Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Negeri Sehat Bukan Sekadar Slogan: TBC Masih Mengintai Indonesia

Oleh : Nadham Aulia Hakim, Menteri Kesehatan BEM KM UNISSULA 2026

METROJATENG.COM, SEMARANG- Delapan puluh tahun Indonesia merdeka seharusnya menjadi momentum untuk menegaskan bahwa kesehatan masyarakat bukan sekadar program pelengkap, melainkan fondasi utama pembangunan bangsa. Sebab, sebesar apa pun pertumbuhan ekonomi dan megahnya pembangunan infrastruktur, semuanya akan kehilangan makna jika masyarakat masih hidup dalam ancaman penyakit menular yang sebenarnya dapat dicegah dan dikendalikan.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan pernah menegaskan bahwa kesehatan merupakan modal paling dasar dalam pembangunan nasional. Hal senada juga disampaikan Kementerian Kesehatan yang menyebut kesehatan sebagai investasi utama bangsa, karena masyarakat yang sehat akan melahirkan kualitas pendidikan, produktivitas kerja, dan ketahanan ekonomi yang kuat. Bahkan menurut World Health Organization (WHO), kesehatan bukan hanya bebas dari penyakit, melainkan kondisi sejahtera secara fisik, mental, dan sosial.

Namun realitas di lapangan masih menunjukkan tantangan besar, terutama di Provinsi Jawa Tengah. Dengan jumlah penduduk lebih dari 38 juta jiwa dan pertumbuhan industri yang pesat, Jawa Tengah menjadi salah satu pusat ekonomi penting di Pulau Jawa. Di sisi lain, pertumbuhan industri juga membawa konsekuensi berupa meningkatnya pencemaran udara akibat aktivitas pabrik dan kendaraan.

Polusi udara bukan lagi sekadar persoalan lingkungan, melainkan ancaman kesehatan serius. Dampaknya dapat memicu berbagai penyakit pernapasan seperti ISPA, asma, hingga tuberkulosis atau TBC. Penyakit ini masih menjadi momok besar di Indonesia. Berdasarkan berbagai laporan kesehatan, Jawa Tengah termasuk provinsi dengan jumlah kasus TBC tertinggi di Indonesia, mencapai sekitar 80 ribu kasus per tahun pada periode 2024–2025. Kondisi ini menunjukkan bahwa TBC belum berhasil ditekan secara maksimal.

Kota Magelang bahkan menjadi salah satu daerah dengan angka kasus cukup tinggi. Pada triwulan awal 2024, jumlah kasus TBC di wilayah tersebut disebut mencapai lebih dari seribu kasus. Angka ini tentu tidak bisa dipandang sebagai statistik biasa, sebab di baliknya ada kualitas hidup masyarakat yang terancam, produktivitas yang menurun, hingga risiko kematian yang masih menghantui.

Penelitian yang ditulis Rizki (2024) menjelaskan bahwa polusi udara dapat merusak sel-sel pertahanan di alveolus paru-paru. Kerusakan tersebut membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi bakteri penyebab TBC. Selain faktor udara, kondisi rumah yang padat, minim ventilasi, dan kurang sehat juga menjadi penyebab tingginya penularan penyakit ini.

Memang, tingkat penemuan kasus dan keberhasilan pengobatan TBC di Jawa Tengah tergolong cukup tinggi. Pada 2025, angka penemuan kasus mencapai 84 persen dengan tingkat kesembuhan sekitar 85 persen. Namun pertanyaannya, apakah pemerintah akan terus puas hanya pada upaya pengobatan, sementara jumlah kasus baru terus bermunculan setiap tahun?

Dalam konsep trias epidemiologi, terdapat tiga faktor utama penyebab penyakit, yakni host (manusia), environment (lingkungan), dan agent (penyebab penyakit). Jika ketiga faktor ini sudah diketahui secara jelas, seharusnya strategi pengendalian dapat dilakukan lebih agresif dan menyeluruh. Pemerintah tidak bisa hanya fokus pada pengobatan pasien, tetapi juga harus serius membenahi lingkungan, kualitas udara, hunian masyarakat, serta edukasi kesehatan publik.

TBC bukan penyakit sepele. Indonesia bahkan masih menempati peringkat kedua negara dengan kasus TBC terbanyak di dunia. Fakta ini menjadi tamparan keras bagi cita-cita besar menuju Indonesia Emas 2045. Sebab, bagaimana mungkin bangsa ini ingin menjadi negara maju jika persoalan kesehatan dasar saja masih menjadi ancaman besar bagi jutaan masyarakat?

Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar slogan “negeri sehat”. Yang dibutuhkan adalah keberanian mengambil kebijakan nyata dan konsisten untuk menciptakan lingkungan sehat, memperkuat layanan kesehatan, menekan polusi udara, serta memastikan masyarakat memiliki kualitas hidup yang layak. Karena tanpa masyarakat yang sehat, mimpi tentang Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi narasi indah di atas kertas.(**)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.