Mahasiswa Undip Ciptakan RECULA, Inovasi Pengolahan Sampah Terintegrasi Menuju Kemandirian Energi
METROJATENG.COM, SEMARANG- Mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) kembali menorehkan prestasi melalui Program Kreativitas Mahasiswa Video Gagasan Konstruktif (PKM-VGK). Tim mahasiswa berhasil memperoleh pendanaan dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Dalam program tersebut, tim mengusung gagasan bertajuk “Inovasi Sistem Kawasan Pengolahan Sampah Terintegrasi Berbasis Ekonomi Sirkular dan Valorisasi sebagai Tahapan Menuju Kemandirian Energi Indonesia 2045” dengan menghadirkan inovasi bernama RECULA.
Salah satu anggota tim, Muhammad Rafly Andika Putra, mengatakan RECULA lahir dari keprihatinan terhadap persoalan pengelolaan sampah di Indonesia yang masih didominasi metode penimbunan. Menurutnya, persoalan sampah tidak hanya berhenti pada tumpukan limbah, tetapi juga memicu pencemaran lindi, mikroplastik, emisi gas rumah kaca, hingga belum optimalnya pemanfaatan limbah sebagai sumber energi.
“Melalui RECULA kami ingin menghadirkan konsep kawasan pengolahan sampah yang mampu mengubah limbah menjadi sumber daya bernilai sekaligus mendukung terwujudnya kemandirian energi Indonesia,” ujarnya.
RECULA dirancang sebagai kawasan pengelolaan sampah terpadu yang mengintegrasikan berbagai teknologi dalam satu ekosistem berbasis ekonomi sirkular. Sistem ini mengolah lindi menggunakan teknologi anaerobic digestion untuk menghasilkan biogas sebagai energi terbarukan, melakukan remediasi sungai melalui penyaringan bertingkat guna mengurangi pencemaran dan mikroplastik, serta memanfaatkan panas biogas untuk mengolah limbah plastik menjadi eco paving block yang memiliki nilai ekonomis.
Tak hanya itu, residu hasil pengolahan akan diproses melalui fitoremediasi sehingga dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk maupun sumber energi sekunder. Seluruh proses tersebut dirancang saling terhubung agar pemanfaatan limbah menjadi lebih maksimal tanpa menyisakan residu yang terbuang.
Selain menawarkan solusi teknologi, RECULA juga mengedepankan konsep ekonomi sirkular dengan melibatkan pemerintah, akademisi, industri, hingga masyarakat. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mengubah kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dari sekadar lokasi pembuangan menjadi pusat pengolahan limbah yang menghasilkan energi dan nilai ekonomi.
Implementasi RECULA direncanakan berlangsung selama lima tahun. Tahap awal difokuskan pada pengembangan prototipe dan pengujian sistem, dilanjutkan integrasi seluruh modul, penyusunan standar operasional, hingga replikasi konsep di berbagai TPA di Indonesia.
Dengan pendekatan modular dan pemanfaatan teknologi berbasis potensi lokal, inovasi ini diharapkan dapat diterapkan sesuai karakteristik masing-masing daerah.
Tim menilai RECULA sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat pembangunan berkelanjutan, meningkatkan pengelolaan sampah nasional, mempercepat transisi energi bersih, serta mendukung terwujudnya target Indonesia Emas 2045 melalui kemandirian energi dan penguatan ekonomi sirkular.
Tim PKM-VGK penggagas RECULA terdiri atas Naurah Safa Labibah, Muhammad Rafly Andika Putra, Aulia Keyla Chairunisa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Faishal Rahman Irawan dari Fakultas Teknik, serta Loisa Margaret Ambarita dari Fakultas Sains dan Matematika. Tim didampingi dosen Yohanes Thianika Budiarsa, S.I.Kom., MGMC.
Sebagai tindak lanjut, tim akan memproduksi video edukasi mengenai konsep RECULA dan menyebarluaskan gagasan tersebut melalui berbagai media agar inovasi pengelolaan sampah terintegrasi berbasis ekonomi sirkular ini dapat menjadi referensi transformasi TPA di Indonesia menuju sistem yang lebih ramah lingkungan dan mandiri energi.(ris)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.