Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

RSI Sultan Agung Gelar Pelatihan Internasional Harvesting Stem Cell

 

METROJATENG.COM, SEMARANG – Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung Semarang menggelar pelatihan privat internasional Harvesting Stem Cell. Kegiatan yang bekerja sama dengan Pramita Lab Group dan Kiwiclinic ini menjadi sarana pendalaman teknik pengambilan sel punca serta pengembangan terapi regeneratif di Indonesia.

 

Pelatihan tersebut juga memperkenalkan konsep Auto Haemotherapy and Cell Unit Research (AHT-CURE), sebuah gagasan yang diinisiasi Direktur Utama RSI Sultan Agung Semarang, DR. dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQua. Konsep yang dikembangkan sejak tiga tahun lalu itu mencakup berbagai pendekatan terapi regeneratif, mulai dari Platelet-Rich Plasma (PRP), eksosom, sekretom, hingga Mesenchymal Stem Cell (MSC).

 

Materi pelatihan mencakup tiga metode utama pengambilan sel punca, yakni Peripheral Blood Stem Cell dari darah perifer, Stromal Vascular Fraction (SVF) melalui aspirasi jaringan lemak dengan teknik liposuksi menggunakan anestesi lokal, serta Bone Marrow Stem Cell melalui aspirasi sumsum tulang.

 

Pengembangan metode tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman tenaga medis mengenai pemanfaatan sel punca dalam pelayanan kesehatan. Namun, penerapannya tetap membutuhkan kompetensi klinis, bukti ilmiah, serta kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.

 

Salah satu fokus pembahasan dalam pelatihan adalah harmonisasi pendekatan Point of Care (PoC) dengan industrialisasi produk biologi. Kedua pendekatan tersebut memiliki karakteristik berbeda, terutama dari sisi proses pengolahan, skala pemanfaatan, distribusi, serta persyaratan mutu dan regulasinya.

 

Pendekatan PoC berkaitan dengan pengolahan dan pemanfaatan bahan biologis untuk kebutuhan pelayanan pada fasilitas kesehatan sesuai ketentuan yang berlaku. Sementara itu, industrialisasi produk biologi diperlukan untuk pengembangan produk dalam skala lebih luas, dengan persyaratan standardisasi mutu, keamanan, dan proses produksi yang sesuai dengan regulasi.

 

Melalui pemahaman terhadap kedua pendekatan tersebut, tenaga medis diharapkan mampu menentukan pilihan penanganan berdasarkan kebutuhan pasien, indikasi klinis, serta aspek keamanan dan legalitas. Pengembangan terapi sel punca juga perlu memperhatikan ketentuan perizinan dan standar pengolahan yang ditetapkan otoritas kesehatan.

 

Pelatihan ini menghadirkan sejumlah pembicara lintas negara, yakni DR. dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQua dari Indonesia, Dr. Jaswin, MBBS, M.Sc., CosMed dari India, serta Dr. Moizza Samy, FCPS, dermatolog asal Pakistan.

 

Selain itu, dr. Dadan Sofian, Sp.KFR, M.Kes, AIFO-K, FIPM, CIPS, COMSK, RMSK, hadir sebagai pembicara tamu untuk membahas perkembangan terapi autologus di Indonesia. Diskusi juga menyoroti penguatan kompetensi teknis agar pengembangan layanan tersebut dapat dipahami oleh berbagai kelompok dokter sesuai kewenangan dan kompetensinya.

 

RSI Sultan Agung Semarang turut membuka ruang konsultasi dan pelatihan lanjutan bagi dokter, tenaga kesehatan, serta pengelola rumah sakit dan klinik utama. Program tersebut diarahkan untuk memperdalam teknik pengambilan sel punca sekaligus memberikan pemahaman mengenai pengembangan laboratorium PoC dan fasilitas produksi produk biologi yang memenuhi standar serta persyaratan perizinan terkait.

 

Manager Humas RSI Sultan Agung Semarang, Sri Wahyuni, menjelaskan bahwa program pendidikan, pelatihan, penelitian, kehumasan, dan bakti sosial di rumah sakit tersebut berada dalam koordinasi Direktur Pendidikan, Pelatihan, Penelitian, Humas, dan Bakti Sosial, dr. Kinanti Narulita, Sp.An-KPTI, FISQua.

 

Koordinasi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga mutu penyelenggaraan kegiatan pendidikan dan pelatihan, sekaligus memastikan pelaksanaannya terintegrasi dengan program pengembangan rumah sakit.

 

Pengembangan layanan dan pendidikan tersebut juga mendapat dukungan Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung (YBWSA) yang diketuai Prof. Bambang Tri Bawono, S.H., M.H. Dukungan itu diarahkan pada pengembangan advanced therapy dan produk biologi terstandar secara bertahap.

 

Dengan akreditasi Diklat Tipe A berstandar internasional dari Kementerian Kesehatan RI, RSI Sultan Agung Semarang berupaya memperkuat kapasitas pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan. Pemanfaatan fasilitas serta jejaring laboratorium Pramita di berbagai wilayah Indonesia juga menjadi bagian dari upaya mendukung peningkatan mutu pelatihan.(ris)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.