Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Kejar Pasokan Susu 100.000 Liter per Hari, DPRD Jateng Soroti Pakan hingga Rantai Dingin

METROJATENG.COM, SEMARANG — Jawa Tengah masih menghadapi tantangan besar untuk memenuhi kebutuhan susu masyarakat yang mencapai sekitar 100.000 liter per hari. Ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah, terutama Jawa Timur, membuat penguatan sektor peternakan sapi perah menjadi salah satu agenda penting pemerintah daerah.

Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Setya Arinugroho menilai upaya mengejar kemandirian pangan hewani tidak cukup hanya dengan mendatangkan investasi besar. Menurutnya, pembangunan industri peternakan harus dibarengi penguatan peternak lokal serta pembenahan sistem produksi hingga distribusi.

“Sebagai pimpinan dewan, kami memastikan dukungan penuh dari sisi regulasi dan fungsi penganggaran. Target kita jelas, Jawa Tengah harus mulai menekan ketergantungan suplai pangan hewani dari luar daerah,” katanya.

Ia menilai investasi berskala besar memang dibutuhkan untuk mendongkrak produksi susu. Namun, keberadaan industri besar harus tetap menempatkan peternak lokal sebagai bagian penting dari rantai usaha.

Salah satu proyek yang disiapkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berada di Kabupaten Brebes. Pemerintah menyiapkan lahan sekitar 710 hektare untuk pengembangan kawasan peternakan sapi perah terpadu.

Kawasan tersebut dirancang memiliki kapasitas hingga 30.000 ekor sapi perah. Dari pengembangan itu, produksi susu ditargetkan mencapai 180.000 ton per tahun atau sekitar 18 persen dari total produksi susu nasional.

Program tersebut dirancang menggunakan pola kerja sama inti-plasma. Kementerian Pertanian akan memfasilitasi kebutuhan bibit sapi, sedangkan perusahaan yang beroperasi di Brebes diwajibkan menggandeng peternak tradisional yang memiliki lebih dari 10 ekor sapi sebagai mitra atau plasma.

Bagi Setya Ari, pola kemitraan menjadi bagian penting agar pertumbuhan industri peternakan tidak hanya memberikan keuntungan kepada investor, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan peternak di daerah.

Caption Foto : Wakil Ketua DPRD Jateng, Setya Arinugroho. (Foto : Dok. Ist).

 

Bulukerto Jadi Contoh Peternakan Lokal

Selain proyek berskala besar di Brebes, DPRD Jateng juga mendorong pengembangan sentra peternakan yang sudah berjalan dan memiliki prospek ekonomi. Salah satunya berada di Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri. Kawasan di lereng gunung tersebut memiliki kondisi iklim yang dinilai mendukung pengembangan sapi perah.

Produksi susu segar dari peternak di Bulukerto selama ini terserap pasar. Tidak berhenti pada penjualan susu segar, masyarakat setempat juga mengembangkan produk olahan seperti susu siap minum dan es krim.

Setya Ari menilai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa peternak lokal di Jawa Tengah memiliki kemampuan untuk masuk ke ekosistem peternakan yang lebih modern.

“Keberhasilan peternak di daerah seperti Bulukerto menunjukkan bahwa sumber daya manusia kita sebenarnya sudah siap. Tinggal bagaimana kebijakan, investasi, teknologi dan akses pasar dipadukan,” ujarnya.

Menurutnya, pengembangan kawasan peternakan Brebes perlu berjalan beriringan dengan penguatan sentra-sentra peternakan rakyat di Wonogiri maupun kabupaten lainnya.

Di tengah besarnya target produksi, Setya Ari mengingatkan pemerintah agar tidak hanya berfokus pada pembangunan kawasan dan peningkatan jumlah sapi. Ada sejumlah risiko yang harus diantisipasi sejak awal.

Ia menyoroti sedikitnya empat aspek penting, yakni ketersediaan pakan dengan harga terjangkau, pencegahan penyakit, pengelolaan limbah, serta kesiapan rantai pasok susu.

“Kawasan terpadu dan target produksi yang masif ini tidak boleh abai dalam memitigasi risiko,” ujarnya.

Menurut Setya Ari, persoalan pakan harus menjadi perhatian utama karena biaya pakan dapat memengaruhi keberlangsungan usaha peternak. Ketersediaan hijauan maupun pakan konsentrat dengan harga terjangkau dinilai penting agar ekspansi industri tidak justru menekan peternak kecil.

Aspek kesehatan ternak juga tidak boleh diabaikan. Mitigasi penyakit mulut dan kuku (PMK), termasuk melalui vaksinasi, perlu diperkuat untuk menjaga produktivitas ternak.

Selain itu, pengelolaan limbah dari kawasan peternakan harus disiapkan dengan standar yang ketat. Pengelolaan yang buruk berpotensi menimbulkan pencemaran dan mengganggu lingkungan maupun sumber air warga.

“Untuk pakan harus ada jaminan ketersediaan hijauan atau konsentrat yang terjangkau agar tidak mematikan peternak kecil. Limbahnya harus dikelola dengan standar yang ketat agar tidak mencemari air warga nantinya. Kemudian mitigasi PMK dengan vaksinasi juga perlu diperkuat,” jelasnya.

Persoalan lain yang dinilai krusial adalah distribusi susu dari peternak menuju industri pengolahan. Kualitas susu segar sangat bergantung pada kecepatan dan sistem penyimpanan setelah diperah. Tanpa fasilitas pendingin yang memadai, susu berisiko mengalami penurunan kualitas sebelum sampai ke pabrik.

Karena itu, pembangunan infrastruktur cold chain atau rantai dingin harus masuk dalam perencanaan pengembangan peternakan Jawa Tengah.

Salah satu fasilitas yang dinilai penting adalah milk cooling chiller di tingkat Koperasi Unit Desa (KUD). Infrastruktur tersebut dapat membantu menjaga kualitas susu sebelum dikirim ke industri pengolahan.

Kondisi jalan dari sentra peternakan menuju lokasi pengolahan juga harus diperhatikan. Infrastruktur jalan yang buruk dapat memperlambat distribusi dan meningkatkan risiko kerusakan produk.

“Yang jarang sekali diperhatikan adalah rantai pasoknya. Bagaimana memastikan kualitas hasil peternakan, seperti susu ini tetap terjamin sampai ke pabrik pengolahan, agar seluruh hasil produksi benar-benar terserap baik,” imbuhnya.

Setya Ari menegaskan, target pemenuhan kebutuhan susu Jawa Tengah sebesar 100.000 liter per hari membutuhkan lebih dari sekadar investasi. Penguatan peternak lokal, jaminan pakan, kesehatan ternak, pengelolaan limbah hingga rantai dingin harus dibangun secara bersamaan. (**)

 

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.