Beras Alami Deflasi Pertama Sejak 2021, Produksi Melonjak, Impor Tak Diperlukan
METROJATENG.COM, JAKARTA – Kabar menggembirakan datang dari sektor pangan nasional. Untuk pertama kalinya sejak empat tahun terakhir, harga beras justru mengalami penurunan alias deflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada September 2025 beras turun 0,13 persen, memutus tren panjang sebagai penyumbang inflasi di bulan yang sama sejak 2021.
Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, M. Habibullah, menyebut fenomena ini sebagai “anomali positif” dalam dinamika harga pangan. Menurutnya, turunnya harga beras dipengaruhi oleh tiga faktor: panen gadu yang melimpah, pemanfaatan stok gabah lama, serta ketersediaan beras berlebih di pasar.
“Bukan kebetulan harga beras turun. Pasokan gabah naik, penggilingan beroperasi optimal, dan pasokan beras membanjiri pasar. Dampaknya terasa di semua level harga, mulai penggilingan, grosir, hingga eceran,” kata Habibullah.
Data BPS menunjukkan, harga beras kualitas premium di penggilingan rata-rata turun 0,72 persen menjadi Rp13.739 per kilogram. Beras kualitas medium turun 0,54 persen menjadi Rp13.386 per kilogram, sementara kualitas submedium turun 0,31 persen menjadi Rp13.278 per kilogram.
Penurunan harga ini ditopang lonjakan produksi nasional. Berdasarkan Kerangka Sampel Area (KSA) BPS, produksi beras Januari–November 2025 diproyeksikan mencapai 33,19 juta ton, atau naik 12,62 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya 29,47 juta ton. Jumlah tersebut bahkan melampaui total produksi sepanjang 2024 yang tercatat 30,34 juta ton.
“Dengan produksi lebih dari 33 juta ton, ketersediaan pangan pokok terjamin. Tahun ini beras tidak lagi jadi faktor inflasi, tetapi justru menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat,” tegas Habibullah.
Sejalan dengan itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan pemerintah tidak akan membuka keran impor. “Insyaallah tidak ada impor karena stok kita banyak,” ujarnya optimistis.
Peningkatan produksi terjadi berkat transformasi besar di sektor pertanian yang dilakukan Kementan. Program strategis pemerintah, seperti pencetakan sawah baru, rehabilitasi jaringan irigasi, hingga peningkatan kesejahteraan petani, disebut menjadi kunci keberhasilan.
Comments are closed.