Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Inovasi Petani Pragu: Mesin Otomatis Penata Rajangan Tembakau Dongkrak Produktivitas Hingga Dua Kali Lipat

METROJATENG.COM, REMBANG – Petani tembakau di Desa Pragu, Kecamatan Sulang, menciptakan inovasi yang semakin menarik perhatian para petani lintas daerah. Sebuah mesin penata rajangan tembakau otomatis yang mereka sebut mesin eler tembakau, telah terbukti mampu mempercepat proses produksi sekaligus mengurangi kebutuhan tenaga kerja secara signifikan.

Alat yang mulai dikembangkan pada 2019 ini kini menjadi solusi atas tantangan klasik petani tembakau: kerja perajangan yang memakan waktu dan sulitnya mendapatkan tenaga tambahan saat musim tanam. Mesin tersebut tidak hanya mengatur rajangan tembakau, tetapi juga menata tetek atau alas penjemuran secara otomatis.

Narko, salah satu petani sekaligus pengguna awal mesin ini, menyebut perubahan yang ia rasakan “sangat drastis”. Dahulu, ia membutuhkan enam hingga tujuh orang untuk merajang tembakau. Kini, hanya tiga hingga empat orang sudah cukup untuk menghasilkan produksi yang jauh lebih besar.

“Kalau manual, tiga orang paling dapat 25 sampai 30 tetek. Pakai mesin, tiga orang bisa menghasilkan 40 sampai 60 tetek per jam,” terang Narko.

Dengan tambahan tenaga, produktivitas bisa melonjak hingga 90–100 tetek per jam. Inovasi ini juga memudahkan keluarga petani yang selama ini mengandalkan tenaga internal.

“Keluarga saya tiga orang ditambah satu saja sudah bisa jalan. Dalam satu sampai dua jam bisa selesai lebih dari 100 tetek,” ujarnya.

Dikembangkan Mandiri hingga Dilirik Petani Daerah Lain

Mesin karya lokal ini dirancang oleh ayah dan paman Narko, kemudian disempurnakan selama tiga tahun hingga mencapai performa optimal pada 2022. Seiring meningkatnya minat, pesanan kini datang dari berbagai wilayah, termasuk Tlogowungu. Harga mesin sekitar Rp7,5 juta sudah termasuk pemasangan dan garansi, dengan waktu pembuatan dua hingga tiga minggu.

Selain meningkatkan efisiensi, mesin ini dinilai mampu menjaga kualitas rajangan. Proses yang cepat mencegah tembakau berubah warna akibat terlalu lama terekspos udara sebelum dijemur.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang, Agus Supriyanto, menilai inovasi tersebut sebagai lompatan besar dalam pengolahan tembakau rakyat.

“Yang dulu manual, sekarang hanya tinggal masukkan bahan dan mesin langsung menata tetek secara otomatis. Tenaga kerja yang dibutuhkan jauh berkurang,” jelasnya. Menurut Agus, peningkatan kapasitas produksi menjadi salah satu keunggulan lain yang mulai menarik minat petani dari luar daerah.

Ia menegaskan bahwa dinas akan mendorong pemanfaatan teknologi sederhana semacam ini untuk diadopsi lebih luas. “Kami akan sosialisasikan agar mesin ini bisa membantu lebih banyak petani tembakau,” ujarnya.

Dengan efisiensi tinggi, biaya lebih ringan, dan kualitas produk yang terjaga, inovasi dari Desa Pragu ini berpotensi menjadi terobosan penting bagi industri tembakau skala rakyat di Kabupaten Rembang dan sekitarnya.

Comments are closed.