Petani Kentang Lereng Gunung Prau Keluhkan Harga Murah dan Minimnya Akses Pupuk Bersubsidi
METROJATENG.COM, TEMANGGUNG — Petani kentang di lereng Gunung Prau, Desa Wates, Kecamatan Wonoboyo, Temanggung, berharap harga jual kentang dapat membaik di tengah meningkatnya biaya operasional pada musim hujan. Selain itu, mereka meminta pemerintah memberikan akses pupuk bersubsidi sebagaimana yang diterima petani komoditas lain di wilayah Temanggung.
Marliyah (60), salah satu petani kentang setempat, mengungkapkan bahwa harga kentang di tingkat petani saat ini hanya berada pada kisaran Rp9.000 per kilogram. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan harga normal yang biasanya mencapai Rp11.000–Rp12.000 per kilogram, bahkan bisa menyentuh Rp15.000 per kilogram pada kondisi terbaik.
“Biasanya setelah panen, kentang kami bawa pulang dahulu. Pengepul datang mengambil ke rumah. Tapi sekarang harganya rendah sekali, padahal kualitas kentang bagus,” ujarnya.
Menurutnya, musim hujan justru membuat biaya produksi meningkat. Petani harus mengeluarkan dana lebih besar untuk perawatan tanaman akibat maraknya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Dalam setahun, lahan satu hektare milik Marliyah mampu menghasilkan tiga kali panen dengan total sekitar 2,5 ton per panen. Sebagian hasil panen biasanya dibiarkan di lahan untuk dijadikan benih musim berikutnya.
Karena itu, ia berharap harga kentang bisa naik ke rentang Rp12.000–Rp15.000 per kilogram agar petani mampu menutup biaya produksi. Selain itu, ia juga mendorong pemerintah memberikan pupuk bersubsidi bagi petani kentang di wilayah tersebut.
Belum Pernah Terima Pupuk Bersubsidi
Ketua Forum Masyarakat Wates Bersatu, Setyoko, mengungkapkan bahwa petani kentang di Desa Wates hingga saat ini belum pernah mendapatkan akses pupuk bersubsidi. Petani terpaksa mengandalkan pupuk non-subsidi yang harganya jauh lebih mahal, selain memanfaatkan pupuk kandang.
“Pupuk sangat diperlukan petani. Selama ini semua beli non-subsidi. Kami berharap Pemkab Temanggung dapat mengusulkan agar petani kentang mendapat pupuk bersubsidi,” tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, Bupati Temanggung Agus Setyawan menjelaskan bahwa pemerintah pusat tidak memasukkan kentang sebagai komoditas yang berhak menerima pupuk bersubsidi. Hal itu mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 10 Tahun 2022 tentang tata cara penetapan alokasi dan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi.
Menurut peraturan tersebut, pupuk bersubsidi hanya diberikan untuk komoditas tertentu seperti cabai, bawang merah, dan bawang putih.
“Saya sudah pernah menyampaikan langsung ke Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Kentang memang tidak termasuk tanaman yang mendapat pupuk bersubsidi karena dinilai bukan tanaman untuk konservasi lahan,” ujar Agus.
Ia menambahkan, jika petani setempat ingin tetap mendapatkan pupuk bersubsidi, mereka perlu menanam komoditas yang telah ditetapkan dalam aturan tersebut.
Comments are closed.