Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Sulit Dijual, 400 Kg Sampah Plastik MPL Disulap Giselle Purnama Jadi Meja dan Kursi

Disumbangkan Untuk Paud As Syukur

METROJATENG.COM, UNGARAN – Plastik multilayer (MPL) kerap menjadi pekerjaan rumah bagi pengelola bank sampah. Berbeda dengan plastik yang mudah didaur ulang, material berlapis ini sulit dijual sehingga berisiko berakhir sebagai sampah tak termanfaatkan.

Namun, di tangan Giselle Purnama, siswi kelas 11 Jakarta Intercultural School (JIS), sampah tersebut diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Berkolaborasi dengan Community Development (Comdev) Sido Muncul dan Bank Sampah Desa Bergas Kidul, Giselle menginisiasi pengolahan sekitar 400 kilogram sampah plastik MPL. Salah satu hasilnya berupa 20 meja dan kursi yang disumbangkan untuk mendukung kegiatan belajar anak-anak TPA As Syukur di Leyangan Timur, Ungaran, Kabupaten Semarang.

Inisiatif ini bukan sekadar mengubah sampah menjadi barang baru. Lebih jauh, program tersebut berupaya menjawab dua persoalan sekaligus, yakni sampah plastik yang sulit dipasarkan dan peluang peningkatan nilai ekonomi dari material yang selama ini kurang dilirik.

Giselle mulai mengenal persoalan tersebut saat menjalani magang di Sido Muncul pada 2025. Ketika mengikuti kegiatan Comdev di Desa Bergas Kidul, ia melihat langsung aktivitas masyarakat dalam mengelola lingkungan dan mengembangkan bank sampah.

Dari sana, ia mengetahui bahwa plastik MPL terdiri atas beberapa lapisan material yang membuatnya lebih sulit diproses dan memiliki nilai jual terbatas dibandingkan jenis plastik lainnya.

Pengalaman itu mendorong Giselle mencari cara agar sampah tersebut tidak berhenti sebagai timbunan, tetapi dapat diolah menjadi barang yang bermanfaat. Program ini mulai dirintis pada akhir 2025, kemudian dilanjutkan melalui kegiatan lokakarya pada Juli 2026.

“Saya sangat senang, warga desa sangat antusias menjaga lingkungan mereka bersih dari sampah. Alangkah baiknya jika mereka dapat memanfaatkan sampah tersebut menjadi barang yang bermanfaat, dan selain itu mereka pun dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan hidup warga,” ujar Giselle Purnama, saat menyerahkan bantuan 20 meja kursi hasil daur ulang plastik MPL di Paud As Syukur, Leyangan Timur, Ungaran, Jumat (9/10/2026).

Dalam program ini, pengolahan sampah tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan produk, tetapi juga mengenalkan pengetahuan kepada masyarakat mengenai pemanfaatan plastik MPL. Giselle turut menyampaikan materi pembelajaran agar warga memahami potensi sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.

Setiap kursi membutuhkan sekitar tujuh kilogram plastik. Dengan demikian, pengolahan plastik MPL menjadi furnitur membutuhkan pengumpulan bahan baku dan proses produksi yang terorganisasi.

Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan produk yang dihasilkan dapat dipasarkan secara berkelanjutan. Jika hasil pengolahan hanya berhenti pada pembuatan barang dan penyaluran bantuan, manfaat ekonominya bagi warga belum tentu berkembang dalam jangka panjang.

Karena itu, pengembangan pemasaran menjadi langkah penting agar produk olahan plastik MPL dapat menghasilkan pendapatan. Harapannya, hasil penjualan dapat dikembalikan kepada masyarakat di wilayah penghasil sampah sehingga manfaat program tidak hanya dirasakan melalui lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga berkontribusi terhadap kesejahteraan warga.

ASYIK MENGAJAR – Giselle Purnama, siswi kelas 11 JIS, asyik bermain dengan anak-anak Paud As Syukur Leyangan Timur. (tya/redmetrojateng)

 

Dukung Kegiatan Belajar Anak

Sebanyak 20 meja dan kursi hasil program disalurkan kepada TPA As Syukur di Leyangan Timur. Lembaga yang berdiri sejak 2013 tersebut melayani 15 anak dengan dukungan lima pengasuh.

Kegiatan di TPA As Syukur meliputi bermain, belajar dasar-dasar pengetahuan, hingga membaca Iqra. Kehadiran meja dan kursi baru diharapkan membantu menunjang aktivitas belajar anak-anak.

Pengelola TPA As Syukur, Situ Makfiyah, bersama para pengasuh mendampingi kegiatan belajar sehari-hari. TPA tersebut juga telah menerima dukungan dari Sido Muncul selama sekitar dua tahun, termasuk bantuan mainan edukatif.

Perwakilan PLKB Kecamatan Ungaran Timur, Rochmiatun, mengapresiasi kolaborasi yang menghubungkan kepedulian terhadap lingkungan dengan pemenuhan kebutuhan sarana belajar anak.

“Kami mengapresiasi kepedulian Giselle dan Sido Muncul. Bantuan ini bermanfaat untuk menunjang kegiatan anak-anak di TPA As Syukur, sekaligus memberikan contoh bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak berguna dapat diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai manfaat,” ujar Rochmiatun.

Menurut dia, keterlibatan masyarakat menjadi kunci agar pengelolaan sampah tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Warga diharapkan mulai memilah dan mengumpulkan plastik MPL untuk disalurkan ke bank sampah terdekat.

“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat menginspirasi masyarakat untuk menjaga lingkungan sekaligus mendukung kebutuhan anak-anak. Kepedulian terhadap lingkungan dan perhatian pada tumbuh kembang anak perlu berjalan beriringan, termasuk dalam upaya pencegahan stunting,” tegasnya.

Program ini memperlihatkan bahwa persoalan sampah dapat dihubungkan dengan kebutuhan sosial masyarakat. Akan tetapi, keberlanjutannya bergantung pada konsistensi pengumpulan bahan baku, kemampuan menghasilkan produk berkualitas, serta kepastian pasar.

Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, plastik MPL yang semula sulit dijual berpeluang menjadi sumber nilai tambah. Manfaatnya pun diharapkan tidak hanya berupa berkurangnya sampah, tetapi juga terbukanya kesempatan ekonomi bagi masyarakat dan dukungan nyata bagi lingkungan belajar anak-anak. (*)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.