METROJATENG.COM, SEMARANG – Peralihan dari kendaraan berbahan bakar minyak menuju kendaraan listrik tidak selalu harus dilakukan secara drastis. Di tengah masih berkembangnya infrastruktur pengisian daya dan beragam kebutuhan konsumen, teknologi plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) hadir sebagai jembatan menuju mobilitas yang lebih ramah lingkungan.
Inilah yang menjadi dasar pengembangan teknologi Dual Mode (DM) oleh BYD. Teknologi tersebut menggabungkan keunggulan motor listrik, baterai berkapasitas besar, serta mesin bensin yang bekerja secara cerdas sesuai kebutuhan berkendara.
Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, menjelaskan bahwa secara global kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV) mencakup dua kategori utama, yakni kendaraan listrik murni (Battery Electric Vehicle/BEV) dan plug-in hybrid (PHEV).
“BYD telah mengembangkan teknologi kendaraan energi baru selama lebih dari 20 tahun. Secara global, penjualan kami sudah melampaui 16 juta unit dengan komposisi yang hampir seimbang antara kendaraan listrik murni dan kendaraan plug-in hybrid,” ujarnya.
Menurut Luther, teknologi DM dirancang untuk menghilangkan kekhawatiran konsumen yang belum sepenuhnya siap beralih ke kendaraan listrik murni. Berbeda dengan hybrid konvensional yang masih sangat bergantung pada mesin bensin, sistem DM lebih mengutamakan penggunaan tenaga listrik.
Pada kondisi normal, kendaraan bergerak menggunakan motor listrik yang mendapat pasokan energi dari baterai. Saat membutuhkan tenaga tambahan, seperti ketika menanjak atau berakselerasi tinggi, mesin bensin akan bekerja membantu sistem penggerak. Mesin juga dapat berfungsi sebagai generator untuk mengisi ulang baterai secara otomatis.
Keunggulan lainnya terlihat saat kendaraan melaju di jalan menurun. Sistem regenerative braking memungkinkan energi yang biasanya terbuang saat pengereman diubah menjadi listrik dan disimpan kembali ke baterai.
“Karena itulah konsumsi bahan bakarnya bisa sangat efisien. Saat perjalanan Semarang hingga kawasan kaki Gunung Merbabu misalnya, penggunaan bensin sangat minim karena kendaraan lebih banyak bergerak menggunakan tenaga listrik,” jelasnya.
Efisiensi tersebut didukung oleh teknologi inti yang dikembangkan sendiri oleh BYD, yakni e-Platform 3.0 dan Blade Battery. Platform khusus kendaraan listrik ini dirancang untuk menghadirkan efisiensi, keamanan, kecerdasan sistem, serta fleksibilitas desain kendaraan.
Sementara Blade Battery menjadi salah satu inovasi andalan BYD. Struktur baterai yang disusun langsung dalam satu paket tanpa banyak ruang kosong membuat kepadatan energi lebih tinggi sekaligus meningkatkan aspek keselamatan.
Tak hanya menawarkan efisiensi energi, BYD juga mengklaim biaya perawatan kendaraan DM lebih rendah dibandingkan mobil konvensional. Salah satu indikatornya adalah jam kerja mesin yang tercatat melalui sistem HSD (Hybrid System Distance). Karena mesin tidak selalu aktif selama kendaraan berjalan, interval dan biaya perawatan menjadi lebih ringan.
BYD menyebut biaya perawatan kendaraan DM dapat lebih hemat hingga sekitar 30 persen dibanding kendaraan berbahan bakar bensin murni.
Untuk mendukung layanan purna jual, BYD telah memiliki lebih dari 100 jaringan dealer di Indonesia yang dilengkapi fasilitas servis dan suku cadang. Selain itu tersedia layanan call center 24 jam serta garansi kendaraan yang cukup panjang.
Garansi kendaraan mencapai enam tahun atau 150 ribu kilometer, sedangkan baterai, motor listrik, dan sistem penggeraknya mendapat perlindungan hingga delapan tahun atau 160 ribu kilometer.
Dengan kombinasi efisiensi bahan bakar, teknologi listrik yang dominan, serta dukungan mesin bensin sebagai cadangan tenaga, BYD menilai teknologi DM menjadi solusi transisi yang ideal bagi masyarakat Indonesia menuju era kendaraan listrik sepenuhnya. (*)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.