Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Kepemimpinan Transformasional : Perempuan Tangguh Memimpin Perubahan

0 460

PERSEPSI tentang kepemimpinan dan kesenjangan gender sangat tajam, baik dalam hal negosiasi, kejujuran, etika, tulang punggung, persuasi maupun loyalitas. Perempuan dan laki-laki dipandang sebagai pemimpin bisnis yang sama baiknya, tetapi stereotip gender tetap ada.

Kepemimpinan pada dasarnya merupakan proses yang menginspirasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai dengan yang telah ditetapkan. Efektif atau tidaknya suatu kepemimpinan dapat dilihat dari sejauh mana pemimpin mampu memperngaruhi perilaku seseorang. Bagaimana perilaku seorang dalam memimpin dapat diketahui dari gaya kepemimpinan bukan serta merta berdasarkan gender.

Gaya kepemimpinan saat ini merupakan hal yang harus diperhatikan dan penting dalam pengembangan organisasi, khususnya pengembangan SDM yang potensial. Gaya kepemimpinan juga mampu mempengaruhi motivasi dan kebiasaan karyawan dalam menjalankan pekerjaannya, sehingga dapat dikatakan bahwa gaya kepemimpinan ini sangat berpengaruh baik terhadap kinerja karyawan yang secara tidak langsung meningkatkan kinerja perusahaan.

Dalam kepemimpinan masa kini kita mengenal gaya kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan yang bisa membawa pengaruh atau dampak baik bagi organisasi, dengan menumbuhkan nilai-nilai kepercayaan, sikap, perilaku serta emosional yang membuat orang lain melakukan perubahan untuk mencapai tujuan organisasi.

Kepemimpinan transformasional bukan hanya bertindak sebagai “atasan” namun harus mampu menjadi “leader” bagi anggotanya. Karakteristik kepemimpinan inilah yang saat ini dibutuhkan organisasi untuk melakukan transformasi terlebih lagi di era disruption. Banyak penelitian telah dilakukan untuk mengungkap dampak gender terhadap gaya kepemimpinan dan efektivitas kepemimpinan. Beberapa diantaranya menjelaskan bahwa kebanyakan perempuan memiliki gaya kepemimpinan transformasional dan dinilai lebih efektif untuk perusahaan.

Kepemimpinan Perempuan

Sejarah panjang kepemimpinan perempuan Indonesia yang menonjol pada masanya telah kita ketahui sejak RA Kartini dan Cut Nyak Dien. Selajutnya perjuangan terkait kesetaraan gender atau dikenal dengan emansipasi dimulai kembali pada tahun 1928 dalam wujud kongres perempuan pertama di Indonesia dan hari di mana kongres tersebut dilaksanakan yaitu 22 – 25 Desember 1928, kini ditetapkan sebagai Hari Ibu.

Namun, sampai saat ini pemimpin perempuan di Indonesia yang menonjol masih minim. Diawali kembali dengan terpilihnya Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden perempuan pertama di Indonesia, saat ini peran perempuan dalam organisasi mulai mendapatkan perhatian kembali.

Mengutip dalam CNBC Indonesia (14/12/2021) Media ekonomi terbesar dan terintegrasi CNBC Indonesia menggelar malam puncak CNBC Indonesia Awards 2021, sebagai bentuk apresiasi bagi korporasi atau badan usaha dan individu inspiratif dalam memimpin perusahaannya, serta kontribusi besarnya untuk perekonomian Indonesia. Megawati Soekarnoputri mendapatkan Penghargaan Lifetime Achievement Award CNBC Indonesia Awards 2021.

Demikian pula dengan apa yang disampaikan oleh Menteri BUMN Erick Thohir yang menargetkan kepemimpinan perempuan sebesar 15% pada tahun 2021 dan 25% pada tahun 2023 di BUMN, sebagai bagian dari transformasi human capital dalam mewujudkan kepemimpinan yang setara.

Kepemimpinan perempuan di BUMN diyakini memperkuat transformasi dan keberlanjutan bisnis perusahaan pelat merah. Kementerian BUMN menilai pemimpin perempuan lebih dinamis dalam proses pengambilan kebijakan. Hal ini cukup membanggakan khususnya bagi perempuan Indonesia karena dukungan terhadap peran perempuan dan kesetaraan gender dalam organisasi semakin menjadi perhatian khusus.

Berdasarkan Global Gender GAP Report 2020, terdapat 4 (empat) indikator kesetaraan gender yaitu dalam keterlibatan perempuan di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan dan politik. Indonesia mampu mempertahankan posisi ke-85 secara Global dan posisi ke-8 dalam kategori negara East Asia and the Pasific, dan hal tersebut merupakan peningkatan skor dari periode lalu.

Perolehan yang cukup baik karena berdasarkan 4 (empat) indikator kesetaraan gender, keterlibatan perempuan sangat baik dan berada di atas 50%, namun perlu ditingkatkan kembali tentang peran perempuan dalam dunia politik yang dinilai masih sangat kecil.

Dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan peran perempuan semakin diakui oleh semua bidang karena perempuan mampu menjadi agen perubahan yang kuat, khususnya dalam keragaman dan kesetaraan gender di organisasi. Keragaman dan gender merupakan peluang dan tantangan dalam organisasi yang harus dihadapi. Organisasi perlu menetapkan strategi komunikasi yang tepat untuk mengelolanya.

Keberhasilan organisasi untuk mencapai tujuannya bergantung dari sosok pemimpin. Sampai dengan saat ini seorang pemimpin sangat indentik dengan laki-laki dan perempuan dinilai memiliki banyak hambatan untuk mencapai posisi eksekutif puncak, namun bersadasarkan riset pemimpin perempuan memiliki keunggulan dengan gaya kepemimpinan transformasional.

Dengan karakteristik gaya kepemimpinan transformasional dinilai efektif bagi perusahaan, karena pemimpin bisa menunjukkan rasa percaya dan menghargai anggota, mampu menciptakan dan menjaga semangat kerja, memandang masalah dari sebuah perspektif yang berbeda, dan pemimpin juga memberikan perhatian khusus terhadap kebutuhan individu anggotanya. Perempuan telah mencapai kemajuan signifikan selama beberapa dekade terakhir, tidak hanya memperoleh kesuksesan karir tetapi juga untuk posisi kepemimpinan. Memimpin dengan contoh, inklusi saja tidak cukup.

Dan saat ini sudah saatnya para generasi muda khususnya perempuan berperan dalam kepemimpinan. Organisasi juga harus berkomitmen untuk menempatkan lebih banyak perempuan di posisi strategis organisasi, mengembangkan & melakukan investasi layanan publik serta program yang memungkinkan perempuan berhasil sebagai pemimpin. Mengaktifkan dan mendukung organisasi dan gerakan perempuan juga diperlukan untuk mendukung kesetaraan gender.

Harapan ke depan bagi organisasi agar mampu menetapkan strategi komunikasi dalam melakukan transformasi human capital dan transformasi bisnis, dengan memperhatikan kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan khususnya dalam kepemimpinan serta diharapkan agar organisasi bisa lebih mengeksplore kompetensi dan kemampuan sumber daya nya secara tepat tanpa membedakan gender.(*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.