Karding: Barantin Percepat Layanan Ekspor, Biosecurity Tetap Tak Bisa Ditawar
Ekspor Jateng Tembus 119 Negara, Nilai Capai Rp10,9 Triliun
METROJATENG.COM, SEMARANG – Badan Karantina Indonesia (Barantin) mendorong percepatan layanan ekspor dan impor komoditas pertanian serta perikanan tanpa mengurangi pengawasan terhadap ancaman penyakit dan hama. Percepatan layanan menjadi bagian dari transformasi Barantin untuk mendukung pelaku usaha Jawa Tengah menembus pasar global.
Kepala Barantin, Abdul Kadir Karding mengatakan, masukan pelaku usaha menjadi penting untuk memastikan layanan karantina mampu mengikuti dinamika perdagangan internasional. Hal itu disampaikan Karding dalam Forum Penjaringan Aspirasi Masyarakat (Jaring Asmara) pelaku usaha ekspor dan impor di Kantor Karantina Jawa Tengah, Semarang, Sabtu (22/8/2026).
“Kegiatan ini bertujuan mendengarkan langsung masukan, tantangan di lapangan, dan kebutuhan pengusaha demi meningkatkan kualitas pelayanan karantina,” ujar Karding.
Menurutnya, salah satu fokus pembenahan adalah menghadirkan layanan yang lebih cepat dan efisien melalui penguatan sistem digital. Barantin juga memperkuat pendampingan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta mendorong standardisasi fasilitas tindakan karantina.
*Biosecurity Tetap Jadi Fondasi*
Karding menegaskan, percepatan layanan tidak berarti mengurangi standar keamanan hayati atau biosecurity. Sistem karantina tetap harus memastikan komoditas yang keluar maupun masuk Indonesia memenuhi persyaratan kesehatan dan keamanan hayati serta ketentuan negara tujuan.
“Barantin bertindak sebagai penjaga perbatasan ekonomi sekaligus fasilitator perdagangan. Kami mengawal peningkatan mutu produk, pemenuhan standar sanitari-fitosanitari atau SPS negara tujuan, ketertelusuran, hingga hilirisasi komoditas ekspor,” katanya.
Dengan pendekatan tersebut, karantina tidak seharusnya dipandang sebagai hambatan bagi pelaku usaha. Karantina justru menjadi bagian dari rantai perdagangan untuk memastikan produk Indonesia memiliki kualitas, keamanan, dan ketertelusuran yang dibutuhkan ketika memasuki pasar internasional.
“Barantin berkomitmen terus memfasilitasi perdagangan dengan memberikan pelayanan secara optimal dan responsif terhadap dinamika bisnis internasional,” ujarnya.
Menurut Karding, pendekatan tersebut sangat penting bagi UMKM yang baru mulai memasuki pasar ekspor. Pelaku usaha tidak cukup hanya memiliki produk yang diminati pasar, tetapi juga harus memenuhi persyaratan teknis negara tujuan, menjaga konsistensi mutu, serta memastikan produk dapat ditelusuri.
*Ekspor Jateng Tembus 119 Negara*
Besarnya potensi ekspor Jawa Tengah tercermin dari data sistem sertifikasi BEST TRUST (Barantin Electronic System for Transaction and Utility Service Technology). Sepanjang Januari-Juli 2026, komoditas asal Jawa Tengah telah menjangkau 119 negara dengan total 14.960 sertifikat ekspor dan nilai sekitar Rp10,9 triliun.
Komoditas unggulan ekspor sektor hewan antara lain sarang burung walet, kulit kambing, kulit sapi, bulu bebek, dan pupuk. Sementara sektor ikan meliputi cumi-cumi, ikan tenggiri, udang vaname, ikan kerapu, dan ikan kakap.
Adapun komoditas tumbuhan yang menjadi unggulan ekspor Jawa Tengah antara lain kayu lapis, kayu albasia, furnitur, bunga melati segar, dan kayu veneer. Data tersebut menunjukkan besarnya potensi komoditas daerah untuk terus menembus pasar global.
Salah satu komoditas yang menunjukkan perkembangan adalah gula merah produksi UMKM Jawa Tengah. Berdasarkan data BEST TRUST, sepanjang Januari-Juli 2026 gula merah asal Jawa Tengah telah rutin diekspor ke 43 negara.
Sepuluh negara tujuan ekspor gula merah tersebut antara lain Amerika Serikat, Jerman, Belanda, Inggris, Yunani, Australia, Peru, Kanada, Belgia, dan Meksiko. Capaian tersebut dinilai perlu terus didorong dengan peningkatan kualitas produk dan pemahaman pelaku usaha terhadap persyaratan pasar internasional.
“Jaring Asmara bukan sekadar nama, melainkan komitmen institusi untuk merangkul masyarakat usaha dengan pendekatan yang humanis, inklusif, dan transparan,” kata Karding.
Ia menegaskan, Barantin akan menggunakan masukan dari pelaku usaha sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki layanan di lapangan. “Keandalan sistem biosecurity nasional harus tetap terjaga tanpa harus mengorbankan kelancaran arus logistik perdagangan internasional,” pungkasnya.(*)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.