Dari Abon Bandeng, Isma Merajut Masa Depan Anak dan Warga Mangunharjo di Tengah Ancaman Rob
Di balik setiap kemasan abon bandeng buatan Isma dan warga Mangunharjo Kecamatan Tugu Semarang, ada tangan-tangan yang tekun bekerja, kecemasan ketika dagangan tak kunjung laku, dan doa seorang ibu agar anak-anaknya bisa meraih pendidikan tinggi. Dari dapur sederhana di pesisir Mangunharjo, ia belajar, perjuangan mencari nafkah bukan hanya tentang bertahan hidup, tetapi juga tentang menjaga harapan agar masa depan keluarga tak ikut tenggelam oleh keadaan.
METROJATENG..COM, SEMARANG – Duri-duri halus bandeng harus disingkirkan satu per satu. Daging ikan dibersihkan, dipisahkan dari tulangnya, lalu disuwir sebelum berpadu dengan racikan bumbu. Tidak boleh ada tahap yang dikerjakan dengan tergesa. Sedikit saja duri tertinggal, kualitas abon bisa berkurang.
Bagi Isma, setiap tahapan itu bukan sekadar pekerjaan dapur. Ada harapan yang ia titipkan pada setiap kilogram bandeng yang diolahnya. Ia ingin hasil tambak yang selama ini dijual sebagai ikan segar dapat memberikan penghasilan lebih baik bagi keluarganya. Lebih dari itu, ia ingin kedua anaknya memiliki kesempatan menempuh pendidikan tinggi.
Namun, perjuangan itu tidak selalu berakhir manis. Pernah, setelah berjam-jam mencurahkan tenaga untuk membuat abon bandeng, Isma justru dihadapkan pada kenyataan pahit: produk yang telah selesai diolah tak kunjung menemukan pembeli. Kerja kerasnya belum tentu menghasilkan uang. Abon yang dibuat dengan penuh ketelitian bisa saja hanya tersimpan tanpa tahu kapan akan terjual.
“Kami sempat mengalami kekhawatiran abon bandeng tidak bisa dipasarkan. Selama ini kami memang menjual sendiri, sehingga hasilnya tidak maksimal,” kenang Isma.
Sebelum mengenal Pondok Mami Sera, pemasaran abon bandengnya berjalan tidak menentu. Dalam sebulan, omzet penjualan terkadang hanya sekitar Rp500.000. Bahkan, pernah ada masa ketika abon yang diproduksinya tidak terjual sama sekali.
“Bayangkan, bahan baku telah dibeli, waktu telah dihabiskan, dan tenaga telah dicurahkan. Namun, ketika produk selesai dibuat, belum ada kepastian apakah hasilnya bisa menjadi tambahan penghasilan keluarga,” kenangnya.
Bagi Isma, keadaan itu tentu bukan perkara ringan. Ia ingin usahanya membantu perekonomian rumah tangga, tetapi jalan menuju pasar masih terasa sempit. Keterampilan mengolah ikan sudah dimiliki, tetapi kemampuan memasarkan produk belum cukup kuat untuk membuat usahanya berkembang.
Ia tidak ingin menyerah. Sebab, di balik usaha kecil yang dijalankannya, ada harapan besar yang ingin diwujudkan.
Ketika Abon Menjadi Jalan Harapan
Harapan itu perlahan menemukan jalannya ketika Pondok Mami Sera hadir sebagai wadah pemasaran produk warga Mangunharjo. Isma dan perempuan lainnya kini memiliki tempat untuk menitipkan hasil olahan mereka agar lebih mudah dikenal dan dijangkau pembeli.
Perubahan itu mengurangi kecemasan yang selama ini membayangi usaha Isma. Abon bandeng yang dahulu sulit dipasarkan kini memiliki peluang lebih besar untuk terjual.
“Dengan kehadiran Mami Sera, penjualan menjadi lebih lancar dan omzet terus bertambah,” ujarnya.
Dampaknya terlihat pada nilai penjualan. Jika sebelumnya omzet abon bandeng terkadang hanya sekitar Rp500.000 per bulan, melalui pemasaran Mami Sera nilainya kini dapat mencapai Rp2,7 juta, bahkan lebih.

Bagi orang lain, angka itu mungkin hanya terlihat sebagai peningkatan omzet. Namun, bagi Isma, di baliknya ada kesempatan untuk melanjutkan produksi, mengembangkan usaha, dan menjaga harapan yang selama ini diperjuangkannya.
Ada satu hal yang membuatnya terus bertahan yakni pendidikan anak-anaknya.
“Saya ingin anak saya bisa kuliah. Dengan tambahan hasil bandeng ini, alhamdulillah dua anak saya bisa kuliah,” tutur Isma.
Kalimat itu seolah merangkum seluruh perjuangannya. Di antara aroma ikan dan bumbu yang memenuhi dapur, Isma tidak sekadar mengejar keuntungan. Ia sedang berusaha membuka pintu masa depan bagi kedua anaknya.
Setiap abon yang terjual membawa arti tersendiri. Ada hasil dari kerja keras yang akhirnya kembali, ada tambahan penghasilan bagi keluarga, dan ada harapan bahwa anak-anaknya dapat melangkah lebih jauh melalui pendidikan.
Bagi seorang ibu, keberhasilan bukan semata-mata ketika dagangan habis terjual. Ada kebahagiaan yang lebih dalam ketika hasil kerja tangannya dapat membantu anak-anak meraih cita-cita.
Ketekunan di Balik Setiap Kemasan
Untuk menghasilkan abon bandeng yang berkualitas, Isma harus memastikan setiap tahap dikerjakan dengan teliti. Bandeng dibersihkan, duri-duri kecil dipisahkan, lalu dagingnya diolah hingga siap disuwir. Setelah itu, daging dicampur dengan racikan bumbu, seperti bawang merah dan bawang putih. Cita rasanya disesuaikan dengan selera konsumen, mulai dari original hingga pedas.
Pekerjaan yang terlihat sederhana itu membutuhkan kesabaran. Duri yang tertinggal dapat mengurangi kenyamanan konsumen, sedangkan rasa dan kualitas menentukan apakah pembeli akan kembali.
Dahulu, proses pembuatan abon secara manual membutuhkan waktu hingga delapan jam. Kini, berkat dukungan peralatan pengolahan, prosesnya dapat diselesaikan sekitar tiga jam untuk lima kilogram bandeng yang diolah menjadi abon.
“Sekarang prosesnya jauh lebih cepat. Kalau dahulu bisa sampai delapan jam, tangan kami sampai pegal-pegal, karena membuat abon tidak boleh berhenti mengaduk agar tidak gosong.kini sekitar tiga jam untuk lima kilogram bandeng,” katanya.
Peralatan tersebut membantu Isma bekerja lebih efisien. Namun, pengalaman masa lalunya mengajarkan, produk yang baik tetap membutuhkan pasar. Tanpa pembeli, semua ketekunan itu belum tentu memberikan hasil yang diharapkan.
Karena itulah, ia ingin masyarakat Mangunharjo tidak hanya menjual hasil tambak dalam bentuk ikan segar. Bandeng dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
“Bandeng segar di kawasan itu dijual sekitar Rp35.000–Rp40.000 per kilogram, bergantung pada ukuran. Sementara bandeng presto dapat dipasarkan sekitar Rp100.000–Rp150.000 per kilogram dan abon bandeng mencapai Rp250.000 per kilogram,” ungkapnya.
Perbedaan harga tersebut menunjukkan peluang nilai tambah dari pengolahan hasil tambak. Meski begitu, biaya bahan baku, bumbu, tenaga kerja, kemasan, dan pemasaran tetap harus diperhitungkan untuk memastikan usaha berjalan berkelanjutan.
Bagi Isma, mengolah bandeng adalah cara untuk memaksimalkan potensi yang tersedia di kampungnya. Ia berharap semakin banyak warga berani mengembangkan usaha agar hasil tambak tidak hanya memberikan penghasilan sesaat, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas.
Perempuan Pesisir Terus Berjuang
Keinginan Isma tidak berhenti pada keluarganya sendiri. Ia ingin perempuan-perempuan Mangunharjo juga memiliki kesempatan untuk berkembang dan memperoleh penghasilan dari keterampilan yang mereka miliki.
Ia telah lama terlibat dalam kegiatan pemberdayaan perempuan. Isma pernah membantu menghubungkan perempuan dari keluarga nelayan melalui kelompok wanita serbaguna. Kegiatan tersebut berkembang menjadi gerakan bersama yang pernah meraih juara pertama tingkat nasional pada 1997.
Pengalaman itu menumbuhkan keyakinan bahwa perempuan pesisir memiliki kemampuan untuk bergerak maju apabila diberi kesempatan dan dukungan.
Melalui Pondok Mami Sera, singkatan dari Mangunharjo Mandiri Sejahtera, semangat tersebut memperoleh ruang yang lebih luas. Warga tidak hanya belajar mengembangkan produk, tetapi juga memiliki wadah untuk memasarkannya.
Bersama Koperasi Trengginas Jaya Abadi, Mami Sera menaungi berbagai produk warga, mulai dari abon bandeng, bandeng presto, otak-otak bandeng, bakso bandeng, hingga olahan telur asin dan produk pangan lainnya.
Ketua Koperasi Trengginas Jaya Abadi sekaligus pengelola Mami Sera, Utami Dewi, mengatakan jumlah anggota koperasi meningkat dari sembilan orang menjadi 27 orang.
“Yang tadinya kami belum punya wadah, sekarang sudah punya wadah. Ibu-ibu yang sebelumnya hanya di rumah, alhamdulillah tertarik bergabung dengan koperasi,” ujar Utami.
Kehadiran wadah tersebut membuat warga memiliki kesempatan untuk mengenalkan produknya kepada konsumen yang lebih luas. Mereka juga memperoleh pembinaan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengembangkan usaha.
“Alhamdulillah, produk kami semakin dikenal. Kami juga mendapatkan pembinaan dan pelatihan sehingga bisa terus belajar mengembangkan usaha,” katanya.

Koperasi pun mulai membangun tata kelola yang lebih teratur. Hingga kini, Koperasi Trengginas Jaya Abadi telah menyelenggarakan dua kali rapat anggota tahunan dan membagikan sisa hasil usaha kepada anggota.
Bagi perempuan seperti Isma, kebersamaan itu memberi arti penting. Ketika satu orang kesulitan mencari pasar, usaha bersama dapat menjadi jalan untuk saling menguatkan. Ketika peluang terbuka, manfaatnya tidak hanya dirasakan satu keluarga, tetapi juga warga lain yang ikut mengembangkan produk.
Menumbuhkan Harapan di Tengah Rob dan Abrasi
Perjuangan warga Mangunharjo berlangsung di kawasan pesisir yang menghadapi tantangan lingkungan. Rob dan abrasi menjadi ancaman bagi kehidupan masyarakat, termasuk mereka yang menggantungkan penghasilan pada tambak dan pertanian.
Pengembangan usaha warga merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah. Program ini bermula dari kegiatan penanaman mangrove pada 2022, kemudian berkembang melalui pemetaan sosial untuk mengenali persoalan dan potensi masyarakat.
Pendampingan selanjutnya diarahkan pada penguatan ketahanan pangan pesisir dan pengembangan sumber penghidupan warga, mulai dari sektor pertanian, tambak, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah.
Community Development Officer PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, Tria Baeti Setiadini, mengatakan pendampingan dilakukan untuk membantu masyarakat mengembangkan potensi lokal agar memberikan nilai tambah.
“Pendampingan kami diarahkan untuk membantu masyarakat mengembangkan potensi yang sudah ada, termasuk pengolahan hasil tambak dan penguatan usaha warga agar memiliki nilai tambah serta dapat meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujarnya.

Dukungan yang diberikan mencakup pelatihan, peralatan pengolahan ikan, serta pemanfaatan energi surya untuk mendukung kegiatan di Pondok Mami Sera dan Lumbung Mami Sera. Sistem energi surya tersebut berkapasitas 6 kilowatt-peak (kWp) dengan penyimpanan baterai 20 kilowatt-jam (kWh).
Pendampingan juga menjangkau kelompok petani dan pembudidaya ikan. Ketua kelompok, Bahrun, menyebut kelompok petani padi memiliki 47 anggota, sedangkan kelompok pembudidaya ikan beranggotakan 15 orang.
Menurut Bahrun, warga masih menghadapi tantangan berupa kebutuhan peralatan pengolahan lahan, ketersediaan benih, dan hasil tambak yang belum selalu sesuai harapan.
Berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa membangun ekonomi pesisir bukan pekerjaan yang selesai dalam sehari. Masyarakat membutuhkan dukungan berkelanjutan, mulai dari penguatan produksi hingga akses pemasaran, agar mampu mempertahankan usaha di tengah perubahan kondisi lingkungan.
Di tengah tantangan itu, kisah Isma memperlihatkan bahwa harapan dapat tumbuh dari hal-hal sederhana. Dari bandeng yang dibersihkan dengan teliti, dari abon yang perlahan menemukan pembelinya, hingga dari penghasilan yang membantu kedua anaknya menempuh pendidikan tinggi.
Isma mungkin tidak dapat menghentikan rob yang datang ke kampungnya. Ia juga tidak bisa memastikan bahwa perjalanan usahanya akan selalu mudah. Namun, ia memilih untuk terus bekerja, mengolah potensi yang ada, dan membuka peluang bersama perempuan-perempuan di sekitarnya.
Sebab, baginya, setiap kemasan abon bandeng bukan sekadar barang dagangan. Di dalamnya ada harapan seorang ibu, ada masa depan anak-anak yang ingin diperjuangkannya, dan ada keinginan agar perempuan pesisir memiliki kehidupan yang lebih baik.
Dari dapur sederhana di Mangunharjo, Isma merajut masa depan sedikit demi sedikit. Bukan dengan janji besar, melainkan dengan ketekunan yang tak berhenti, bahkan ketika pasar pernah membuatnya cemas dan keadaan tak selalu berpihak. (tya)
Comments are closed.