Recover your password.
A password will be e-mailed to you.
METROJATENG.COM, SEMARANG – Kota Semarang berhasil meraih penghargaan bergengsi sebagai “Kota Pionir Pembangunan Inklusi Sosial” dalam ajang yang diselenggarakan oleh Institute For Democracy and Peace (SETARA) bekerja sama dengan INKLUSI, platform Kemitraan Indonesia-Australia. Penghargaan ini menjadi simbol keseriusan Pemerintah Kota Semarang dalam mewujudkan pembangunan yang lebih inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti mengungkapkan rasa syukurnya atas pencapaian tersebut. “Kami sangat bersyukur atas penghargaan ini. Keberhasilan ini merupakan bukti nyata komitmen kami dalam memastikan bahwa setiap warga negara, tanpa terkecuali, mendapatkan hak dan kesempatan yang setara dalam setiap aspek kehidupan,” ujar Agustina dengan penuh kebanggaan.
Kota Semarang memperoleh skor 3,6 pada penilaian yang dilakukan dalam penghargaan ini, angka tertinggi yang sejajar dengan kota-kota besar lainnya seperti Bandung, Denpasar, Padang, dan Jakarta Selatan. Agustina menyatakan bahwa penghargaan ini semakin memperkuat tekad pemerintah kota untuk terus mendorong perencanaan pembangunan yang memperhatikan kepentingan inklusi sosial.
“Inklusivitas adalah salah satu fokus utama kami dalam membangun kota. Dengan peringkat yang kami raih, kami semakin termotivasi untuk terus menciptakan ruang akses yang lebih luas dan layanan publik yang bebas dari diskriminasi,” tambahnya.
Acara penghargaan tersebut juga menjadi momen peluncuran Indeks Inklusi Sosial Indonesia (IISI) oleh SETARA, sebagai bentuk apresiasi terhadap kemajuan inklusi sosial di tingkat nasional dan di 24 kabupaten/kota di Indonesia. Inklusi sosial yang dimaksud mencakup upaya untuk memberikan kesempatan yang setara bagi setiap individu dalam memperoleh akses ke berbagai sumber daya, layanan, serta berpartisipasi dalam kehidupan sosial, budaya, ekonomi, dan politik.
Kota Semarang dinilai berdasarkan dua variabel utama: pertama, variabel aspirasional yang mencakup hak atas kesehatan, pendidikan, ekonomi, keamanan, lingkungan, kebudayaan, dan pekerjaan yang layak. Kedua, variabel pendekatan yang melibatkan rekognisi, partisipasi, resiliensi, dan akomodasi terhadap empat kelompok utama: perempuan, penyandang disabilitas, minoritas agama, dan masyarakat adat.
“Terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja keras dalam mewujudkan inklusi sosial dalam setiap kebijakan dan perencanaan pembangunan kota. Semoga penghargaan ini mendorong kami untuk terus bergerak maju, lebih dekat menuju visi kami menjadikan Semarang sebagai kota inklusif yang ramah bagi semua,” tutup Agustina.
Recover your password.
A password will be e-mailed to you.
Comments are closed.