Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Mengenal “Koktail Sel Segar”, Pendekatan Kedokteran Regeneratif Tanpa Kultur Laboratorium

 

Oleh: Dr. dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUa

 

DUNIA kedokteran regeneratif terus berkembang dengan berbagai pendekatan untuk membantu pemulihan jaringan yang rusak. Salah satunya adalah pemanfaatan sel segar yang diproses langsung dari tubuh pasien tanpa melalui proses pembiakan atau kultur di laboratorium selama berminggu-minggu. Pendekatan ini memanfaatkan bahan biologis dari sumsum tulang (bone marrow) maupun jaringan lemak (adipose tissue), yang mengandung beragam jenis sel dan komponen biologis.

 

Dalam pendekatan ini, bahan yang diperoleh bukan sekadar kumpulan satu jenis sel. Konsentrat sumsum tulang atau bone marrow aspirate concentrate (BMAC) dan fraksi vaskular stromal atau stromal vascular fraction (SVF) dari jaringan lemak mengandung campuran sel dengan karakteristik dan fungsi yang berbeda-beda. Komponen tersebut berpotensi berinteraksi dan mendukung proses pemulihan jaringan melalui berbagai mekanisme biologis. Namun, komposisi dan kemampuan masing-masing bahan dapat berbeda, bergantung pada sumber jaringan, metode pemrosesan, serta kondisi pasien.

 

Bagaimana “Koktail Sel Segar” Bekerja?

 

Ketika bahan biologis dari sumsum tulang atau jaringan lemak digunakan pada area yang mengalami kerusakan, seperti sendi lutut, tendon, atau luka tertentu, komponen seluler dan molekul biologis di dalamnya berpotensi mendukung proses perbaikan jaringan. Mekanisme yang diteliti dalam kedokteran regeneratif antara lain meliputi empat aspek berikut.

 

1. Mendukung Pembentukan Pembuluh Darah Baru

 

Jaringan yang mengalami kerusakan membutuhkan suplai darah yang memadai untuk menunjang proses pemulihan. Sejumlah komponen dalam bahan biologis, termasuk sel progenitor endotel (endothelial progenitor cells atau EPC), serta faktor pertumbuhan, berpotensi mendukung pembentukan pembuluh darah baru.

 

Perisit, yaitu sel yang berperan menopang dan menstabilkan pembuluh darah, juga terlibat dalam pemeliharaan struktur pembuluh. Interaksi berbagai komponen tersebut menjadi salah satu mekanisme yang diteliti dalam terapi regeneratif. Meski demikian, kecepatan pembentukan pembuluh darah sangat bergantung pada jenis bahan, kondisi jaringan, dan metode terapi. Keunggulan dalam hal kecepatan tidak dapat digeneralisasi tanpa bukti klinis yang memadai.

 

2. Membantu Mengatur Respons Peradangan

 

Peradangan merupakan bagian dari respons alami tubuh terhadap cedera. Namun, peradangan yang berlangsung berlebihan atau berkepanjangan dapat menghambat pemulihan dan memperburuk kerusakan jaringan.

 

Makrofag merupakan salah satu jenis sel imun yang berperan dalam proses tersebut. Dalam penyederhanaan konsep biologis, makrofag M1 sering dikaitkan dengan respons proinflamasi, sedangkan makrofag M2 dikaitkan dengan proses resolusi peradangan dan perbaikan jaringan. Pembagian ini tidak sepenuhnya menggambarkan kompleksitas fungsi makrofag di dalam tubuh.

 

Sejumlah komponen seluler dan molekul biologis dalam BMAC maupun SVF berpotensi memengaruhi lingkungan peradangan. Namun, besarnya manfaat terhadap nyeri, pembengkakan, dan pemulihan jaringan masih bergantung pada kondisi klinis serta bukti penelitian untuk setiap indikasi.

 

3. Memanfaatkan Mekanisme Pengarahan Sel ke Lokasi Cedera

 

Tubuh memiliki sistem sinyal biologis yang membantu mengarahkan pergerakan sel menuju area tertentu, termasuk jaringan yang mengalami cedera. Salah satu sistem yang banyak diteliti adalah interaksi antara SDF-1 dan reseptor CXCR4.

 

SDF-1 merupakan molekul sinyal yang dapat meningkat pada kondisi tertentu, sedangkan CXCR4 adalah reseptor yang terdapat pada sejumlah jenis sel. Interaksi keduanya berperan dalam mekanisme migrasi sel. Sistem ini kerap dianalogikan sebagai GPS biologis yang membantu sel merespons sinyal dari lingkungan jaringan.

 

Namun, kemampuan sel untuk mencapai lokasi cedera dipengaruhi oleh berbagai faktor. Keberadaan reseptor CXCR4 saja tidak menjamin bahwa seluruh sel yang diberikan melalui suatu prosedur akan menemukan dan memperbaiki jaringan yang rusak secara tepat.

 

4. Menghasilkan Sinyal Biologis untuk Mendukung Pemulihan

 

Sel tidak hanya berperan melalui kemampuannya berdiferensiasi menjadi jenis sel tertentu. Sel juga dapat melepaskan berbagai molekul yang memengaruhi aktivitas sel di sekitarnya. Mekanisme komunikasi ini dikenal sebagai efek parakrin.

 

Sejumlah faktor pertumbuhan, seperti VEGF dan FGF-2, terlibat dalam proses pembentukan pembuluh darah dan respons perbaikan jaringan. Sementara itu, molekul seperti IL-10 dan IL-1Ra berperan dalam pengaturan respons peradangan.

 

Melalui mekanisme tersebut, komponen dalam bahan biologis berpotensi membantu menciptakan lingkungan yang mendukung pemulihan. Namun, respons setiap jaringan tidak selalu sama dan manfaat klinisnya perlu dinilai berdasarkan hasil penelitian yang sesuai dengan kondisi yang ditangani.

 

Apa Keunggulan Pendekatan Tanpa Kultur Laboratorium?

 

Penggunaan bahan biologis yang diproses dan diberikan dalam satu rangkaian tindakan di fasilitas pelayanan kesehatan dikenal sebagai pendekatan point-of-care. Dalam kondisi dan prosedur tertentu, pendekatan ini memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dari terapi sel yang memerlukan kultur laboratorium.

 

1. Proses Dapat Dilakukan dalam Satu Rangkaian Tindakan

 

Bahan biologis dapat diambil, diproses, dan digunakan pada hari yang sama apabila prosedur, fasilitas, serta kondisi pasien memungkinkan. Dengan demikian, pasien tidak perlu menunggu proses pembiakan sel selama berminggu-minggu sebagaimana pada terapi yang memang memerlukan kultur.

 

2. Mengurangi Kebutuhan Kultur Sel di Laboratorium

 

Karena tidak melalui tahap pembiakan sel secara ekstensif, pendekatan ini tidak memerlukan media kultur dan rangkaian proses laboratorium yang digunakan dalam produksi sel hasil kultur. Namun, prosedur tersebut tetap membutuhkan penanganan yang steril, pengendalian mutu, serta kepatuhan terhadap ketentuan medis dan regulasi yang berlaku.

 

Penggunaan bahan yang berasal dari tubuh pasien sendiri disebut autologus. Meski demikian, penggunaan bahan autologus tidak serta-merta menghilangkan seluruh risiko, termasuk risiko infeksi, perdarahan, reaksi terhadap prosedur, atau komplikasi lain.

 

3. Menghindari Perubahan yang Berkaitan dengan Kultur Berkepanjangan

 

Sel yang dibiakkan berulang kali di laboratorium dapat mengalami perubahan karakteristik, termasuk penuaan seluler (cellular senescence). Penggunaan bahan segar menghindari tahap kultur berkepanjangan tersebut.

 

Akan tetapi, hal ini tidak berarti semua sel segar selalu lebih sehat atau lebih efektif daripada sel hasil kultur. Kualitas bahan biologis juga dipengaruhi usia, kondisi kesehatan pasien, sumber jaringan, proses pengambilan, dan metode pemrosesan.

 

Pada akhirnya, pemilihan pendekatan terapi perlu mempertimbangkan diagnosis, tujuan tindakan, bukti ilmiah, manfaat yang diharapkan, serta potensi risikonya.

 

Glosarium Ringkas Istilah Medis

 

– MSC (Mesenchymal Stem/Stromal Cell): Sel punca atau sel stromal mesenkimal yang diteliti karena potensinya dalam mendukung pemulihan jaringan dan mengatur respons biologis.

– SVF (Stromal Vascular Fraction): Fraksi yang diperoleh dari jaringan lemak dan mengandung berbagai jenis sel serta komponen biologis.

– BMAC (Bone Marrow Aspirate Concentrate): Konsentrat aspirat sumsum tulang yang mengandung beragam komponen seluler dan biologis.

– Niche: Lingkungan mikro tempat sel berada dan berinteraksi dengan sel lain serta sinyal biologis di sekitarnya.

– EPC (Endothelial Progenitor Cell): Sel progenitor yang dikaitkan dengan proses pembentukan atau perbaikan pembuluh darah.

– Perisit: Sel yang berperan mendukung struktur dan fungsi pembuluh darah.

– Makrofag M1 dan M2: Istilah yang digunakan untuk menggambarkan kecenderungan fungsi makrofag dalam respons peradangan dan proses perbaikan jaringan. Fungsi makrofag sebenarnya lebih kompleks daripada pembagian dua kelompok tersebut.

– SDF-1/CXCR4: Sistem sinyal biologis yang berperan dalam migrasi sel dan respons terhadap sinyal dari lingkungan jaringan.

– VEGF dan FGF-2: Faktor pertumbuhan yang terlibat dalam pembentukan pembuluh darah dan berbagai proses perbaikan jaringan.

– IL-1Ra dan IL-10: Molekul yang berperan dalam mengatur respons peradangan.

 

Kesimpulan

 

Pemanfaatan BMAC dan SVF merupakan salah satu pendekatan yang berkembang dalam kedokteran regeneratif. Kandungan berbagai jenis sel dan molekul biologis di dalamnya menjadi dasar penelitian mengenai potensi dukungannya terhadap pengaturan peradangan, pembentukan pembuluh darah, serta pemulihan jaringan.

 

Pendekatan tanpa kultur laboratorium menawarkan keuntungan dari sisi waktu pemrosesan dan menghindari kebutuhan pembiakan sel berkepanjangan. Namun, manfaat, keamanan, dan efektivitasnya tidak dapat disamaratakan untuk semua jenis penyakit atau kerusakan jaringan.

 

Karena itu, penerapannya perlu didasarkan pada bukti ilmiah yang relevan, penilaian dokter yang kompeten, serta pertimbangan manfaat dan risiko bagi setiap pasien. Kedokteran regeneratif tetap memerlukan penelitian dan evaluasi klinis berkelanjutan agar potensinya dapat dimanfaatkan secara tepat dan bertanggung jawab.(**)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.