potensi besar, terutama di sektor UMKM. Kami ingin hadir di setiap fase kehidupan nasabah, melalui layanan seperti OCTO Mobile, OCTO Clicks, hingga BizChannel dan OCTO Merchant,” ujarnya.

Perjalanan Ari Nugroho bersama Dejarumi bukanlah kisah sukses instan. Semua berawal dari kecintaan pada dunia fesyen yang dirawat dalam sunyi kamar kos sederhana, diselipkan di antara tumpukan tugas kuliah dan kesibukan bekerja. Sedikit demi sedikit, langkah kecil yang ia ambil membawanya ke jalan yang lebih luas, penuh tantangan sekaligus harapan.
Mimpi yang dulu hanya terlukis di atas kertas kini menjelma menjadi karya nyata yang dikenakan banyak orang. Dari sebuah ruangan sempit berukuran 3 x 2,5 meter, lahirlah visi besar yang kini menggandeng tangan-tangan difabel, memberdayakan pengrajin lokal, hingga bersiap menembus pasar global.
Ari menunjukkan bahwa mimpi tak harus dimulai dari tempat besar, cukup dari keyakinan, konsistensi, dan keberanian untuk terus melangkah, sekecil apa pun langkah itu. Karena sejatinya, mimpi yang dihidupi dan dikerjakan dengan sepenuh hati, pada waktunya akan menemukan jalannya sendiri.
Comments are closed.