Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Waisak, Wisata Candi Borobudur Ditutup, Pintu Masuk Lokasi Waisak Melalui Kampung Seni

METROJATENG.COM, MAGELANG — Perayaan Waisak 2025 di Candi Borobudur bakal tampil berbeda dan lebih sakral. Demi menjaga kekhusyukan dan kelancaran prosesi suci tersebut, pengelola Taman Wisata Borobudur resmi menutup akses naik ke candi pada Senin, (12/5/2025). Tak hanya itu, area pelataran candi juga akan dibatasi bagi wisatawan umum mulai pukul 12.00 WIB.

Langkah ini diambil untuk menghormati peringatan Tri Suci Waisak, sekaligus memperkuat nilai spiritual dan budaya yang dijunjung tinggi dalam perayaan ini. Direktur Utama InJourney Destination Management, Febrina Intan, menegaskan bahwa Waisak bukan hanya perayaan agama, tetapi juga simbol perdamaian dunia.

“Semangat Waisak tahun ini membawa pesan kolaborasi lintas batas demi kebahagiaan semua makhluk. Borobudur kita dorong menjadi ruang kontemplasi global, tempat refleksi tanpa batas agama, suku, atau bangsa,” kata Febrina.

Kampung Seni Borobudur

Menariknya, tahun ini pengunjung yang ingin menyaksikan momen Waisak akan diarahkan melalui Kampung Seni Borobudur (KSB), yang disiapkan sebagai pintu masuk utama. Dari sini, peserta bisa melanjutkan perjalanan dengan kendaraan listrik (EV) berbayar atau berjalan kaki sekitar 10–15 menit melewati jalur pedestrian yang telah ditata nyaman.

“Selain keamanan, kami prioritaskan kenyamanan dan pengalaman spiritual pengunjung. Jalur pedestrian kami rancang agar wisatawan bisa lebih larut dalam suasana sakral Waisak,” tambah Febrina.

Tak hanya soal ritual, perayaan ini juga menjadi pesta budaya. Pasar Medang hadir sebagai pusat kuliner dan kreativitas, menghadirkan lebih dari 60 UMKM lokal dengan beragam sajian khas dan kerajinan unik. Pengunjung bisa menemukan produk seperti Wellness Tool Kit, suvenir Waisak, hingga kerajinan tangan khas Nusantara.

Ada juga program tematik seperti Temu Sejatining Diri, yang menawarkan pengalaman penyembuhan melalui seni, termasuk melukis untuk terapi, pembacaan weton Jawa, hingga pertunjukan budaya lintas agama di Sasana Karya.

Comments are closed.