Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Pemkot Semarang Perketat Kendali Mikroplastik, Siapkan Teknologi Baru untuk Tekan Pencemaran

METROJATENG.COM, SEMARANG – Ancaman mikroplastik di Ibu Kota Jawa Tengah memasuki fase yang semakin serius. Setelah temuan riset ECOTON–SIEJ memicu perhatian publik, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang kini mengambil langkah lebih progresif untuk menekan pencemaran yang mengancam kualitas udara, air, dan kesehatan warganya.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menegaskan bahwa mikroplastik sudah menjadi isu strategis yang membutuhkan pendekatan lintas sektor. Ia menyebutkan, paparan mikroplastik pada lingkungan perkotaan kini berpotensi memengaruhi kelompok masyarakat rentan seperti anak-anak dan lansia.

“Ini ancaman nyata. Semua instrumen kebijakan harus bergerak bersama untuk memastikan kualitas lingkungan hidup tetap terjaga,” ujar Agustina.

Pemkot Semarang telah mengoperasikan sejumlah aturan yang menjadi fondasi pengendalian sampah plastik—salah satu sumber utama mikroplastik. Beberapa di antaranya:

  • Perwali No. 27/2019 tentang pembatasan penggunaan plastik sekali pakai.

  • Surat Edaran 2024 yang mendorong pengurangan sampah rumah tangga dan memperkuat edukasi pemilahan sampah di kawasan permukiman.

  • Surat Edaran 2025 tentang gerakan pilah sampah dari rumah sebagai dasar pembenahan sistem pengelolaan dari hulu ke hilir.

Selain mendorong pengurangan sampah, Pemkot juga menargetkan perubahan perilaku masyarakat melalui program rutin seperti Bank Sampah, ProKlim, sekolah Adiwiyata, dan layanan tukar sampah plastik saat car free day.

Teknologi Pirolisis dan Energi Alternatif

Salah satu terobosan strategis adalah pemanfaatan limbah plastik menjadi bahan bakar alternatif Petasol. Teknologi ini diatur melalui Perwali No. 7/2025 dan bekerja dengan mekanisme pirolisis, sehingga dapat mengurangi potensi pembentukan mikroplastik sekaligus menambah nilai guna residu plastik yang sulit didaur ulang.

Langkah ini diperkuat dengan instruksi kepada organisasi perangkat daerah (OPD) melalui Instruksi Wali Kota No. 1/2024, yang memastikan percepatan pengelolaan sampah rumah tangga berjalan lebih terkoordinasi.

Laporan terbaru menunjukkan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Semarang tahun 2024 baru mencapai 59,41%, angka yang menandakan perlunya percepatan perbaikan kualitas udara, air, dan residu plastik.

Tema pembangunan 2026 akan menempatkan isu lingkungan dan ketahanan pangan sebagai prioritas utama, dengan target IKLH naik menjadi 67,52%.

Untuk itu, Pemkot menyiapkan rangkaian inovasi baru:

  • Percontohan filtrasi mikroplastik bagi kawasan padat penduduk yang menggunakan air PDAM maupun sumur gali.

  • Sensor partikulat mikroplastik di titik lalu lintas padat guna memantau paparan secara real-time.

  • Basis data lingkungan terintegrasi untuk memastikan efektivitas pelaporan dan akuntabilitas penggunaan Dana Insentif Fiskal.

Dengan memperkuat kebijakan, memadukan teknologi baru, dan melibatkan masyarakat, Pemkot Semarang berharap dapat menekan kontaminasi mikroplastik secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

“Semua langkah harus terukur dan transparan. Kami ingin memastikan Semarang menjadi kota yang lebih bersih, sehat, dan aman bagi generasi mendatang,” tegas Agustina.

Comments are closed.