Gus Nasrul: Santri Ma’had Aly Harus Jadi Mutiara di Akhir Zaman
Santri Diminta Istikamah Menuntut Ilmu dan Menjaga Akhlak
JEPARA – Santri Ma’had Aly diharapkan mampu menjadi “mutiara” sekaligus benteng keilmuan Islam di tengah tantangan akhir zaman. Selain mendalami ilmu syariat, para santri juga didorong memiliki prinsip hidup yang kuat agar tetap istiqamah dalam berdakwah dan menjaga akhlak.
Ketua Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) sekaligus Mudir Ma’had Aly Balekambang Jepara, Dr KH Nasrulloh Afandi (Gus Nasrul), menyampaikan pesan tersebut saat memberikan sambutan pada acara Serah Terima dan Ta’aruf Santri Baru Ma’had Aly Balekambang yang berlangsung pada 21–25 Juli 2026.
“Di tengah perubahan zaman, para mahasantri Ma’had Aly diharapkan menjadi golongan yang istiqamah mempelajari ilmu syariat Islam dan mengaji. Mereka bertugas mengajak kepada kebaikan serta menjalankan amar ma’ruf nahi munkar,” ujarnya.
Gus Nasrul mengutip Surat Ali Imran ayat 104 tentang pentingnya keberadaan segolongan umat yang terus menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Menurutnya, orientasi pendidikan saat ini semakin mengarah pada pola hidup hedonis dan kapitalis yang hanya mengejar keuntungan materi.
“Jangan pernah minder menjadi santri Ma’had Aly, karena lembaga ini berada di bawah Kementerian Agama dan ijazahnya diakui negara setara dengan perguruan tinggi keagamaan Islam seperti UIN maupun IAIN,” jelasnya.
Diterangkan, kurikulum Ma’had Aly yang hampir seluruhnya berbasis kajian kitab kuning (turats) justru menjadi keunggulan dalam mencetak ulama yang tafaqquh fiddin sekaligus memiliki pengakuan akademik formal. Hal itu menjadi keberuntungan bagi orang tua yang mempercayakan pendidikan putra-putrinya di Ma’had Aly.
“Ma’had Aly digembleng untuk melahirkan ulama yang mendalam dan menguasai ilmu keagamaan, bukan sekadar mengejar keterampilan kerja formal,” terangnya.
Dalam kesempatan itu, Gus Nasrul juga membekali santri baru dengan mengutip Surat Al-Ma’idah ayat 105 tentang pentingnya menjaga diri dan memegang teguh prinsip. Ia mengaku pesan tersebut selalu ditanamkan oleh orang tuanya sejak menimba ilmu di Pesantren Lirboyo hingga menyelesaikan studi di luar negeri.
“Kalau tidak punya prinsip, melihat teman merokok ikut merokok, melihat teman malas ikut malas. Sebaliknya, jika memegang teguh prinsip diri, santri akan tetap fokus belajar dan menjadi teladan,” tegasnya.
Di hadapan para santri, alumnus Universitas Al-Qarawiyyin Maroko itu juga mengibaratkan perguruan tinggi seperti sebuah supermarket. Menurutnya, setiap mahasiswa bebas menentukan apa yang ingin dibawa pulang, apakah ilmu dan prestasi atau justru hal-hal yang tidak bermanfaat.
“Kalau masuk supermarket hanya jalan-jalan, pulangnya tidak membawa apa-apa. Kalau mencari barang berharga, pulangnya membawa barang berharga. Begitu pula kuliah, jangan sampai menjadi ‘sampah kampus’ karena hanya bermalas-malasan,” pungkasnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Balekambang, KH Ali Sibro Malisi (Gus Lis), mengingatkan para santri agar tetap menjaga identitas dan akhlak sebagai santri meski menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Menurutnya, Ma’had Aly merupakan perguruan tinggi yang berada di bawah naungan pesantren sehingga memiliki tanggung jawab besar mencetak calon ulama yang berilmu sekaligus berakhlak mulia.(*)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.