Digitalisasi Program Makan Bergizi Gratis Jadi Senjata Utama Lawan Stunting dan Siapkan Generasi Emas
METROJATENG.COM, JAKARTA – Pemerintah terus memacu transformasi digital dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai jurus ampuh menurunkan angka stunting dan menyiapkan generasi unggul menyambut bonus demografi.
Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika, Nezar Patria, menegaskan bahwa digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan dalam menjalankan program berskala nasional seperti MBG yang menargetkan 82 juta anak hingga akhir 2025.
“Memberi makan 82 juta anak bukan perkara sederhana. Tanpa sistem digital yang terintegrasi, sangat sulit mengelola rantai pasok, distribusi, hingga pengawasan kualitas gizi secara efisien,” ujarnya.
Menurut Nezar, digitalisasi menjadi tulang punggung keberhasilan program. Setiap tahapan, mulai dari pengadaan bahan makanan, standarisasi menu, distribusi ke dapur-dapur layanan gizi, hingga pelaporan, harus berbasis data agar berjalan tepat sasaran dan transparan.
“Kelihatannya sederhana, cuma masak lalu dibagikan. Tapi kenyataannya, menyiapkan makanan bergizi dalam jumlah besar memerlukan sistem logistik yang presisi. Kapan bahan datang, bagaimana kualitasnya, apakah sesuai standar gizi—semua itu hanya bisa diawasi lewat sistem digital,” jelasnya.
Sistem digital memungkinkan pemantauan real-time terhadap harga, stok, hingga kualitas makanan yang sampai di tangan anak-anak. Ini penting untuk mencegah penyelewengan, manipulasi harga, atau pemborosan anggaran negara.
Nezar menyebutkan bahwa konektivitas digital yang kini sudah menjangkau 97 persen wilayah berpenghuni di Indonesia menjadi peluang besar untuk memastikan semua daerah menikmati manfaat program secara adil.
“Kalau ada makanan basi atau tak layak di sekolah, masyarakat bisa lapor langsung. Sistem pengawasan dibangun agar keluhan cepat ditangani,” katanya.
Lebih dari sekadar proyek makan gratis, program MBG disebut Nezar sebagai investasi jangka panjang untuk membentuk generasi pekerja unggul di masa depan. Ia mencontohkan negara-negara yang berhasil mencetak SDM berkualitas lewat intervensi gizi sejak dini.
“Anak-anak yang sehat dan bergizi akan tumbuh menjadi tenaga kerja produktif. Ini bekal penting menghadapi era ekonomi digital menuju Indonesia Emas 2045,” tambahnya.
Nezar menyambut baik inisiatif Presiden Prabowo dalam menggulirkan program ini. Meski sempat tertunda, ia menyebut langkah ini sebagai keputusan strategis untuk masa depan bangsa.
“Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. MBG adalah titik awal reformasi layanan publik berbasis data dan teknologi,” tutupnya.
Comments are closed.