Dari Sisa Panas Bumi, Petani Kamojang Menuai 70 Ton Kubis dan Merajut Kemandirian Pangan
Inovasi Geo-Fert, Dari Limbah Jadi Berkah
Di lereng Kamojang, Kabupaten Bandung, panas bumi tak hanya menghasilkan listrik. Sisa panas dari pembangkit dimanfaatkan untuk mengolah limbah organik menjadi pupuk. Inovasi ini membantu petani meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, dan menumbuhkan harapan menuju kemandirian pangan di tengah tantangan musim kemarau.
Tri Sutristiyaningsih
KUBIS-KUBIS berukuran besar memenuhi lahan Kelompok Tani Hutan (KTH) Cikondang di Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung. Beberapa di antaranya memiliki bobot hingga enam kilogram per buah, hampir dua kali lipat ukuran rata-rata kubis lokal.
Panen pada September 2026 itu menghasilkan sekitar 70 ton kubis varietas Granova dari lahan seluas 1,2 hektare. Nilai penjualannya mencapai Rp78 juta. Di balik hasil yang menggembirakan itu, tersimpan perjuangan petani menghadapi tantangan alam yang tak selalu bersahabat.
Saat musim kemarau tiba, lahan pertanian di kawasan Kamojang menghadapi persoalan tersendiri. Tanah mengering, sementara petani kesulitan memperoleh air untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Sayuran seperti kubis pun berisiko tidak berkembang optimal. Kondisi tersebut membuat petani harus mencari cara agar produktivitas lahan tetap terjaga meski alam tidak selalu berpihak.
Bagi Hendro Gunawan, petani anggota KTH Cikondang, musim kemarau biasanya menjadi masa yang penuh tantangan. Karena itu, hasil panen kali ini menghadirkan kejutan sekaligus harapan. Di tengah kondisi yang semestinya menyulitkan pertumbuhan tanaman, kubis di lahannya justru tumbuh subur dan berukuran besar.
“Pada musim kemarau ini, biasanya sayuran seperti kubis sangat sulit tumbuh dengan baik. Namun, dengan adanya pupuk dari limbah panas bumi, justru tumbuh subur. Bahkan, satu kubis bisa berbobot enam kilogram. Ini sungguh luar biasa. Kami tidak menyangka hasilnya sangat memuaskan,” kata Hendro.
Di balik keberhasilan tersebut, ada inovasi pemanfaatan energi panas bumi yang dikembangkan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Kamojang. Melalui pupuk organik Geothermal Organic Fertilizer (GeO-Fert), limbah organik diolah menjadi pupuk yang kembali dimanfaatkan untuk menyuburkan tanah.
Bagi Hendro dan petani lainnya, hasil panen tersebut bukan sekadar tentang kubis berukuran besar. Di tengah keterbatasan sumber daya dan tantangan musim kemarau, inovasi ini membuka peluang untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi biaya usaha tani. Dari sumber daya yang selama ini lebih dikenal sebagai penghasil listrik, muncul manfaat lain yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Dari lahan seluas 1,2 hektare, nilai penjualan kubis mencapai sekitar Rp78 juta. Penggunaan GeO-Fert juga membantu menghemat biaya pembelian pupuk sekitar Rp20 juta. Angka tersebut menjadi bukti bahwa pemanfaatan sumber daya lokal dapat memberikan nilai tambah bagi pertanian.
Dari Limbah Menjadi Berkah
GeO-Fert dikembangkan PGE Area Kamojang dengan memanfaatkan ekses uap dari pembangkit listrik tenaga panas bumi bersuhu sekitar 60–70 derajat Celsius untuk mengeringkan pupuk organik. Proses pengeringan yang secara konvensional dapat memakan waktu hingga 14 hari kini dapat diselesaikan sekitar 12 jam.
Inovasi ini mengubah limbah organik menjadi produk yang bernilai guna. Bahan yang sebelumnya kurang termanfaatkan diolah menjadi pupuk untuk mendukung kesuburan tanah dan produktivitas pertanian.
Dalam budidaya kubis tersebut, sekitar 30 ton GeO-Fert digunakan pada lahan seluas 1,2 hektare. Pupuk padat diberikan sebelum penanaman, sedangkan pupuk cair diaplikasikan setiap 15 hari.

Ketua KTH Cikondang Kamojang, Asep Muhamad Deni, mengatakan GeO-Fert membuka kesempatan bagi petani untuk memproduksi pupuk sendiri dan memanfaatkan bahan yang sebelumnya kurang bernilai.
“Dengan GeO-Fert, kami bisa memproduksi pupuk sendiri. Limbah yang tadinya tidak terpakai dapat dimanfaatkan kembali untuk memperbaiki kondisi tanah dan mendukung hasil panen. Ini membuka peluang bagi petani untuk lebih mandiri,” ujar Asep.
Bagi petani, kemampuan memanfaatkan sumber daya di sekitar mereka menjadi langkah penting untuk memperkuat usaha tani. Ketika biaya produksi dapat ditekan dan hasil panen meningkat, peluang untuk mempertahankan usaha di tengah tantangan lingkungan pun semakin terbuka.
Manfaat GeO-Fert lanjut Asep juga terlihat pada budidaya kentang. Pada April 2026, panen dari lahan sekitar 4.200 meter persegi mencapai 7.581 kilogram, lebih tinggi dibandingkan metode konvensional yang menghasilkan sekitar 4.525 kilogram.
Biaya produksi kentang juga turun dari sekitar Rp73,1 juta menjadi Rp49,5 juta per tahun, sehingga menghemat sekitar Rp23,5 juta. Selain kubis dan kentang, GeO-Fert dimanfaatkan untuk budidaya cabai, tomat, dan labu siam.
Hendro menilai pertanian harus terus beradaptasi dengan tantangan lingkungan dan perkembangan teknologi. Petani, menurutnya, tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan turun-temurun, tetapi juga perlu terbuka terhadap inovasi yang memberikan hasil nyata.
“Pertanian harus berjalan selaras dengan lingkungan. Kita perlu memanfaatkan sumber daya yang ada dan terus berinovasi. Kolaborasi panas bumi dengan pertanian menjadi salah satu contoh nyata,” katanya.
Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho mengatakan keberhasilan panen tersebut menjadi kebanggaan, terutama ketika pengembangan panas bumi nasional memasuki usia satu abad.
“Panas bumi selama ini lebih dikenal sebagai sumber listrik. Melalui GeO-Fert, kami ingin menunjukkan bahwa manfaatnya bisa lebih luas, termasuk membantu masyarakat mengolah limbah organik menjadi pupuk untuk pertanian. Inilah semangat Beyond Electricity, ketika energi bersih juga memberikan nilai tambah bagi kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Potensi Besar yang Harus Digarap Bersama
Manfaat panas bumi Kamojang turut mendapat perhatian Staf Khusus Wakil Presiden RI Bidang Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pembangunan Sosial, Tina Talisa, saat mengunjungi Area Kamojang pada 20 Oktober 2026.
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), potensi panas bumi Indonesia mencapai 23.202,77 megawatt (MW). Namun, kapasitas terpasang baru sekitar 2.776,39 MW atau 11,6 persen. Indonesia saat ini berada di peringkat kedua dunia setelah Amerika Serikat dalam kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi.

“Posisi nomor dua di dunia, tapi memang masih ada ruang pengembangan sangat besar, karena kita belum sampai 12 persen, baru 11,6 persen dari total potensi,” kata Tina.
Ia optimistis Indonesia berpeluang menjadi negara dengan kapasitas panas bumi terbesar di dunia. Namun, untuk mencapai target tersebut, diperlukan kerja sama berbagai pihak.
“Jadi nomor satu di dunia itu menurut pemerintah sangat masuk akal sebetulnya untuk dicapai, tapi memang catatannya adalah kita mesti bareng-bareng,” ujarnya.
Dalam kunjungan itu, Tina juga meninjau program KANYAAH (Kamojang Agri-Aquaculture Energized by Geothermal for Harmony), termasuk fasilitas pengeringan biji kopi yang memanfaatkan panas bumi.
Teknologi Geothermal Dry House memangkas waktu pengeringan kopi dari 30–45 hari menjadi 3–10 hari. Program ini mendukung 320 keluarga petani kopi di sekitar Kamojang, dengan produk yang telah menjangkau pasar Asia dan Eropa.
Tina menilai Kamojang menunjukkan bahwa pengembangan energi harus terhubung dengan pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan.
“Kamojang menjadi contoh bagaimana energi dapat terhubung dengan aspek sosial dan lingkungan. Keberlanjutan perlu dijaga bersama melalui kolaborasi dan komunikasi yang intens dengan masyarakat serta pemerintah daerah. Dan sekali lagi, ini bukti nyata,” katanya.
General Manager PGE Area Kamojang Albertus Novi Purwono mengatakan program pemberdayaan seperti GeO-Fert memperlihatkan bagaimana energi panas bumi dapat memberikan manfaat lebih luas daripada listrik.
“Melalui HAREPAN, kami ingin menunjukkan bahwa panas bumi dapat terhubung dengan pengelolaan limbah organik dan pertanian. Hasilnya bukan hanya peningkatan produktivitas, tetapi juga efisiensi usaha tani dan nilai tambah yang dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Kepala Desa Laksana, Hj. UU Budiman, mengapresiasi pemanfaatan GeO-Fert oleh kelompok tani di wilayahnya. Ia berharap program tersebut terus berlanjut agar manfaatnya semakin luas dirasakan warga.
Pemberdayaan masyarakat di Kamojang juga mencakup pengolahan keripik hasil bumi, teh daun kopi, ikan asin, dan pakan ikan. Program Desa Energi Berdikari Kanyaah turut didukung pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 6,6 kilowatt peak (kWp) dan baterai 20 kilowatt-jam (kWh).
Berbagai program tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan energi bersih dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat. Potensi yang tersedia di sekitar warga tidak hanya dimanfaatkan untuk menghasilkan energi, tetapi juga dikembangkan menjadi peluang usaha dan sumber penghidupan.
Bagi petani Cikondang, keberhasilan panen 70 ton kubis menjadi salah satu bukti bahwa inovasi dapat membuka jalan menuju pertanian yang lebih produktif dan efisien. Panas bumi membantu mengolah limbah menjadi pupuk, pupuk mendukung pertumbuhan tanaman, dan hasil panen memberikan nilai tambah bagi usaha tani.
Tantangan musim kemarau memang belum hilang. Ketersediaan air tetap menjadi persoalan yang harus dihadapi petani. Namun, pemanfaatan teknologi dan sumber daya lokal memberi mereka pilihan untuk terus beradaptasi, memperkuat usaha, dan mengurangi beban biaya produksi.
Di Kamojang, panas bumi bukan sekadar energi yang menggerakkan turbin. Melalui inovasi dan pemberdayaan masyarakat, energi itu turut memberi nilai tambah bagi pertanian, memperkuat kemandirian petani, dan menumbuhkan harapan dari tanah yang mereka rawat. (*)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.