Setya Arinugroho Dorong Smart Farming Ubah Lahan Kritis Jadi Sumber Ekonomi
METROJATENG.COM, SEMARANG – Lahan kosong dan tidak produktif di Jawa Tengah dinilai masih menyimpan potensi besar untuk menjadi sumber pangan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Setya Arinugroho, mendorong agar lahan-lahan tersebut dioptimalkan melalui konsep pertanian terpadu berbasis teknologi atau smart farming.
Salah satu model yang kini menjadi perhatian adalah program Revolusi Lahan atau Revola Jateng Optimis di Desa Susukan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara. Program percontohan tersebut mengubah lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal menjadi kawasan produktif yang mengintegrasikan pertanian, perkebunan, peternakan, hingga perikanan.
Setya Arinugroho berharap keberhasilan program Revola di Banjarnegara nantinya dapat direplikasi di seluruh 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah.
Menurutnya, langkah tersebut bukan hanya berkaitan dengan peningkatan produksi pangan, tetapi juga menjadi strategi untuk memperluas kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan warga desa, dan mempercepat pengurangan angka kemiskinan.
Potensi tersebut dinilai sangat besar mengingat Jawa Tengah selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi padi Jawa Tengah pada 2024 mencapai 8,89 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), menjadikan provinsi ini sebagai salah satu produsen padi terbesar di Indonesia.
Selain pertanian, sektor peternakan juga memiliki peran besar dalam menopang ekonomi masyarakat. Subsektor ini mampu menyerap lebih dari 800 ribu tenaga kerja di Jawa Tengah dengan produksi daging yang mencapai puluhan ribu ton setiap tahunnya.
Bagi Setya Arinugroho, potensi besar tersebut perlu dikembangkan dengan pola yang saling terhubung. Integrasi pertanian, peternakan, perkebunan, dan perikanan diyakini dapat menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar dibandingkan pengelolaan sektor-sektor tersebut secara terpisah.
Gagasan itu kemudian diwujudkan melalui dukungan terhadap Revola Jateng Optimis yang menjadikan Desa Susukan sebagai lokasi percontohan.
“Alhamdulillah kami dari DPRD bisa mempersamai Pak Gubernur untuk menghadiri peresmian Revolusi Lahan di Kabupaten Banjarnegara. Ada beberapa hal yang mungkin perlu nanti kita dorong agar bisa diduplikasi di seluruh kabupaten dan kota yang ada di Jawa Tengah,” tuturnya.

Pemberdayaan yang Langsung Sentuh Masyarakat
Ia menilai Revola merupakan salah satu bentuk pemberdayaan ekonomi yang dapat langsung menyentuh masyarakat, terutama petani di wilayah pedesaan.
“Karena ini adalah salah satu upaya kita untuk memberikan pemberdayaan ekonomi kepada seluruh masyarakat, khususnya bagi masyarakat petani. Karena ini adalah integrasi antara pertanian, peternakan, perkebunan, dan juga perikanan,” ujarnya.
Setya Ari berharap pola pengelolaan seperti ini dapat memberikan dampak nyata terhadap percepatan penanganan kemiskinan di Jawa Tengah.
“Kita harapkan dengan adanya pola-pola seperti ini dapat menjadi langkah percepatan penanganan dan pengurangan kemiskinan,” tegasnya.
Di Desa Susukan, program Revola dikembangkan di atas lahan seluas kurang lebih 10 hektare. Kawasan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara maksimal itu kini telah ditanami berbagai komoditas yang memiliki nilai ekonomi.
Berbagai tanaman seperti kopi, alpukat, padi, hingga komoditas hortikultura dikembangkan dalam kawasan tersebut. Aktivitas pertanian itu kemudian dipadukan dengan peternakan ayam dan kambing serta pengembangan sektor perikanan.
Konsep tersebut membuat satu kawasan memiliki berbagai sumber produksi sekaligus. Selain memperkuat ketersediaan pangan, masyarakat juga memiliki peluang memperoleh pendapatan dari beragam komoditas.
Pengembangan Revola juga memperhatikan aspek lingkungan. Pohon kopi dan alpukat yang ditanam di kawasan tersebut tidak hanya diharapkan menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga berfungsi membantu menjaga kondisi tanah dan menahan risiko erosi.
Hal lain yang menjadi perhatian Setya Ari adalah keterlibatan generasi muda. Pengelolaan kawasan Revola di Banjarnegara melibatkan petani-petani muda yang mulai mengadopsi teknologi pertanian modern.
Teknologi seperti pesawat tanpa awak atau drone hingga sistem penyiraman otomatis telah digunakan untuk membantu pekerjaan di lahan. Pemanfaatan teknologi tersebut membuat proses pengelolaan pertanian menjadi lebih cepat, efisien, dan mengurangi kebutuhan tenaga untuk pekerjaan tertentu.
Menurutnya, penerapan smart farming sekaligus menunjukkan bahwa sektor pertanian tidak lagi harus dipandang sebagai pekerjaan tradisional yang tertinggal dari perkembangan zaman.
“Keterlibatan generasi muda dengan dukungan teknologi membuktikan bahwa sektor pertanian bisa dikelola dengan cara yang lebih maju. Ini sekaligus menjadi solusi untuk menekan angka pengangguran di desa,” tambahnya.
Ia menilai keterlibatan anak muda menjadi salah satu kunci keberlanjutan sektor pertanian dan peternakan di masa depan. Dengan dukungan teknologi, sektor pangan diharapkan mampu menjadi pilihan pekerjaan yang lebih menarik sekaligus menjanjikan secara ekonomi.
Keberhasilan Revola Banjarnegara pun diharapkan tidak berhenti sebagai proyek percontohan. Setya Arinugroho mendorong pemerintah daerah di seluruh Jawa Tengah untuk melihat potensi lahan kosong maupun lahan tidak produktif yang dapat dikembangkan dengan pola serupa.
Setiap daerah, menurutnya, dapat menyesuaikan jenis komoditas dengan karakteristik dan potensi wilayah masing-masing. Dengan demikian, pengembangan Revola tidak harus memiliki bentuk yang sama, tetapi tetap mengusung prinsip utama berupa optimalisasi lahan, integrasi sektor pangan, pemberdayaan masyarakat, dan pemanfaatan teknologi.
“Jika seluruh daerah bisa memanfaatkan lahan kosong mereka seperti di Banjarnegara, kita akan memiliki ketahanan pangan yang kuat di Jawa Tengah. Harapannya, kesejahteraan masyarakat desa juga akan semakin merata,” pungkasnya. (**)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.