Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Anak-anak Belajar Cinta Alam Lewat “Nature Walk” di Lereng Merapi

METROJATENG.COM, MAGELANG – Tawa riang anak-anak memecah kesunyian pagi di kawasan Lereng Merapi, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang. Mereka bukan sedang berlibur, melainkan mengikuti kegiatan Nature Walk, sebuah program belajar di alam terbuka yang digagas Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Inside Out School (io_school) Yogyakarta bekerja sama dengan Asar Humanity.

Kegiatan ini diikuti anak-anak dari Panti Madania Maguwoharjo, Sleman, dan PKBM Inside Out School Magelang. Sejak pagi, mereka berjalan menyusuri hutan pendek dan tanggul Kali Putih sambil menikmati berbagai keajaiban kecil alam, mulai dari tanaman putri malu yang menguncup saat disentuh hingga bunga putih Randa Tapak yang beterbangan tertiup angin.

Ketua PKBM Inside Out School Magelang, Sulistiyawati, menjelaskan bahwa Nature Walk dirancang untuk mengembalikan kedekatan anak dengan alam.

“Anak-anak tak hanya bermain, tapi juga mengamati, memerhatikan, dan mensyukuri alamnya. Dari situ tumbuh empati dan kesadaran ekologis,” ujarnya.

Menurutnya, bermain di alam dapat menumbuhkan berbagai potensi dan kecerdasan majemuk anak, seperti kecerdasan kinestetik, visual, interpersonal, hingga kecerdasan naturalis. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi alternatif positif di tengah maraknya penggunaan gawai pada anak.

“Mereka mendapat sinar matahari, udara segar, dan interaksi sosial nyata, sesuatu yang jarang ditemui di era digital,” tambahnya.

Sebelum menjelajah, anak-anak diajak bermain permainan tradisional khas Indonesia seperti egrang, lompat tali, damdaman, dan dakon. Setelah itu, rombongan yang dipimpin Sulistiyawati dan perwakilan Dyakarsa Foundation berjalan menuju kawasan hutan dan aliran Kali Putih untuk mengenal lebih dekat lingkungan Merapi.

Menariknya, kegiatan ini juga disisipkan pembelajaran mitigasi bencana Gunung Merapi. Para fasilitator mengajarkan anak-anak membaca tanda-tanda alam. misalnya, jika puncak gunung tertutup awan tebal, maka bermain di sungai sebaiknya ditunda karena berisiko banjir lahar dingin.

“Prinsip Nature Walk sederhana: jangan ambil apa pun selain foto, jangan tinggalkan apa pun selain jejak,” tutur Sulistiyawati.

Inisiator kegiatan dari Asar Humanity, Revangga Twin, menilai Nature Walk sebagai pengalaman belajar yang autentik dan membebaskan.

“Selama ini anak-anak lebih banyak beraktivitas di gedung dan jalanan kota. Di sini mereka bisa bernafas lega, menyentuh tanah, dan belajar langsung dari alam,” katanya.

Revangga menambahkan, kegiatan semacam ini sejalan dengan misi Asar Humanity yang bergerak di bidang pengembangan manusia dan kemanusiaan. Ia berharap kolaborasi ini bisa berlanjut dalam bentuk kegiatan sosial-edukatif lain.

PKBM Inside Out School sendiri dikenal sebagai komunitas belajar berbasis alam yang menekankan pembentukan karakter melalui eksplorasi fitrah anak, interaksi dengan lingkungan, dan pembiasaan literasi.

Sebagai lanjutan, kegiatan Nature Walk akan dikembangkan menjadi “Festival Dolanan Bocah dan Keceh Kali”, yang akan melibatkan lebih banyak sekolah, komunitas, serta lembaga sosial dari Yogyakarta dan Magelang.

Comments are closed.