Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Bekali Pengampu 27 Paroki, Keuskupan Purwokerto Dorong Calon Pengantin Siap Bangun Ekonomi Keluarga

METROJATENG.COM, BANYUMAS – Keuskupan Purwokerto terus berupaya meningkatkan kualitas pembekalan pranikah dengan memperkuat kompetensi para pengampu di 27 paroki. Melalui program Glory Family bertema “Bagaimana Mengelola Ekonomi Rumah Tangga”, para pengampu dibekali literasi keuangan agar dapat memberikan pembekalan yang lebih komprehensif kepada calon pengantin.

Kegiatan yang digelar di Griya Hening Baturraden, Kabupaten Banyumas, selama dua hari, Sabtu (4/7/2026) hingga Minggu (5/7/2026) tersebut, diikuti para pengampu pembekalan pranikah dari berbagai wilayah di Keuskupan Purwokerto. Mereka berasal dari 27 paroki, di antaranya Paroki Banjarnegara, Cilacap, Purbalingga, Tegal, Kutoarjo, serta sejumlah paroki lainnya yang berada di bawah naungan Keuskupan Purwokerto.

Langkah tersebut diharapkan mampu mencetak pasangan muda yang tidak hanya siap membangun rumah tangga dari sisi mental dan spiritual, tetapi juga memiliki kemampuan mengelola ekonomi keluarga sejak awal pernikahan.

Penggagas kegiatan, Kartika Widjaya, mengatakan persoalan keuangan masih menjadi salah satu penyebab utama munculnya konflik dalam rumah tangga. Karena itu, edukasi mengenai pengelolaan finansial perlu diberikan kepada calon pengantin melalui para pengampu pembekalan pranikah yang selama ini mendampingi mereka.

“Saya mendatangi para romo dan berdiskusi panjang, sampai akhirnya terwujud program ini. Di sini hadir dari 27 paroki, setiap paroki ada pengampu yang biasa memberikan pembekalan kepada anak-anak muda yang akan menikah. Jika mereka sudah diberikan pemahaman tentang keuangan, maka bekal untuk para calon pengantin ini juga akan lebih mantap,” ujar Kartika, Minggu (5/7/2026).

Menurutnya, gereja dipilih sebagai salah satu jalur edukasi karena memiliki sistem pembinaan yang terstruktur hingga tingkat paroki. Dengan membekali para pengampu terlebih dahulu, materi mengenai literasi keuangan dapat diteruskan secara berkelanjutan kepada setiap pasangan yang mengikuti pembekalan pranikah.

Kartika berharap upaya tersebut mampu melahirkan keluarga-keluarga baru yang lebih siap menghadapi tantangan ekonomi sekaligus meminimalkan potensi konflik akibat persoalan finansial.

“Dalam ajaran kami, pasangan hidup itu tidak boleh bercerai, sehingga setiap keluarga harus memiliki pondasi ekonomi yang sehat,” katanya.

Selama pelatihan, para peserta mengikuti enam sesi yang membahas berbagai aspek penting dalam kehidupan berkeluarga. Materi yang diberikan meliputi konsep membangun keluarga harmonis, memahami kebutuhan rumah tangga, meningkatkan keterampilan untuk memperkuat ekonomi keluarga, membangun kepedulian sosial, pola pikir keuangan, hingga perencanaan finansial jangka panjang.

Bahas Cara Keluar dari Jeratan Utang hingga Pentingnya Investasi

Selain membahas pengelolaan keuangan keluarga, peserta juga mendapatkan materi mengenai tantangan ekonomi yang kerap dihadapi rumah tangga, termasuk persoalan utang. Dalam sesi tersebut, Toni Hartono berbagi pengalaman pribadinya saat menghadapi jeratan utang hingga berhasil bangkit dan menata kembali kondisi keuangannya.

Sesi penutup diisi oleh Kartika Widjaya yang mengupas pentingnya investasi sebagai salah satu pilar dalam membangun ketahanan ekonomi keluarga. Menurutnya, investasi sebaiknya dilakukan dengan tujuan yang jelas dan disesuaikan dengan kemampuan finansial masing-masing keluarga.

Ia menegaskan, sebelum mulai berinvestasi, setiap keluarga harus memastikan kebutuhan pokok, dana darurat, serta perlindungan melalui asuransi telah terpenuhi.

“Investasi penting untuk mengantisipasi kebutuhan masa depan saat sudah masuk masa pensiun. Namun, ada hal-hal yang harus dipenuhi terlebih dahulu, yaitu kebutuhan hidup, dana darurat, serta asuransi sebagai instrumen proteksi terhadap aset dan pendapatan keluarga. Investasi tidak selalu harus dimulai dari nilai yang besar, tetapi lebih penting untuk segera memulai dan konsisten,” jelas Kartika.

Menurutnya, investasi bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi merupakan bentuk tanggung jawab dalam mempersiapkan masa depan keluarga, mulai dari biaya pendidikan anak, kebutuhan kesehatan, dana pensiun, hingga warisan.

“Ketika kita berinvestasi, sebenarnya kita sedang berkata, ‘Saya peduli terhadap masa depan keluarga saya’. Karena itu, mulailah berinvestasi sesuai kemampuan, jangan menunggu kaya untuk mulai berinvestasi. Justru investasi yang konsisten membantu kita membangun kekayaan,” pungkasnya.

Melalui pembekalan tersebut, Kartika berharap para pengampu pranikah dapat menjadi perpanjangan tangan dalam membangun kesadaran finansial di kalangan calon pengantin. Dengan bekal literasi keuangan yang memadai, setiap pasangan diharapkan mampu membangun keluarga yang tidak hanya harmonis secara spiritual, tetapi juga tangguh menghadapi berbagai tantangan ekonomi di masa depan. (*)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.