Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

PLTP Gunung Ungaran Diproyeksikan 55 MW, Eksplorasi Dimulai Bertahap

 

METROJATENG.COM, SEMARANG — Potensi energi panas bumi di kawasan Gunung Ungaran, Jawa Tengah, mulai memasuki tahap persiapan pengembangan. Pemerintah memproyeksikan potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) berkapasitas hingga 55 Megawatt (MW).

Kepala Bidang Energi Baru Terbarukan (EBT) Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah, Dwi Suryono, mengatakan pengembangan PLTP Gunung Ungaran masih membutuhkan serangkaian tahapan, terutama untuk memastikan besarnya potensi panas bumi di bawah permukaan.

Menurutnya, terbitnya Keputusan Menteri ESDM Nomor 134.TK/EK.04/MEMBPE/2026 menjadi pijakan awal untuk memasuki tahapan eksplorasi. Proyek tersebut diperkirakan membutuhkan investasi sekitar 300 juta dolar AS.

“Eksplorasi ini bagian dari pembuktian studi tidak langsung. Apakah betul di bawah itu ada potensi panas bumi, maka perlu dilakukan pengeboran hingga kedalaman 1.900 sampai 2.200 meter,” ujar Dwi saat konferensi pers di Rumah Rakyat, Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu (26/8/2026).

Pengeboran tersebut menjadi tahapan penting untuk memastikan keberadaan sumber panas, uap, maupun air panas yang dapat dimanfaatkan untuk pembangkitan listrik.

Jika hasil pengeboran tidak menunjukkan potensi yang memadai, pengembangan tidak akan dipaksakan. Pemerintah dan pengembang dapat mengalihkan eksplorasi ke titik prospek lainnya.

“Kalau tidak didapatkan uap air atau panasnya, tentu dicukupkan dan beralih ke lokasi prospek lain,” katanya.

Bukan 29.800 Hektare untuk Pembangkit

Dwi juga meluruskan persepsi mengenai luasan wilayah eksplorasi yang mencapai 29.800 hektare. Luasan tersebut bukan berarti seluruhnya akan menjadi kawasan pembangunan PLTP.

Wilayah tersebut merupakan area konsesi untuk mencari dan menentukan titik-titik yang memiliki prospek panas bumi. Nantinya, pembangunan fisik hanya dilakukan pada lokasi yang dinilai memiliki potensi cukup sekaligus memenuhi aspek teknis dan kesiapan infrastruktur.

Mayoritas wilayah eksplorasi berada di Kabupaten Semarang, sementara sebagian lainnya berada di kawasan pegunungan yang berbatasan dengan Kabupaten Kendal.

“Jadi, 29.800 hektare itu bukan untuk tapak proyek. Itu ruang untuk mencari titik prospek,” jelasnya.

Target Beroperasi 2031

Pengembangan PLTP Gunung Ungaran juga masih membutuhkan waktu panjang. Dwi menyebut tahapan pengurusan izin diproyeksikan berlangsung pada periode 2026 hingga 2029.

Setelah berbagai perizinan dan persiapan terpenuhi, kegiatan pengeboran ditargetkan dapat dilakukan pada akhir 2028 atau 2029.

Apabila hasil eksplorasi membuktikan adanya sumber panas bumi yang cukup untuk menghasilkan listrik, pembangunan fasilitas pembangkit dan infrastruktur pendukung akan dilanjutkan.

“Di tahun 2031 baru di-launching atau di-COD-kan, commercial operation date, beroperasi itu di tahun 2031,” ujarnya.

Teknologi dan Lingkungan Jadi Perhatian

Di tengah rencana pengembangan tersebut, aspek lingkungan dan keberlanjutan menjadi salah satu perhatian. Dinas ESDM Jateng menegaskan pengembangan panas bumi harus dilakukan dengan pengelolaan yang baik serta memperhatikan kondisi lingkungan dan masyarakat sekitar.

Dwi mengatakan teknologi panas bumi telah digunakan dalam jangka panjang di Indonesia. Salah satu contohnya adalah PLTP Kamojang di Jawa Barat yang telah beroperasi sejak 1926.

Menurut dia, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pembangkit panas bumi dapat beroperasi dalam jangka panjang apabila dikelola dengan teknologi, standar keselamatan, dan tata kelola lingkungan yang tepat.

Karena itu, pemerintah juga membuka ruang dialog untuk menjelaskan tahapan eksplorasi sekaligus merespons kekhawatiran masyarakat yang berada di sekitar wilayah prospek.

Pengembangan PLTP Gunung Ungaran, kata Dwi, pada akhirnya tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan listrik, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperbesar pemanfaatan energi baru terbarukan di Jawa Tengah. (*)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.