Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Kisah Hatim al-Asham dan Syaqiq al-Balkhi

METROJATENG.COM, SEMARANG- Hatim al-Asham merupakan murid dari Syaqiq al-Balkhi, seorang sufi besar dari Afganistan yang menjadi salah satu yang mengkonsep ajaran tasawuf di zamannya. Suatu ketika terjadi dialog antara Syaqiq dan muridnya Hatim al-Asham. Syaqiq berkata kepada Hatim, “Engkau sudah belajar kepadaku selama 30 tahun, lantas apa yang telah engkau dapat selama 30 tahun?”

“Aku Cuma dapat Delapan pengetahuan,” jawab Hatim.

Inna lillahi wa inna ilahi raji’un. Umurku telah habis bersamamu namun engkau tidak belajar kecuali delapan permasalahan, Sampaikan delapan permasalahan itu, agar aku mendengarnya,” jawab Syaqiq al-Balkhi.

Hatim berkata, “Aku melihat seluruh manusia dan melihat dari mereka memiliki kecintaan masing-masing baik harta pangkat maupun emas.  Mereka bersama dengan apa yang mereka cintai hingga ajal menjemputnya. Namun, ketika mereka sudah sampai kubur, apapun yang mereka cintai meninggalkannya semua kecuali amal sholih. Maka aku jadikan amal-amal sholih sebagai kesenanganku. Sehingga, saat aku masuk kubur, amal sholih ikut menemaniku.”

“Bagus wahai Hatim. Lalu apa yang kedua?” sahut Syaqiq.

Hatim melanjutkan, Banyak orang yang disibukkan menuruti hawa nafsunya padahal Allah azza wa jalla Berfirman”:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى، فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

“Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 40 – 41)

Aku yakin bahwa firman Allah  adalah benar. Maka aku memilih untuk melawan hawa nafsuku hingga nafsuku tenang untuk taat kepada Allah ta’ala. Yang ketiga, sesungguhnya aku melihat seluruh manusia disibukkan mencari dunia. Namun saat mereka memiliki segalanya mereka tidak mau berinfaq sama sekali padahal Allah azza wa jalla berfirman:

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللهِ بَاقٍ

“Apa yang di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.”(QS. An-Nahl: 96)

Sehingga, setiap aku memiliki sesuatu yang bernilai dan berharga, aku infakkan dijalan Allah agar tetap abadi.

 Yang keempat, sesungguhnya aku melihat banyak manusia yang menganggap bahwa kemuliaan adalah memiliki pengikut banyak, harta banyak, anak banyak, nasab mulia. Dan Aku melihat bahwa masing-masing dari mereka berbangga diri dan menyombongkannya. Padahal Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS. al-Hujurat: 13)

Maka aku menjadikan ketaqwaan kepada Allah sebagai hal yang mulia dan fokus untuk bertakwa. Yang kelima, sesungguhnya aku melihat semua manusia ini. Sebagian dari mereka mencela sebagian yang lain, dan sebagian dari mereka melaknat sebagian yang lain. Penyebab semua itu adalah sifat dengki. Padahal Allah azza wa jalla berfirman:

نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.”(QS. Az-Zukhruf: 32)

Maka aku tinggalkan sifat dengki terhadap bagian orang lain manusia. Aku yakin bahwa sesungguhnya pembagian sudah ada disisi Allah subhanahu wa ta’ala. Maka aku menghindari permusuhan dengan manusia.

Keenam, aku melihat para manusia. Sebagian dari mereka berbuat zalim pada sebagian yang lain. Dan sebagian dari mereka memerangi sebagian yang lain dan hingga saling memusuhi. Kemudian aku kembali kepada firman Allah ta’ala:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka jadikan Syaitan sebagai musuh(mu).”(QS. Fathir: 6)

Maka aku berhenti memusuhi dengan sesama manusia dan hanya menjadikan setan sebagai musuhku.

Yang ketujuh, aku melihat para manusia, masing-masing dari mereka mencari sesuap nasi hingga kepala menjadi kaki, kaki menjadi kepala bahkan dari mereka ada yang menghinakan diri sendiri untuk mendapatkannya hingga tidak mementingkan haram dan halal. Padahal Allah ta’ala berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak ada suatu binatang melata (makhluk hidup) pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya.”(QS. Huud: 6)

Maka aku yakin bahwa sesungguhnya rezekiku ada ditangan tuhan, tugasku hanya berusaha mencarinya

Yang kedelapan, aku melihat para manusia mengandalkan makhluk, sebagian mengandalkan harta benda dan kekuasaan sebagian lain lagi mengandalkan kesehatan badannya, Padahal Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Maka aku berserah diri kepada Allah azza wa jalla. Aku yakin Allahlah Tuhan yang mencukupiku.”

            Dengan senyum penuh bangga dan bahagia Syaqiq berkata, “ Sesungguhnya aku telah melihat delapan kesimpulanmu telah menyimpulkan isi yang ada dalam kitab Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an al-Adhim. Aku menemukan semua jenis kebaikan dan ajaran agama. Semuanya berkutat pada delapan permasalahan ini. Sehingga, orang yang mengamalkannya, maka sesungguhnya ia telah mengamalkan keempat Kitabullah.”(**)

 

Comments are closed.